Dia menangis. Sungguh isakan yang memilukan. Bahkan kaki jenjangnya mulai bergetar, seakan menopang beban yang sangat berat.
___
Tubuh ramping itu luruh, membiarkan rok span kremnya kotor. Seragam kerja yang malang. Orang-orang mulai melirik dengan mata penuh minat. Sebagian penuh dengan mata yang memiliki keingintahuan yang mendalam. Sebagian lagi, hanya mata yang dibuat buta untuk melihat keadaan. Tapi yang paling dibencinya hanyalah tatapan iba.
Tidak adakah orang yang sudi menawarinya tangan dan menyeretnya menjauh?
Lihatlah betapa piciknya orang-orang itu. Mereka mengecamnya lalu mengasihaninya. Nalar semua orang semakin rusak. Dia membencinya.
Bayangan seseorang dari barat menutupi tubuhnya. Sebuah tangan terulur padanya. Bukan bantuan berdiri, melainkan tawaran sapu tangan abu-abu bersih yang terlipat rapi.
"Hey nona! Aku tak sudi membantumu berdiri. Tapi aku bersedia memberimu sapu tangan bersih. Tenang, aku sudah mencucinya minggu lalu"
Tangannya berhenti menutup mulut. Bergerak terulur menerima tawaran sapu tangan.
"Bersihkan ingus dan air matamu, nona. Dan, mari menyingkir"
"Kita menghambat arus kaki kera berwujud manusia di sini"--tambahnya dengan bisikan.
Lelaki yang tidak sopan! Bukankah menganggap manusia sebagai kera adalah tindak kejahatan?
Lelaki tidak sopan itu menyingkir, diikuti dengan gadis yang memegang saputangan. Mereka memepi di pembatas jembatan. Menghadap langsung pada sungai Thames.
"Hey nona. Jika kau ingin menangis, setidaknya diamlah di kamar. Kau tau? Kau bisa membuat debit air sungai Thames naik pesat"
Lelaki itu tertawa. Tawa yang aneh untuk lelucon bodohnya.
"Kau bisa menyimpan sapu tangan penuh ingus itu. Semoga bermanfaat. Dan semoga kau baik-baik saja nonaa!!"
Itu adalah suara terakhir yang didengarnya dari lelaki aneh itu. Lelaki itu melambaikan tangan, dan menghilang di keramaian.
Tangan gadis itu menggenggam kuat saputangan yang diberikan, bagaikan benda itu adalah sumber kekuatannya berdiri sekarang.
Setelah lama diam, bibirnya terbuka, menggumamkan kata yang hanya bisa ia dengar sendiri.
"Terimakasih"
....
Regard,
ayu.rahmawati
T.Galek, 30 Oktober 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
My Choice
RomanceDON'T COPYRIGHT MY STORY Abigail van Gogh, gadis blasteran Inggris-Belanda. Bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah kantor surat kabar di London. Hidupnya terasa sempurna. Sampai tunangannya memilih berpisah darinya. Semua terasa berantakan, mem...
