Haidar sebenarnya sudah sangat ketakutan.
Tapi rasa setia kawannya lebih besar. Jadi di sinilah dia sekarang: berdiri di depan pintu kamar yang ditakuti seluruh penghuni asrama. Bahkan sekadar lewat pun mereka enggan.
Namun ragu tiba-tiba menyergap, penyesalan ikut menempel. Kenapa dia gak ngajak Renja atau Bintang tadi? Kenapa malah nekat sendiri dengan nyali pas-pasan begini?
Jujur aja, dari semua sahabatnya, Haidar yang paling penakut. Tapi entah kenapa, justru sekarang dia merasa cuma dirinya yang bisa nyelametin Naresh. Apalagi mengingat Bintang tak percaya sama hal-hal mistis.
Begitu tangannya menyentuh knop pintu itu, hawa dingin langsung membekap. Keringat dingin pun jatuh tanpa sadar.
Krieeet.
“AAAAAA!!” Haidar menjerit heboh, pintu terbuka seolah dibuka dari dalam, dan dia langsung tancap gas alias lari secepat yang dibisa. Napasnya terengah, nyawanya serasa hampir terbang. Padahal sekilas kamar itu rapi—tapi hawa tak enak menguar, disusul bau busuk yang merasuk sampai ke otaknya.
Siswa lain yang kebetulan berpapasan? Lewat aja, tak dipeduliin. Haidar cuma punya satu tujuan: ketemu Renja dan Bintang, sekarang juga.
Tapi sebelum sempat jauh, dia sempat lihat—sekilas—Naresh berdiri di depan pintu. Ada sosok menakutkan yang sedang memegang pundak temannya itu.
Doa terus dirapal sambil kaki tetap menghantam lantai. Rasa takutnya gak berkurang sama sekali.
“HUWAAA! GUE TAKUT!! PENGEN EEK YA TUHAN!!!”
Brak!
Pintu tertutup kembali. Dari celahnya, terlihat seringai menakutkan.
Naresh yang masih berdiri di sana menoleh ke arah sosok di sebelahnya, bingung. “Yan, temen gue kok lari gitu sih?”
Yandra cuma tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia tahu pasti ada sesuatu yang membuatnya terlihat seram di mata Haidar.
“Mungkin kaget liat seringainya Benji, Na.”
“Ohh~”
Benji yang merasa diserang langsung menggerutu, “Sialan, kenapa jadi gue lagi!”
Ia berjalan ke kasur, memilih rebahan daripada ribut sama Yandra.
“Eh? Kok lo manggil gue Na?” tanya Naresh tiba-tiba.
Yandra melirik, jeda sebentar. “.... Emang gak boleh?”
Naresh malah senyum sumringah. “Enggak kok! Gue seneng, hehehe.”
Di sisi lain Haidar akhirnya sampai di lorong lain dengan napas tersengal, wajah pucat, dan rambut berantakan kayak habis dikejar debt collector.
“Woi, kenapa lo kok kayak orang abis liat setan?” Renja menatapnya curiga, sementara Bintang tak mau mempedulikan keadaan Haidar karna tak sehari dua hari Haidar muncul dalam keadaan kayak sekarang, dan memilih sibuk ngemil keripik.
“Karena gue emang habis lihat setan, Ren!!” Haidar teriak, hampir nangis.
Bintang berhenti mengunyah, alisnya terangkat. “Setan? Atau lo yang halu gara-gara kebanyakan begadang?”
“HALU PALA LO, NYET! Gue beneran lihat Naresh berdiri di depan pintu itu, lo tau kan maksud gue... terus ada sosok aneh... serem banget sumpah! Pegang-pegang pundak Naresh lagi!” Haidar gemetar, tangannya sampai menunjuk ke arah lorong.
Renja langsung pasang wajah serius, tapi bukan karena percaya. Dia justru kayak menahan tawa. “Jadi intinya lo kabur ninggalin Naresh sendirian sama ‘setan pegang pundak Naresh’ itu?”
“Bukan gitu! Gue mau nolong, tapi ya gimana, gue takut. Gimana kalo nyawa gue yang dipegang sama setan itu, Ren!”
Bintang menaruh bungkus keripik, bersandar santai. “Kalau itu beneran setan, harusnya lo udah kesurupan sekarang. Tapi kenyataannya? Lo cuma keringetan doang.”
Haidar langsung meledak, “GAK SEMUA ORANG LIHAT SETAN LANGSUNG KESURUPAN YA!? Astaga Ntang, sumpah, lo tuh parah banget! Naresh lagi dalam bahaya tau gak!”
Renja akhirnya angkat tangan. “Udah-udah, gini aja. Kalau Haidar beneran lihat sesuatu, ya kita cek bareng. Kalau ternyata kosong, berarti dia halu. Setuju?”
Bintang mengangguk santai. “Fine. Tapi kalau kosong, Haidar cuci piring seminggu.”
“APAAN?! Gue udah trauma, masa dihukum lagi!”
“Deal.” Renja menepuk bahu Haidar sambil nyengir. “Ayo, penakut, kita selametin Naresh.”
Haidar masih gemetar, tapi ikut juga, meski di dalam hati sudah menyesal mau ngajak dua orang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamar 302
HorrorSiapa yang menduga kalau ending dari cerita akan berakhir begitu menyedihkan?
