6 bulan lalu
"Jadi umurmu berapa?" Edward menilai penampilan gadis di hadapannya secara terang-terangan tak peduli jika dinilai tidak sopan. Karena yang berhak menilai sekarang adalah dirinya sang tuan rumah. Sang calon majikan.
"22 tahun pak."
Edward mengangguk sembari membaca daftar riwayat hidup gadis di hadapannya. "Yakin bisa kerja? Saya nggak mau mempekerjakan orang sembarangan."
"Saya sudah terbiasa bekerja Pak. Bapak tidak perlu khawatir jika saya tidak profesional." Jawab gadis mungil di hadapannya lugas. Tak gentar dengan mata elang calon majikannya.
"Kamu kuliah?" Tanya Edward yang dibalas anggukan oleh gadis itu. "Bagaimana kamu bisa me-manage waktu untuk bekerja disini dan kuliah?"
"Saya akan membersihkan apartment bapak sebelum pergi kuliah dan melanjutkannya kembali setelah pulang kuliah. Saya jamin saat bapak pulang bekerja tempat tinggal bapak dalam keadaan bersih dan rapih." Gadis itu mencoba meyakinkan, ia sangat membutuhkan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya kedepan.
"Jadi kamu akan bolak balik?"
"Iya pak."
"Kamu tinggal dengan orang tua?"
"Saya ngekos pak."
Edward mengangguk tak tega melihat wajah putus asa gadis yang tengah duduk dengan tangan saling menggenggam satu sama lain seolah sedang memberi kekuatan pada dirinya sendiri. "Baiklah masa percobaan kamu 3 bulan. Jika pekerjaanmu oke saya akan memperpanjang kontrak kamu." Walaupun hatinya terenyuh tapi bisnis tetap bisnis, Edward tidak mau mengeluarkan uangnya secara sia-sia hanya karena rasa kemanusiaan. Ia seorang pengusaha sudah menjadi hal mutlak untuk menimbang setiap untung dan ruginya.
"Terima kasih pak. Saya akan bekerja sebaik mungkin."
"Disini ada tiga kamar. Satu kamar pribadi saya dan satu lagi ruang kerja. Kamu bisa pakai kamar sisanya untuk tempat kamu tidur selama bekerja disini. Jadi kamu tidak usah bolak balik kesini."
"Terimakasih banyak, Pak." Ujung bibir pria itu sedikit naik saat melihat senyum merekah gadis dihadapannya. Sebahagia itu kah dia mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal gratis.
"Siapa nama kamu?"
"Insyira Nada. Bapak bisa memanggil saya Nada." Ucap Nada kembali memperkenalkan diri karena Sang Majikan rupanya tidak begitu jelas mengingat namanya.
"Baik Nada. Saya akan memberikan gaji sesuai dengan yang tertera di kontrak. Saya juga akan memberikan uang bulanan untuk kamu membeli bahan makanan dan keperluan rumah ini. Tolong jujur dan bijak dalam menggunakannya. Tolong jaga kepercayaan saya. Dan tolong saling menjaga privasi satu sama lain." Edward menekankan dua kalimat terakhirnya karena ia sangat tidak suka dengan orang yang tidak jujur serta hal-hal yang bersifat privasi.
"Sesuai kontrak, kamu akan dapat gaji empat juta setiap tanggal satu, sekaligus dengan uang belanja kebutuhan makan dan rumah ini sebesar sepuluh juta. Saya ingin setiap kamu belanja kebutuhan rumah, kwitansi belanjanya disimpan dan kasih ke Saya." Mungkin terdengar perhitungan, tapi bagi Edward ini adalah langkah awal apakah gadis dihadapannya bisa dipercaya apa tidak.
"Baik Pak. Mungkin nanti saya akan rincikan juga setiap pembelanjaan. Saya report dan lampirkan bukti pembayarannya."
Alis Edward sedikit naik karena tak mengira akan mendapat jawaban seperti itu. Ia seperti sedang melakukan wawancara dengan staff perusahaan. Tapi make sense juga mengapa jawaban barusan keluar dari mulut Nada karena yang pria itu baca dari CVnya, gadis itu berkuliah di universitas top. Jadi sudah pasti logika berfikirnya tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pra-Nada
Roman d'amour*REPOST* Insyira Nada dan Edward Pranadipa adalah dua makhluk Tuhan yang seharusnya tidak pernah bersua karena perbedaan yang terlalu mencolok dalam segala hal. Hidup mereka bagai bumi dan langit dengan beribu jarak tak kasat mata. Kejadian kelam sa...
