Terhitung tiga bulan sudah Nada bekerja di apartmentnya. Tak banyak yang berubah dengan gadis itu masih sama seperti hari pertama bekerja. Pakaian belel dan juga kerudung yang tak pernah lepas dari kepala.
Bukan Edward ingin melihat Nada tanpa kerudung, hanya berfikir apakah gadis itu tidak pernah keramas karena saat sudah mandi pun hijab itu masih menempel. Taat sekali pikirnya. Biasanya yang ia tahu walaupun para ART diluar memakai jilbab, tapi saat bekerja dan sudah lumayan lama, mereka akan membuka jilbabnya karena merasa sudah seperti rumah sendiri. Terlebih apa tidak merepotkan bekerja dengan pakaian tertutup seperti itu.
Terkutuklah cara berpikir Edward karena sepanjang hidupnya selalu dikelilingi wanita yang tak terlalu memikirkan apa itu aurat. Sebenarnya tak ada yang salah selagi hidup mereka tidak merugikan orang lain. Tapi karena sekarang ada anomali di rumahnya, yang benar-benar menjaga apa yang boleh dan tidak untuk dilihat. Jadi, kepalanya secara otomatis membandingkan.
Walaupun kini dirinya tinggal dengan seorang wanita-katakanlah seperti itu, tapi Edward tak merasakan tanda-tanda itu. Seharusnya, parfum beraroma manis khas gadis muda menguar di apartmentnya atau terdapat flat shoes di rak sepatu, itu semua tak pernah ada. Hanya ada satu pasang sepatu keds yang sama belelnya dengan baju-baju gadis itu.
Hal yang sama juga berlaku pada sikap Nada yang tidak berubah sama sekali. Entah sifat dasarnya pendiam dan pemalu sehingga membuat gadis itu tak akan membuka suara jika bukan sesuatu yang sangat mendesak dan ditanya terlebih dulu.
Edward harus bertanya terlebih dahulu baru Nada berbicara dan itupun jawaban-jawaban singkat yang seringkali membuatnya jengkel. Awalnya tak terlalu berpengaruh, karena interaksi mereka pun hanya saat sarapan dan makan malam saja. Tak ada yang berubah dalam aktivitas hariannya. Masih pergi pagi pulang malam, weekend pun masih pergi bekerja. Overall it is okay, seharusnya. Tapi terkadang sedikit terusik saja entah untuk alasan apa.
Mungkin karena selama ini tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain terlebih lagi seorang wanita. Seringkali orang-orang lah yang mencari perhatian dirinya. Bukan berarti ia tengah mencari perhatian gadis itu, tidak sama sekali. Konyol sekali. Ia yang selalu menjadi pusat perhatian kini diabaikan oleh pembantunya sendiri, yang mana seharusnya ekstra perhatian dari segi kebutuhan dan kenyamanannya.
Sebenarnya Nada mengurus Edward dengan baik, apartemen selalu dalam keadaan rapih saat ia bangun, entah pukul berapa gadis itu mengerjankannya. Pakaian bersih dan wangi tersusun apik di lemari, dan terakhir adalah sarapan dan makan malam enak selalu tersaji di meja makan. Bahkan kini setiap hari, ia membawa air kopi sendiri dari rumah membuat asisten pribadinya bertanya-tanya tapi tak sampai hati mengutarakan.
Keseluruhan tak ada yang kurang dari kinerja gadis itu. Malah sangat memuaskan. Hanya cara komunikasinya saja yang sangat amat minimalis. Komplain juga sebenarnya sedikit berlebihan karena tak pernah ada miss komunikasi yang berkaitan dengan pekerjaan rumah.Jadi, biarlah pria itu dengan kejengkelannya yang tak berarti.
Satu hal yang berubah dari Nada yaitu Edward tak perlu lagi menyuruh dua kali untuk mereka makan bersama, walau gadis itu masih saja kikuk jika berdekatan dengannya. Meskipun tetap harus disuruh atau ditawari terlebih dahulu baru dia akan ikut makan.
Pernah satu kali karena terlalu lapar dan makanan yang tersaji adalah makanan kesukaannya, ia lupa mengajak Nada. Alhasil gadis itu tidak ikut makan dan memilih menyelesaikan pekerjaannya. Ia merasa Nada terlalu bersikap sopan dan menjaga jarak. Seolah melanggar norma jika hubungan antara tuan dan bawahan akrab bagai teman lama yang tak ada jarak.
"Nada?!"
Edward keluar dari kamar langsung menuju dapur dengan rambut acak-acakan dan muka bantal, kentara sekali baru bangun tidur padalah hari sudah menunjukan pukul dua siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pra-Nada
RomansInsyira Nada dan Edward Pranadipa adalah dua makhluk Tuhan yang seharusnya tidak pernah bersua karena perbedaan yang terlalu mencolok dalam segala hal. Hidup mereka bagai bumi dan langit dengan beribu jarak tak kasat mata. Tapi mereka bisa apa jika...
