Prolog

1.4K 119 9
                                        

Hai semua.
Cerita Edward-Nada ini saya repost ulang dengan alur yang berbeda. Semoga suka.

Thanks and happy reading all.

...

PLAKK.

Suara tamparan keras mengaung seantero ruangan yang memang sedari awal hening tak banyak suara.

Rasa panas di pipi akibat tamparan Sang Ayah dihiraukannya. Sadar Ia pantas mendapatkan itu. Ini bukan sebuah pembelajaran agar tak diulangi. Tapi respon kecewa atas apa yang telah diperbuat oleh anak semata wayang mereka.

"Ada salah kami dalam mendidikmu, Ed?!"

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan yang telah Ia dapat sebelumnya. Tidak juga melebihi keramnya kedua kaki karena terlalu lama berlutut.

Bisu. Itulah penggambaran yang tepat untuk kondisi Edward saat ini. Enggan untuk membuka suara karena tahu apapun yang keluar dari bibirnya takkan ada arti.

Penyesalan adalah hal  yang paling mendominasi hati dan pikirannya saat ini. Ribuan kata maaf bergumul dalam kepala walau tak kunjung terucap.

"Apa Papa pernah mengajarimu jadi bajingan seperti sekarang ini, Ed?!" Lagi ngilu karena ucapan itu terasa menusuk. Selaras dengan tongkat kayu Sang Ayah yang menekan dada.

"DIMANA AKAL SEHATMU SAAT MELAKUKANNYA?!" Suara itu bergetar begitupun dangan tubuhnya yang mulai limbung efek rasa marah yang tak tertahankan.

Atmosfer ruangan terasa begitu menyesakkan seolah pasokan oksigen terus berkurang seiring dengan amarah Sang Kepala Keluarga yang semakin tak terbendung.

"Pah, tenang. Papa bisa drop nanti." Akhirnya ada yang berani bersuara. Irene menyentuh lengan Sang Suami.

Bagai disiram air es di tengah kemarau, Steve melunak. Mundur selangkah untuk duduk di Sofa. Murkanya mereda walau keinginan untuk memukuli Sang Anak masih begitu kuat.

Irene duduk di samping Steve dengan tenang. Lebih tepatnya mencoba untuk tenang. Mata tajam dan elegan itu menyorot sedih dan penuh kecewa pada Sang Putra yang kini tengah berlutut.

"Bertanggung jawablah, Ed." Singkat tapi mampu membuat Edward mengangkat kepala.

"Nikahi Nada." Bukan hanya Edward, tapi dua orang lain ikut menoleh pada Irene.

"Nggak bisa, Mam." Pria tiga puluh enam tahun itu akhirnya membuka suara tak setuju dengan pernyataan Ibunya.

Berbeda dengan Edward yang langsung menolak, Steve hanya diam dan mengamati. Pasalnya setiap titah Irene itu mutlak bagi keluarga mereka. Lihatlah sejauh mana Edward bisa mengelak dari titah Sang Ibu.

Gesture Irene tetap tenang tapi matanya menyorot tajam, "Kamu memperkosanya, Ed!"

"AKU MENYESAL!" Geram Edward. "Aku juga menyesal, Mam. Amat sangat menyesal. Jika tahu akan berakhir seperti ini, Aku nggak akan datang ke party-nya Vincent dan pulang dalam keadaan teler lalu tanpa sadar melakukannya. Aku sungguh menyesal." Tangannya mengacak rambut frustasi.

"Tapi bukan begini bentuk penebusan dosaku, Mam."

"Baik." Tenang sekali jawaban Irene membuat Steve menyandarkan punggungnya ke sofa. Istrinya terlampau tenang dan itu bukan pertanda baik.

"Serahkan diri kamu ke Polisi. Tebus dosamu sesuai hukum negara ini."

Steve hanya diam tak bereaksi apapun, sudah menduga Istrinya akan berkata seperti itu.

Pra-NadaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang