Lembar Ketigabelas: Pagelaran Seni

115 18 37
                                        

April, 2016

Hari yang aku tunggu telah tiba. Hari dimana Renata bisa menunjukkan kembali bakatnya, dan hari dimana Renata menunggu pesona seorang Jinendra yang baru. Iya, hari ini pagelaran pentas seni tahunan SMA BINAS dimulai.

Pukul 7 pagi acara telah dimulai. Riuh suara penonton yang menikmati acara pensi sudah terdengar hingga ruang padepokan. Karena padepokan ini ada di lantai 2, kami bisa menonton pensi dari sini. Teamku sudah selesai berias dan berganti kostum namun Kak Intan melarang kami turun ke bawah karena jadwal tampil kami nanti siang. Daripada kami kepanasan lebih baik kami disini terlebih dahulu. sedangkan team Galang sudah turun sejak 5 menit yang lalu.

Ketika aku sedang mengulang gerakan tarianku di depan kaca, aku melihat dari pantulan kaca Kak Ino datang dengan raut muka cemasnya.

Melihat kekasihnya cemas, Mbak Sena pun langsung menghampiri Kak Ino. “Ada apa No?”

“Gawat susunan acara diubah, ayo semua kumpul sini!” perintah Kak Ino dan kami segera berkumpul.

"Roundown acaranya ganti, jadi yang awalnya team Renata jam 10 udah tampil jadi geser dan team gua sendiri dimajuin, soalnya buat penyambutan kepala sekolah SMA sebelah. Jadi gue minta kita saling bantu ya? bantuin temen-temen gue siap-siap, mereka udah otw kesini kok”

Benar saja, tak lama kemudian Aji dan kawan-kawannya tiba di padepokan. Kak Ino dan satu orang berusia lebih tua dari Kak Ino yang baru saja aku tau bernama Kak Bayu terlihat begitu kelabakan mengatur persiapan mereka.

Sebenarnya persiapan Kak Ino tidak terlalu ribet. Mereka hanya memakai seragam sekolah biasa dan sedikit sentuhan make up tipis. Tapi yang namanya terburu-buru mau gimana lagi? Meskipun kami menyuruh rileks tapi tetap saja mereka tetap gugup. Dari yang awalnya mereka santai memantapkan koreo di rumah Kak Bayu, sekarang harus terburu-buru karena perubahan roundown acara.

Mbak Sena menyuruhku untuk membantu dia merias kawan-kawan Kak Ino. Kak Ino meminta riasan tipis dengan tambahan seperti luka di wajah. Aku sempat mengernyit, sebenarnya konsep seperti apa yang akan dibawakan Kak Ino dan kawan-kawannya? Seragam sekolah dan luka diwajah? Maksudnya, mereka tawuran?

"Nat make up in gue yang cakep pokoknya" ujar Aji ketika aku tengah memoles tipis bedak di pipi gembilnya. Aku hanya merotasikan mataku.

Begitu tahu aku membantu Mbak Sena merias, langsung saja Aji datang padaku untuk meminta dirias. Padahal awalnya aku ingin merias Jusuf. Si paling muda di grub dengan behel di gigi yang menggemaskan.

"Mau gue make up in jadi badut malahan" jawabku sambil tetap memoles bedak pada pemuda itu.

"Yang bener dong Nat, nanti kalo gue diketawain pas tampil gimana?"

"Ya ngga papa" mendengar jawabanku Aji langsung menekuk wajahnya. "Ih bibirnya biasa aja ngga usah gitu, mau gue kasih lipgloss!" ujarku pada Aji yang masih menekuk wajahnya.

"Ngga mau, Nata nakal sama Aji!" kata pemuda itu dengan nada bicara dibuat seperti anak kecil.

"Ngga usah sok imut, cepetan Ji! Keburu lo tampil" perintahku dan pemuda itu menurut saja ketika aku memoleskan lipgloss itu ke bibir merah mudanya.

"Udah nih tinggal gambar bekas luka, enaknya dimana ya?" kataku sambil memandang wajah Aji yang semakin tampan karena polesan make up tipis karyaku.

"Terserah deh mau dimana, asal jangan disini. Gue ngga mau lo lukain hati, karena dihati gue selalu ada lo" ucap Aji sembari menunjuk dadanya dan aku hanya menghela nafas.

"Gombal terus, mau gue bikin luka asli di pipi lo?!" sarkasku.

"Sadis amat mbak" aku hanya terkekeh sambil tetap melihat wajah Aji. Memindai dimanakah sebaiknya aku menggambar luka di wajah tampan milik pemuda tupai itu. Aku berhenti sejenak ketika memandang alis indah milik Aji.

Lembar Kenang Bersama JinendraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang