Sebuah motor berwarna hitam ikut menepi dan berhenti di depan gerbang masuk salah satu SMA negeri di kota ini. Sang pengendara dengan wajah masamnya menyodorkan tangan kanannya untuk disalim oleh sang Adik, tanpa melirik sedikitpun seolah enggan.
"Abang ntar minta maaf aja sama Ibu." Biru berusaha bertukar pandang dengan Gara yang malah memalingkan wajahnya kearah belakang bersiap kembali masuk kedalam jalur.
"Abangggg!" Bukannya menjawab, Gara justru menarik tangannya dan meninggalkan sang Adik yang masih menatapnya dengan tatapan kesal. Dengan mulut yang tidak henti-hentinya menyupah serapahi sang Abang, Biru masuk kedalam area sekolahnya.
Setibanya di kelas, "Dianter sampe depan kelas lu?" itu adalah pertanyaan pertama yang Biru dapatkan saat melangkahkan kaki di kelasnya.
"Kagak, sampe gerbang doang kaya biasa." Jawabnya bingung sambil melepaskan tasnya lalu duduk di kursi.
"Terus ini helm kenapa masih dipake?" Dipta memukul kepala Biru yang masih dilindungi helm, seketika sang empu menyadari kebodohannya.
"Anjir sigoblok." Biru melepas helmnya tanpa mengalihkan fokus pada Dipta "Ih Sadipta gue malu, pantes dari tadi banyak yang liatin." Dipta tidak peduli, ia justru memasang wajah menyebalkan andalannya.
"PR lo udah kelar belum?" Sang teman sebangku mengalihkan topik pembicaraan
"PR yang mana?" Dipta langsung terkejut mendengarnya, jika Biru bertanya yang mana? Itu artinya mereka memiliki lebih dari satu tugas bukan?
"Demi apa kaga Fisika doang yang ada PR-nya?!"
"Kagak kunyuk, ada 3."
"Asa kok lo ga bilang?"
"Lo ga nanya."
"Ishhh bolos aja deh gue kalau begini, yuk?"
"Lah kok ngajak?"
"Temenin." Dipta memeluk lengan temannya itu "Hayukkk Angkasa cantikk." Rengeknya yang dijawab gelengan kepala oleh sang empu
"Gamau! Ntar ketemu Samudra." Mendengar itu Dipta melepaskan pelukannya sambil menatap Biru dengan tatapan menjijikkan.
"Gue aduin Janu mampus lu." Ancam simanis
"Sono kalo berani!"
"Owh nantangin! JANUAR! JANUU! JAN-mphhh." Dipta dengan cepat menutup mulut temannya itu agar tidak sampai keluar kelas, karna kelas kekasihnya itu tepat berada didepan kelas mereka. Maka dari itu tidak menutup kemungkinan akan terdengar oleh sang kekasih.
"Iyee gue ga bolos, diem lu!"
•••
15:15
Biru menatap layar ponselnya menunggu panggilannya diangkat sang Abang. Ini sudah kali ke-5 ia mencoba menghubungi Gara untuk memberikan kabar bahwa tidak perlu menjemputnya karena ia akan pulang dengan sang kekasih.
"Mungkin lagi di motor." Samudra mencoba menenangkan
"Ga mungkin, Abang walaupun lagi bawa motor pasti bakal ngangkat kalo ditelfon, bahkan di kelas aja diangkat kok." Jelas Biru yang dijawab anggukan kepala oleh sang kekasih, ya menunggu juga tidak ada salahnya.
Tin tin
Seolah hafal dengan klakson tersebut Biru segera bangkit dari duduknya dari atas motor Sam lalu menatap kesumber suara dan benar.
"Abangg!" Tanpa mempedulikan eksistensi sang kekasih, Biru berlari menghampiri Gara lalu bertanya "Kenapa ga diangkat?"
"Apanya?" Tapi justru balik bertanya
"Telfonnya, Biu udah nelfonin Abang dari tadi tau." Gara tampak berpikir sejenak lalu mengangguk
"Ketinggalan di bengkel." Biru menautkan alisnya "Abang bolos lagi?!" Biru tau, jika Gara bekerja disalah satu bengkel tempat ia magang dulu dan ia sering kali bolos untuk bisa bekerja full time disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
BElieVE [ATEEZ BXB]
Fanfiction"Bahkan mereka tetap pergi, setelah mereka berjanji." BACA DULU!!! •BXB •LOCAL NAME •OMEGAVERS
![BElieVE [ATEEZ BXB]](https://img.wattpad.com/cover/247781675-64-k708912.jpg)