6. Contrariety

200 26 1
                                        

Selama sesaat Li Tian Jin tak bergeming. Awalnya dia sempat meragukan perkataan Xing Jiu dan menduga jangan-jangan mereka menjebaknya, tetapi kemudian dia merasa Xing Jiu tidak mungkin menipunya. Watak pemimpin Dreamer Tribe itu tidaklah licik, apalagi Ka Suo yang memerintahkannya. Lagipula, Xing Jiu takkan berani mati mencelakai adik kesayangan raja-nya sendiri.

Meskipun Li Tian Jin tidak mau mengakui dirinya sebagai Ying Kong Shi, dia menyadari bahwa Xing Jiu masih memperlakukannya sebagai Pangeran Ice Tribe dan menghormatinya.

Meski begitu, Li Tian Jin merasa bahwa sebenarnya Ka Suo pasti sudah nyaris memberikan penawar untuk mengembalikan Spiritual Power-nya jika tidak dicegah Xing Jiu. Ka Suo pasti merasa bersalah karena telah berbuat kurang ajar pada adiknya dan akan bersedia melakukan apa saja untuk menebusnya, sementara Xing Jiu pasti menguatirkan keselamatan sang raja, karena itu kemungkinan besar Xing Jiu-lah yang mengusulkan kepada Ka Suo agar tidak memulihkan Spiritual Power Li Tian Jin untuk sementara sampai Li Tian Jin memutuskan untuk meninggalkan wilayah kekuasaan Ice Tribe.

Meskipun ingatannya hilang, samar-samar Li Tian Jin merasa mengenali jalan disini, lorong-lorong dan tangga-tangga, koridor-koridor dan pintu-pintu di Istana Es. Tidak semuanya dia ingat, tapi dia merasa akan bisa menemukan jalan ke Illusion Sky Chamber atau ke kamar Ka Suo.

Menunggu di penjara agaknya akan jadi sangat membosankan. Karena itu Li Tian Jin memutuskan untuk meninggalkan penjara. Dia tidak terkejut menyadari para pengawal Ice Tribe tidak berpatroli di lorong yang dilewatinya. Pasti Ka Suo sudah bisa menduga jalan mana yang akan dilalui adiknya dan menyuruh Xing Jiu mengusir semua pengawal di lorong-lorong serta koridor yang akan dilalui adiknya itu.

Karena itu, dia sama sekali tidak terkejut saat dilihatnya tidak ada pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Ka Suo yang mewah. Dia mendorong pintu itu terbuka dan melangkah masuk. Seperti dugaannya, Ka Suo menunggunya di dalam sendirian.

"Sebenarnya aku tidak yakin kau akan kesini atau ke kamarmu." Sapa Ka Suo, sedang berdiri membelakangi pintu kamarnya dan menengok, "Tapi aku tahu kau takkan langsung pergi dari sini."

"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" Tanya Li Tian Jin.

"Karena aku kakakmu." Jawab Ka Suo, "Dan aku tahu di dalam hati kecilmu ada naluri alami untuk mengunjungi dua tempat yang sejak dulu selalu menjadi tempatmu disini."

"Ini bukan tempatku." Sahut Li Tian Jin, tapi tak kuasa menahan dorongan hatinya untuk memandang seisi ruangan ini. Samar-samar dia merasa mengenali kamar ini, terasa akrab, dan saat ini pun tak ada yang berubah disini.

"Ini adalah tempat favoritmu yang paling sering kau kunjungi di istana ini sejak kau kecil." Tegas sang kakak, "Kamarku."

Ucapan Ka Suo membuat adiknya bungkam sesaat. Meskipun Li Tian Jin tidak ingat, hati kecilnya berbisik bahwa ucapan Ka Suo itu benar. Meski begitu, detik berikutnya, sebuah suara lain bergaung dalam pikirannya.

Dia mencoba menipumu!

"Jangan mencoba mempengaruhiku!" Li Tian Jin menggertak gigi, "Kau membunuh aku. Kalau memang ucapanmu itu benar bahwa aku suka datang ke kamarmu waktu dulu, itu hanya bisa berarti satu hal; yaitu.. aku pernah menganggapmu saudaraku, tapi bagimu aku bukan saudaramu!"

Perkataan itu membuat Ka Suo menghela nafas berat. "Kau takkan percaya apa pun yang kukatakan. Terserah padamu saja, Shi. Kau boleh pergi dari tempat ini kalau kau mau, dan kau juga boleh tetap disini kalau itu membuatmu senang."

"Berikan penawar untuk mengembalikan Spiritual Power-ku!" Tuntut sang adik sebagai jawabannya, "Lalu kita bertanding secara jujur."

"Aku ingin memberimu itu, tapi itu tak ada padaku." Sahut Ka Suo dengan ekspresi menyesal. Mata birunya menatap adiknya, tidak menyembunyikan kepalsuan maupun kebohongan.

"Bagaimana bisa tak ada padamu?" Balas Li Tian Jin, "Maksudmu ada pada Huang Tuo dan Yue Shen? Keduanya adalah abdimu yang setia! Kau hanya tinggal menyuruh mereka memberikannya padamu!"

"Itu sudah kulakukan saat Xing Jiu membuka pintu penjara untukmu." Jawab sang kakak, "Tapi ayahku mendahuluiku." Ekspresinya tampak menyesal, "Huang Tuo tidak berani melawan perintah ayahku dan terpaksa memberikan penawar satu-satunya padanya."

"Ayahmu sangat menyayangimu." Balas Li Tian Jin, "Dia akan memberimu apa pun yang kau mau!"

Sebagai balasan, Ka Suo menatap adiknya dengan wajah lelah. "Shi, apa kau tak ingat? Meskipun Ayah sangat mencintaiku, Ayah sangat mementingkan negeri ini, rakyat kita, dan dunia mortal." Ucapnya, "Ayah tahu aku akan memberikannya padamu, karena itu dia tidak mau memberikannya padaku."

Li Tian Jin mendengus dan menjawab, "Tentu saja aku ingat. Ayahmu tak pernah menganggapku anaknya. Sejak kecil dia ingin aku mati."

"Tidak! Kau salah!" Bantah sang kakak, "Ayah memang agak dingin padamu, tapi dia tidak pernah mengharapkan kematianmu!"

"Apa maksudmu dengan agak dingin?! Dia sangat dingin padaku. Samar-samar aku ingat, dia sangat tidak senang saat aku yang memenangkan tahta, mengalahkan putera kesayangannya." Tukas sang adik pula.

"Shi, berhentilah berprasangka pada Ayah." Bujuk kakaknya.

"Satu hal lagi, dia bukan ayahku." Balas Li Tian Jin, "Dan kau bukan kakakku!"

Pernyataan dari adik kesayangannya itu membuat hati Ka Suo terasa sakit sehingga sejenak dia jadi terdiam, mata birunya menatap ke bawah, alisnya bertaut dalam kegundahan. Dia sadar sesuatu mempengaruhi adiknya, tapi dia tak yakin apa itu. Yang pasti, watak adiknya sangat keras kepala dan takkan mau mendengarkan ucapan orang yang dianggap musuh baginya.

Ka Suo mengangkat tatapannya lagi untuk memandang wajah belia adiknya yang membalas tatapannya dengan dagu terangkat.

"Baiklah, menjelaskan apa pun padamu takkan ada gunanya." Gumam Ka Suo, "Kau ingin penawar untuk memulihkan sihirmu? Baiklah, aku akan mendapatkannya untukmu, aku janji."

Ekspresi adiknya berubah, menjadi campuran antara rasa senang, penasaran, geli, sekaligus menghina; semuanya seperti memantulkan nyala api di sepasang mata carnelian yang indah itu. "Semudah itu?" Gumamnya.

"Apa maumu?" Balas sang kakak dengan lelah, merasa bahwa perdebatan antar saudara ini akan berujung panjang.

"Entahlah, aku hanya merasa kau tidak akan membiarkanku pergi semudah itu." Sahut adiknya, "Aku tidak percaya padamu."

Tapi aku percaya padamu!  Balas Ka Suo dalam hati. Di luarnya dia menjawabnya, "Kau mau menahanku? Tukarlah dengan Li Luo dan Lan Shang."

Li Tian Jin tak menjawab, maka sang kakak berusaha membujuknya lagi, "Kau dendam padaku. Anggaplah aku yang membunuh dirimu dan ibumu serta merebut tahta yang seharusnya jadi milikmu. Bawa aku pergi, kau boleh menyiksaku semaumu. Tapi lepaskan Li Luo dan Lan Shang. Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada mereka berdua?"

Adiknya masih tampak ragu-ragu, maka Ka Suo membujuknya dengan summon The Deicide di tangannya, lalu memberikannya kepada sang adik. "Gunakan ini di leherku untuk mengancam ayahku agar memberikan penawar Spiritual Power-mu padamu."

...

* OOC.

maaf ya, untuk next chapter dan sesudahnya, ratingnya M. ada bagian yang mungkin tidak akan disukai pembaca karena mengandung unsur pornografi tanpa pornoaksi. ^^'



Redemption 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang