05. ASING DAN USANG

149 30 125
                                        


cerita usang bersama
orang asing. sudah terkemas
tapi paksa diburai kembali.
dua asa baru saja diadili
dalam parade
lara hati.❞

: : niskalaaa_ : :

serapah langit penuh umpah abu-abu, sudah biasa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


serapah langit penuh umpah abu-abu, sudah biasa. namun apa jadinya kalau awan mendung itu turut bertandang jauh di daya kapita? enggan menyangkal, semenjana terjadi sejak beberapa menit lalu pada saya.

musababnya ialah dia, dayana. teruni yang saya biarkan meringsak perasa dengan cuma-cuma. ada yang bilang bucinisme sudah merajalela, memang! dasar erlangga.

Kau pernah menjadi pusat semestaku
Segalanya kuberikan
Sekarang kita hanya dua orang asing
Dengan sejuta kenangan

petikan dawai belum usai saya serukan, dihantam senandung dayana yang telak menumpu teruna sang bahagia lama dalam bingkai tatapan. bumi surabaya, mereka saling berjumpa sedang saya hanya pengamat sendirian.

menggulir netra ke seluruh kepala yang memerhati penampilan kami, sejenak menghela. saya menyadari kegugupan sebelumnya sudah hirap, menguap digulung udara.


Kau yang terbaik
Juga terburuk
Kau yang mengajari
Arti patah hati


kalau boleh semesta, saya ingin bisa menusuk mata teruna itu yang tak henti memandang dayana. tapi saya bisa apa? sekedar insan minim kuasa. ah, pertunjukan ini kapan selesainya?!

Kau beri harap
Lalu kau pergi
Garis waktu takkan mampu
Menghapusmu

sehabis mendekap riuh tepuk tangan yang agaknya sengaja dielukan, jua beberapa komentar guru berupa penilaian. akhirnya kami bisa keluar dari sana. pengap aula yang dipenuhi populasi kelas sebelah, baik adam maupun hawa.

























































"lang, kamu tau ngga? tadi cewe-cewe ngeliatin kamu terus, lho." kata dayana, saya diam. menjadikan gitar dan selindungnya sebagai alibi kesibukan.

sembari terus menggerus pijak tungkai, saya berusaha mumpuni dalam hal menggendongnya di bahu kanan. maaf, sebab autentik hati masih digadang kebakaran. ada yang mau membantu memadamkan?

"memangnya kamu liat?" tanya saya, mencoba bersikap biasa.

dia mengangguk— tapi dayana, kamu harus tahu bahwasanya gumpalan pembawa hujan itu singgah ke angan saya tanpa mau repot mengetuk. saya inginnya mereka pergi saja sebelum amarah kian berkecamuk.

Sedia PeluangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang