Bab 3

177K 21.8K 826
                                        

Tekan bintangnya dulu sebelum mulai baca
Tinggalkan emoticon love sebanyak mungkin di kolom komentar :)

🌼🌼🌼

Jam tujuh malam Vina sudah menata makan malam di atas meja. Dewa tidak pernah pulang tepat wajtu, dia selalu melewatkan makan malam dengan pulang larut malam. Meski begitu, Dewa tetap memakan masakan Vina, dia akan memanaskannya sendiri.

Vina menutup makanan dengan tudung saji yang ada. Dia masih kenyang karena sore tadi makan bakso di depan kampus. Sebenarnya, Vina penasaran sekali dengan kemana perginya Dewa.

"Apa besok gue coba ikutin?" gumam Vina pelan. Dia besok hanya ada jadwal hingga sebelum makan siang. Seingat Vina, Dewa hanya ada kuliah hingga jam dua siang.

Sibuk melamun, Vina sampai tidak sadar kalau Dewa sudah pulang. Dia sempat berjengit kaget saat sosok Dewa melewatinya. Vina sampai ternganga tidak percaya, seorang Dewa ada di rumah pada jam yang masih bisa dibilang sore untuk Dewa.

"Udah pulang?" tanya Vina heran.

Dewa melihat Vina dan menganggukkan kepalanya. "Ada tugas kuliah. Makanya balik cepat," jawab Dewa.

Vina tercengang mendengar jawaban Dewa. Pulang cepat karena istri? Tidak berlaku untuk Dewa. Pulang cepat karena ada tugas? Harus dicentang besar-besar.

Vina membiarkan Dewa yang melewatinya. Mata Vina mengikuti sosok Dewa yang seenaknya membuka kaos polo yang dikenakannya di depan pintu kamar dan melemparnya ke sofa. Hanya Dewa yang tidak kapok ditegur untuk mengenakan kemeja jika ke kampus. Bahkan, Dewa ke kampus hanya bermodal sling bag yang berisi satu buah pena macet dan selembar kertas buluk.

"Bisa nggak sih lo rapi dikit?" protes Vina mengambil kaos polo Dewa. Dia membuka pintu kamar dengan sentakan cepat.

Dewa yang sedang berdiri dengan boxer saja menoleh. Sementara Vina mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia kemudian berbalik badan memunggungi Dewa.

"Tutup pintunya! Gue mau telanjang, lo kalau mau lihat boleh juga sih."

Tidak perlu diperintah dua kali. Vina langsung menutup pintu kamar dengan kasar. Dewa hanya tertawa saja di dalam kamar. Dia memang paling suka melihat Vina salah tingkah seperti itu.

Vina duduk lesehan di depan ruang keluarga yang tidak begitu besar. Dia memintal-mintal kaos polo Dewa dengan kesal. Wajahnya terasa panas karena kejadian tadi, jantungnya berdetak sangat cepat, berkali-kali lipat.

🌼🌼🌼

Dewa tersenyum tipis saat melihat Vina yang menghindarinya. Bahkan Vina duduk di ujung sofa dengan laptop dipangkuannya. Sementara Dewa, berkutat dengan tugas penganggaran perusahaan.

Diam-diam Vina melirik Dewa yang sepertinya kesusahan. Dewa berkali-kali menggaruk kepalanya, terkadang terdengar suara helaan napas dari Dewa.

"Kenapa? Ada yang susah?" tanya Vina pada Dewa.

"Bukan susah, tapi gue males ngerjainnya. Pengen tidur," jawab Dewa membuat Vina menjulurkan kakinya. Hingga menendang Dewa yang ada di ujung lain sofa.

"Pemalas banget sih Wa," gerutu Vina.

Dewa justru menutup laptopnya. Dia tersenyum puas pada Vina yang melirik Dewa. Alis Vina naik sebelah, dia heran dengan Dewa yang tiba-tiba berwajah cerah.

"Vin. Kita nggak punya anggaran buat masa depan?" tiba-tiba Dewa bertanya demikian.

"Anggaran apaan? Lo selesaiin kuliah dulu bener-bener," sahut Vina yang tangannya mengetik di atas keyboard laptop.

Dosen Cantik (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang