BK 23

21.4K 1.1K 354
                                    

"Berjanjilah kepada saya untuk tetap bertahan hingga tahap selanjutnya, karena kau akan tau semuanya pada hari itu".
Rangga

________________________________________

Hari sudah mulai gelap. suara hewan bersahutan dan hawa dingin mulai menusuk kulit seorang wanita yang sedang berusaha menjadi tangguh karena keterpaksaan.

Sakit dan lelah, hanya itu yang ada dalam pikiran wanita itu. Kaki kecilnya selalu dipaksa untuk melangkah agar tidak tertinggal dan menjadi makanan hewan buas.
Ia hanya bisa merengek kepada pria disampingnya dengan harapan pria itu akan menggendongnya lagi. Lumayan lah, selain tidak kesakitan juga tidak kelelahan.

Tanpa dia sadari, pria yang ia bayangkan telah menghentikan langkahnya, beberapa saat kemudian dia telah menyusul dengan sepatu yang sudah ada ditangannya.

"Pakai" ucap Adnan dengan memberikan sepatunya.

"Kalau Maurine pakai ini terus tenten gimana? Nanti kakinya sakit loh".

"Tidak akan, kalaupun nanti kaki saya sakit setidaknya saya tidak merengek dan menganggu orang lain".

Maurine menghentikan langkahnya dan memasang sepatu yang sangat amat kebesaran itu, namun apa boleh buat karena hanya ini satu-satunya kesempatan untuk menyelamatkan kaki indahnya. Ralat, sekarang sudah tidak indah karena kapal dan berbagai luka sudah bertengger padanya.

Ingin rasanya Maurine berteriak untuk perhatian yang telah Adnan berikan sampai ia rela berjalan tanpa alas kaki. Namun Maurine sadar bahwa sikap pria itu tak lebih dari sikap seorang kakak yang tidak ingin adiknya kesakitan.

Tanpa disadari, tengah malam telah tiba.

Akhirnya mereka dapat sejenak melemaskan sendi yang sedari tadi sudah meminta beristirahat.

Malam begitu sunyi dan awan gelap sengaja menutupi sinar sang rembulan. Mungkin malam ini alam merasakan apa yang ia rasakan, seakan tau bahwa ada hati yang sedang kelabu. Memandang tanpa arah merupakan kegemarannya saat ini. Merasakan hembusan angin malam yang menusuk kulit hingga menyapa tulang.

"Tak apa walaupun akhir cerita ini berakhir tidak seperti apa yang ku bayangkan, jika dia ditakdirkan bukan untukku setidaknya aku masih bisa memandangnya walau dengan status yang berbeda".

"Tuhan... Hamba ingin engkau menjawab semua ini. Bukannya hati ini tak sakit dan bukannya hati ini tak hancur, bukan pula hati ini tak perih, namun hanya kepasrahan yang mengiringi"

Langit gelap telah menjadi saksi keterpurukan seorang insan lemah yang sedang bertanya diantara kebelingsatan hidupnya.

"Apa yang sedang adik pikiran?" Suara halus itu memecahkan lamunannya.

"Kak Rangga, enggak kok".

"Mari makan dulu".

Setelah makan, Maurine melihat para siswa yang hendak melakukan penyamaran. Tanpa tunggu lama ia segera mengambil madu dan memakannya sedikit jauh dari tempat latihan karena sesuai pesan Rangga yaitu jangan sampai Adnan mengetahui ini. Maurine melihat latihan itu seolah-olah sedang menonton film bioskop action.

Tanpa ia ketahui ada sepasang mata sedang mengawasinya.
"Tuhan, terimakasih engaku telah melupakan kesedihannya"

Waktu telah menunjukkan pukul 00:00, ini artinya ia harus tidur. Walaupun telah diajarkan cara tidur ala militer, Maurine tetap tidak bisa terbawa pada alam tidurnya karena seperti merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi.

Ia mulai bersenandung dalam hati agar yang lain tidak terganggu dengan suaranya. Namun tiba tiba,

"Srek srek srek"
Maurine mendengar suara daun kering yang bergesekan dengan sesuatu. Dengan segera ia mengambil senter dan berjalan melangkahi beberapa siswa yang sedang tidur.

"Aaaaaaaaa"
Sontak semua terbangun dari tidurnya karena suara melengking yang bersumber dari mulut Maurine.

"Silahkan, kalian boleh makan" ucap salah seoran pelatih.

"Terimakasih Maurine" ucap salah seorang siswa putri.

Tunggu, bahkan Maurine baru sadar jika ada perempuan diantara mereka. Sepertinya ia harus berkenalan dengan wanita itu untuk kelanjutan tugasnya.

Maurine mulai membuka note hijaunya dan menuliskan beberapa pertanyaan yang akan ia tujukan kepada wanita itu. Wanita tangguh tanpa keraguan dalam hidupnya. Setelah itu ia memutuskan untuk tidur dan bangun nanti saat hendak kembali berjalan.

Terasa baru beberapa menit ia tertidur, eh sudah dibangunkan oleh Rangga.
"Sudah waktunya kembali bertempur".

Skip 250 km

Waktu demi waktu mereka lalui dengan berbagai macam rasa yang ada baik pada jiwa maupun raga. Disitu pula Adnan dan Rosyid mulai mencemaskan keadaan Maurine yang semakin lemah. Walaupun dia sudah diperlakukan istimewa (menurut Adnan), bagaimana tidak istimewa jika yang lain 3 hari berjalan beratus-ratus kilo meter hanya dengan makanan seadanya seperti tumbuhan dan minum seadanya, Maurine mendapat makanan kaleng dari Adnan. Namun tetap saja wanita itu terlihat lemah karena tak pernah terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Rangga mulai kasihan melihat wanita disebelahnya sudah berjalan dengan tubuh yang mulai membungkuk tanda kelelahan. Ia berinisiatif untuk membantunya, namun ia malas jika harus menggendong seperti Adnan pada hari lalu.

"Klotak kresek kresek"
Suara Rangga mematahkan ranting pohon dan membuang dedaunan pada ranting yang telah ia patahkan tadi dan diberikan kepada Maurine untuk dijadikan tongkat.

"Semangat, aku tau kau malas berjalan karena tak ada pemandangan kesukaanmu" ucap Rangga memecah keheningan untuk memberi semangat pada Maurine, karena kedua orang tampan penyemangat Maurine sedang berada di barisan depan.

"Pak Rangga, ada ada aja"

Semua kembali hening setelah Rangga memilih tidak membalas perkataan Maurine. Ia hanya berpikir dalam diam, memberi tau sekarang atau nanti.

"Maurine"

"Iya?"

"Berjanjilah kepada saya untuk tetap bertahan hingga tahap selanjutnya, karena kau akan tau semuanya pada hari itu".

"Tentang apa?"

"Kenyataan yang membuatmu semakin merasakan hidup yang sesungguhnya. Jangan bertanya lagi, gunakan sisa tenagamu untuk berjalan".

Maurine hanya bisa melihat Rangga dengan penuh tanda tanya. Apa maksud dari ucapan pria itu? Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Holaaaa
Maurine kembaliiii
Jangan lupa vote dan komen❤️

Bersamamu kaptenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang