Dua hari lagi pelajaran baru akan dimulai. Asrama masih sepi, hanya diisi beberapa siswa yang datang lebih cepat. Mulai tahun ini sekolah membuat aturan baru, yaitu mewajibkan siswanya tinggal di asrama. Tiap kamar diisi 2-3 orang siswa. Naresh dan Bintang termasuk di antaranya. Alasannya sederhana: kalau kelamaan di rumah, mereka takut makin malas balik ke sekolah.
Brak!
"HALO TEMANKU~!"
Baru saja merebahkan diri di kasur, Naresh terlonjak kaget mendengar pintu kamar terbuka kasar. Sementara itu, Bintang hanya berdecak kesal, buru-buru menutup kepala dengan bantal agar kebisingan itu sedikit teredam.
"Berisik banget sih, Dar. Mana Renja? Tumben banget kalian gak nempel kayak perangko." keluh Naresh sekaligus celingak celingkuk mencari seseorang.
Haidar sudah duduk santai di pinggir kasur, sambil membuka snack yang sejak datang sudah didekap. "Ada, lagi beresin buku-buku barunya."
Setelah merapihkan kamar dan malampun akhirnya datang, asrama terasa lengang. Hanya terdengar suara kipas angin berputar malas dan jangkrik dari luar jendela. Lampu koridor redup, sebagian berkedip seolah kehabisan tenaga. Naresh sudah meringkuk lagi dengan selimut, ngantuk yang sudah tidak tertahankan, Haidar masih sibuk main Handphone sambil ngakak sendiri, dan Bintang duduk di tepi ranjang menatap kosong lantai, sekarang dia merasa bosan karna sudah tidak mengantuk. Renja sudah kembali dan selesai membereskan buku-buku yang dibawanya. Kini seperti biasa, tenggelam dalam buku.
"Eh, kalian sadar nggak?" suara Haidar mendadak serius.
Naresh melirik setengah sadar. "Apa lagi sih, Daaaarr???"
"Tadikan, pas gue ke pantry, gue lewat tuh di depan kamar 302. Aneh banget anjir lampunya nyala. Padahal udah lama dibiarin kosongkan?"
Ruangan langsung hening.
"Lah, kan katanya kamar itu dikunci," gumam Renja, alisnya terangkat.
"Makanya gue bingung. Gue udah sering lewat situ, biasanya gelap. Tapi tadi tuh bener-bener terang. Gue yakin," ucap Haidar sambil menekankan kata terakhir.
Naresh mendengus, berusaha menutupi pikiran anehnya. "Paling pak pengawas kali yang hidupin. Atau lagi dicek aja lampunya masih bagus apa enggak."
"Eh nggak mungkinlah! Pak pengawas mana mau serandom itu masuk ke kamar bekas orang bunuh diri," balas Haidar cepat.
Bintang yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara. "Kalau bener ada yang masuk, berarti udah ada yang tinggal di sana sekarang."
Nada suaranya datar, tanpa ekspresi. Mencoba memikirkan alasan paling logis.
Naresh menelan ludah, kantuknya mendadak menghilang apalagi saat Haidar kembali bercerita dengan wajah serius, "tapi ya kalau rumor itu bener... Kasian penghuni barunya, kan katanya itu kamar banyak bikin anak-anak pada gak betah"
"Emangnya iya?" Tanya Renja penasaran tapi sengaja berbicara dengan suara pelan. Haidar sudah mengangguk, bahkan Bintang juga ikutan.
Lampu kamar mendadak berkelip sekali. Haidar langsung meloncat ke kasur Naresh sambil nyengir dipaksakan. "HAHA lucu banget, kan? Gue bercanda tadi. Bercanda doang, bro."
Renja menimpuk Haidar dengan bantal, kesal dia.
Tapi tidak ada yang tertawa, karna dari wajah Haidar saja tak menunjukkan ekspresi bercanda, justru ketakutan.
Di luar, dari arah koridor, samar-samar terdengar bunyi pintu berderit. Lalu...
tok...tok... tok...
Tiga ketukan pelan. Seperti mengetuk pintu kamar mereka.
Mereka saling pandang. Tak ada yang berani bergerak.
"Eh..." suara Bintang bergetar. Naresh yang tadinya ngantuk sekarang sudah tak mengantuk dan beranjak dari kasur dan membuka pintu. Kepalanya terlihat seperti mengedarkan pandangan kemudian menutup pintu lagi.
"Gak ada siapa-siapa." Ucapnya kemudian kembali ke posisi awal. Lalu Naresh melanjutkan perkataannya. "Bicara soal kamar itu. Gue denger katanya pas libur kemarin ada siswa yang hilang."
Bintang langsung mengerutkan dahi. "Hah? Kok bisa?" Naresh mengangkat bahunya, pertanda tidak tahu informasi lebih lanjut.
"Gue denger sih katanya emang kamar itu angker." Haidar mendekat, suaranya diturunkan setengah nada. "Katanya penunggunya nggak suka kalau kamarnya ditempati. Konon dulu, dia bunuh diri di kamar itu...hiiii~"
Bintang meringis. "Anjir! Terus gimana? Kok bisa dia nggak suka ada orang lain?"
Pertanyaan itu bikin Haidar terdiam. Ia sebenarnya nggak tahu detailnya. Baru saja ia mau mengalihkan topik, suara lain tiba-tiba menyela dari pintu.
"Setau gue, anak itu korban bully."
Bintang, Naresh dan Haidar menoleh. Ternyata Renja sudah berdiri di ambang pintu, menenteng beberapa buku. Ekspresinya serius.
"Sampai sekarang orang-orang masih nggak ngerti kenapa dia milih ngakhirin hidupnya," lanjut Renja pelan. "Soalnya meski dia dibully, sehari-harinya biasa aja. Nggak pernah nunjukin tanda-tanda aneh."
Ruangan mendadak hening.
Sampai akhirnya suara berat Bintang terdengar dari balik bantal. "...Mungkin nggak sih kalau dia dibunuh?"
Ketiganya sontak menatap Bintang.
"H-hah? Dibunuh?" Haidar menelan ludah.
Bintang perlahan menyingkirkan bantal dari wajahnya. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar. "Ya... nggak ada yang tahu, kan?"
Renja hanya diam, lalu mengajak Haidar kembali ke kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kamar 302
TerrorSiapa yang menduga kalau ending dari cerita akan berakhir begitu menyedihkan?
