4

521 106 23
                                        

Beberapa hari terakhir ini, Renja resah. Ada sesuatu yang berubah dari Naresh. Biasanya setelah makan malam, anak itu akan diam di kamar, sibuk dengan hal-hal kecilnya. Tapi akhir-akhir ini Naresh malah sering menghilang.

Bukan curiga, sebenarnya. Renja lebih tepatnya khawatir. Apalagi setelah Bintang pernah bilang, Naresh punya riwayat asma akut. Kalau serangannya kambuh sementara dia tak selalu membawa obat cadangan, itu bisa bahaya.

Maka malam ini, Renja mengendap-endap di koridor, ditemani Haidar dan Bintang. Mereka bertiga mengikuti langkah Naresh dari jauh. Karna lagi-lagi Naresh selalu keluar di jam yang sama, jam 12 malam.

Kenapa dia ke lantai lima, sih?” Renja berbisik, merasa heran. Setaunya Naresh tak punya teman di lantai ini.

“Dia nggak pernah punya temen di sini kan?” tambah Haidar pelan, sambil ngemut lolipopnya.

Narwsh berhenti di ujung lorong. Wajahnya berbinar, seperti bertemu seseorang.
“Yan!!”

Renja membelalak mata sekaligus mencengkra pundak Haidar sampai Haidar meringis pelan. Di hadapan mereka, lorong itu kosong. Tidak ada siapa-siapa.

"Halusinasi? Tapi setau gue, Naresh gak punya penyakit kayak gitu," pikir Renja cemas.

Haidar bahkan sampai hampir saja menggigit lidahnya, matanya membulat. Ia jelas kaget, tapi memilih diam.
Sementara Bintang justru menunduk, wajahnya muram. Nama itu... Yandra. Ada sesuatu yang terasa familiar. Dia yakin pernah mendengarnya tetapi entah di mana.

Seketika, pandangan mereka bertiga kembali ke depan untuk melihat apa yang Naresh lakukan di depan sana.
Naresh—hilang.

“Lah?! Naresh mana anjir?!” Renja spontan bersuara. Kosong. Tidak ada bayangan, tidak ada langkah menjauh.

Bintang sudah lebih dulu berlari ke koridor tempat Naresh berdiri tadi. Ia menyisir pandangan ke kiri dan kanan, mencari petunjuk apa pun. Sial. Tidak ada jejak.

Haidar yang biasanya cuek kini tampak pucat. Bibirnya gemetar. “N-Naresh n-nggak mungkin masuk kamar ini, kan, guys?”

Tangannya gemetar saat menunjuk sebuah pintu.

Renja dan Bintang sontak ikut menoleh ke arah yang Haidar maksud.

Pintu itu berdiri di hadapan mereka. Catnya sudah kusam, nomornya nyaris terkelupas, tapi jelas terbaca:

KAMAR 302.

Ruangan yang seharusnya kosong.
Ruangan yang seharusnya tidak dibuka lagi.

Bintang mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Sial. Gak mungkin, kan?”

Kamar 302Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang