namanya... siapa?

27 7 9
                                        

Angin siang berhembus menerpa rambut sebahu Sian. Gadis itu kini tengah duduk di bangku taman dengan seorang pria ber alis tebal mempesona yang sedang berlutut dihadapannya. Mengobati luka akibat insiden bertubrukan tadi.

Sian masih kaget. Pasalnya tadi ia sedang jalan biasa, tenang-tenang saja. Bukan yang jalan sempoyongan dan tidak fokus juga. Tapi bisa-bisanya malah bertubrukan dengan orang asing.

Yang seharusnya sekarang ia sudah makan bersama Githa dan Citra, tapi sekarang malah berakhir duduk di bangku taman dengan bonus lutut lecet-lecet.

Dia menunduk, memperhatikan pria  yang sekarang sedang menempelkan plester coklat dilututnya.

Cakep juga.. Racaunya dalam hati

Dengan kacamata frame tipis dan alis serta bulumata yang tebal, pria ini terlihat menawan. Padahal dia memakai masker hitam yang menutupi bagian mulut hingga dagu, tetapi dilihat dari mata dan hidung saja sudah terasa hawa cowok ganteng loh.

Sian berdecak kagum, membuat pria ini mendongak dan berakhirlah mata mereka bertemu. Buru-buru Sian mengalihkan pandangan. Duh, malu kalau sampai ketahuan memperhatikan sedari tadi.

Orang itu berdiri, mengulurkan tangannya lagi bermaksud untuk membantu Sian bangun dari duduk.

Bukannya malah menyambut, atau minimal merespon, gadis itu malah terdiam. Sebagai kaum single sejak lahir, Sian jarang-jarang mengalami hal seperti ini. Bukan Sian yang tidak punya teman lawan jenis, atau bahkan tidak pernah merasakan jatuh cinta dan ditaksir orang. Tapi... jarang.. ah tidak, belum pernah ada yang se-rupawan ini dimatanya, Hehe.

Maka dari itu, Sian rasa ia masih kaget dengan perlakuan manusia tampan dihadapannya ini. Dari mulai mengulurkan tangan kepadanya tadi, membersihkan dan mengobati lukanya, dan sekarang dia mengulurkan tangannya lagi! Oh god, jantung Sian rasanya mau copot. Mana ganteng banget.

Pria itu mengernyit, bingung mengapa perempuan berambut sebahu dihadapannya terdiam seperti patung. Dia menjentikkan jarinya, membuat perempuan itu tersadar, dan menyambut uluran tangannya untuk berdiri.

"Gue minta maaf ya sekali lagi. masalah makanan lo yang jadi berantakan, gue ganti ya?" Katanya memulai percakapan kembali

Sian menaikkan kedua alisnya "eh, gausah gapapa kok. Udah nolongin ngobatin gue juga udah cukup, lagian kayanya temen gue udah delivery lagi" tolaknya halus. Padahal, boro-boro teman-temannya pesan delivery lagi. Tau dia ditubruk orang hingga jatuh saja tidak. Mau menelepon untuk mengabari, tetapi Sian tidak membawa ponsel nya.

Pria itu tampak berpikir sejenak, "Yaudah, lo disini berapa hari?"

"Senin pagi pulang" jawab Sian sekenanya. Pria dihadapannya itu langsung membuka ponsel. Sepertinya melihat tanggalan.

Pria itu menatap Sian, terdiam sejenak lalu bertanya "Di kamar berapa?"

Sian menunjuk dirinya sendiri, membuat pria itu mengangguk disertai senyum simpul "kamar 101" baru saja Sian menyelesaikan kata terakhirnya, dering ponsel terdengar.

Pria dihadapannya lantas menunduk melihat siapa yang meneleponnya.  Orang itu mengacak rambut diiringi dengan kerutan dalam di dahi, geraman kecil terdengar di telinga Sian. Sepertinya dia terlihat sedikit... jengkel?  Memangnya pria ini sedang dikejar apa sih?

Dia menghela napas " buat ganti makanannya, besok makan siang sama gue ya? Nanti gue kabarin. Sekarang lagi buru-buru nih. Maaf ya sekali lagi" lanjutnya lalu pergi membawa totebag yang ada di bangku taman begitu saja.

Hah?

Tak ada respon yang keluar dari Sian, anggukan ataupun gelengan pun tidak. Sejatinya ia bingung, masih terasa kaget juga. Mengabari katanya? Namanya siapa saja orang itu tak tahu. Alih-alih meminta nomor ponselnya, pria itu tadi malah menanyakan nomor kamar. Bagaimana pria itu bisa mengabarinya? Lewat receptionist?

Random banget sih... 

....

Githa melongo, syok berat ketika melihat isi plastik yang Sian bawa. Rice bowl yang sudah tidak berbentuk. Lauk dan nasi nya bercampur menjadi satu didalam plastik tersebut. Dia menatap temannya dengan kerutan dalam di dahi "Yan???????????"

Yang di tatap hanya bisa mengeluarkan senyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya lalu berbalik menunjukkan bagian belakang pakaian atasnya yang kotor.

"Itu kenapa lututnya di plester?"

"Lo jatoh? Kepeleset? Kesandung?" Tanya Citra beruntun.

Sian menggeleng "Jatoh iya, tapi bukan kepeleset atau kesandung" jawabnya, membuat baik Citra atau Githa makin melayangkan tatapan bertanya-tanya.

"Tabrakan sama orang di air mancur depan..." lanjut gadis itu sambil meringis kecil.

Githa terbahak, menertawai nasib buruk temannya, yaa walaupun ini termasuk menjadi nasib buruknya juga. Karena kesialan Sian, dia jadi tak bisa buru-buru makan siang. Melihat Githa tertawa, Sian hanya bisa mencebik kesal lalu melempari temannya itu dengan dompet.

Citra masih menatap miris tiga mangkuk rice bowl yang kini telah bercampur menjadi satu didalam plastik "siapa Yan yang nabrak? Cowok? Cewek?"

"Cowok" jawab Sian, dirinya tengah fokus mencoba membersihkan kotoran yang menempel dipakaiannya menggunakan tissue basah. "Tapi... ganteng" lanjutnya dengan suara kecil, tapi sukses didengar oleh kedua sahabatnya.

Tawa Citra lepas, tawa Githa semakin menjadi-jadi. Duh Sian, gadis berambut pendek itu bak mengalami adegan seperti di sinetron-sinetron. Jatuh karena bertabrakan dengan orang asing, lalu orang itu menjadi jodohnya.

"Dia nggak ngomong apa-apa gitu abis nabrak lo Yan?"

"Ngomong lah Cit, ini aja gue diobatin sama dia abis dia minta maaf"

"Terus nggak nawarin makanan baru?" Pertanyaan kali ini dilontarkan oleh Githa yang kini memeluk guling dengan posisi duduk, siap untuk fokus mendengarkan Sian.

Sian menipiskan bibirnya, mengingat-ngingat kejadian kurang lebih lima belas menit yang lalu kala orang itu mengajaknya makan siang besok "Nawarin... dia bilang besok mau ngajak gue makan siang buat gantiin" jawaban Sian kali ini sukses membuat Citra dan Githa teriak-teriak kegirangan. Ibarat temannya itu tengah mendapat rejeki nomplok, sudah nanti makannya dibayarin, yang ngajak cowok ganteng pula.

"Trus, trus, siapa dia namanya?" Tanya Citra semangat

Sian langsung terkesiap. Menggeleng lemas, tertohok fakta bahwa ia tidak mengetahui nama orang itu. Kira-kira, nama manusia tampan berkacamata itu siapa ya?

Dari BandungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang