Jari telunjuk Naka memutar-mutar kunci motor kala bibir cowok itu sibuk bersenandung ria. Hari ini Naka memiliki sederetan rencana yang harus ia penuhi. Dari mulai mencari properti beserta hunting foto, hingga makan siang bersama Dion.
Tepatnya kemarin malam, Dion mengajak Naka untuk menemaninya makan siang. Naka sih mau-mau aja, toh ujung-ujungnya Dion yang bayar kan. Lumayan, menghemat uang jajan.
"Naka pergi dulu ya Pa!" Pamit Naka dengan suara berat kepada sang kakek yang tengah berdiri memandangi taman kecil dipekarangan rumah.
Papa menghampiri cucu nya yang kini sudah siap berada diatas motor, "hati-hati" hanya satu kata yang keluar dari bibir papa, terdengar simpel tapi penuh makna. Membuat Naka tersenyum dibuatnya.
Cowok itu terkekeh sembari menyalimi tangan keriput milik laki-laki kesayangannya. "Pamit ya pa, nanti malem Naka pulang"
Jalanan Bandung terasa berbeda bagi Naka, hari ini agaknya lebih ramai dari hari-hari biasanya. Angin sepoi-sepoi dengan suara bising keramaian mewarnai perjalanan Naka. Akhirnya, ia bisa merasakan kedamaian ditengah keramaian.
Pergi ke Bandung sebenarnya bukan hal yang terlampau istimewa untuk Naka. Tapi karena pergi nya disaat-saat penat kayak sekarang, jadinya Naka ngerasa worth it banget pergi kesini. Itung-itung refreshing. Melepas penat sekalian nyari inspirasi di kota orang.
Soalnya, tahun ketiga sekolah tekanannya asli nggak main-main. Naka mengakui itu. Tuntutan lingkungan, apalagi kemauan orangtua tentang universitas yang akan dia tempati nantinya adalah salah satu hal yang mendominasi pikiran Naka saat ini.
Cowok tegap dengan rambut hitam legam itu memberhentikan laju motornya kala melihat lampu lalu lintas yang sebelumnya hijau berganti dengan warna merah.
Ia membuka kaca helmnya, menelisik sekitar. Memperhatikan lalu lintas yang dipadati kendaraan dengan orang orang yang berjalan disisi jalan. Naka Mengangkat kamera yang sejak tadi ia kalungi dileher, dan mulai memotret ramainya jalanan Bandung di siang hari dari atas motor.
Fotografi adalah salah satu bidang yang saat ini Naka geluti selain futsal. bahkan ia pernah dibayar untuk hasil fotonya. Diwaktu luang, kadang Naka mengambil pekerjaan sebagai fotografer untuk foto produk. Lumayan, buat nambah-nambah uang jajan.
Naka memarkirkan motornya diparkiran hotel tempat Dion bermalam, rencananya ia akan singgah disana hingga waktu makan siang. Biar sekalian nanti jalannya sama Dion.
Bukannya melangkahkan kaki menuju loby, Naka malah putar balik keluar area hotel. Langkah kakinya membawa cowok itu masuk ke salah satu mini market disamping bangunan hotel tersebut. Dirinya bermaksud membawakan camilan-camilan kecil untuk Dion, sekalian membeli minuman untuknya.
Suasana minimarket yang sepi membuat Naka bebas berdiam diri didepan etalase selama yang ia mau tanpa harus memikirkan mungkin saja ada orang yang sedang menunggunya. Ia memilih beberapa camilan dan minuman ringan, lalu mengantre dikasir.
Sepertihya minimarket ini masih terbilang baru, dilihat dari papan promo yang masih terpampang, dan hanya sedikit pekerja dan pengunjung yang datang. Naka melangkah maju ketika gadis didepannya menyingkir sembari sibuk melihat bill belanjaannya.
Cowok yang mengenakan hoodie coklat tua itu dibuat melotot kala bercak coklat kemerahan terlihat jelas di celana jeans gadis berambut pendek yang kini berada didepan pintu keluar minimarket. Buru-buru Naka menaruh keranjang belanjanya di meja kasir, lalu melepas hoodie yang ia kenakan.
Naka berlari keluar minimarket dengan menenteng hoodie ditangan, menyisakan kaus hitam lengan pendek yang melekat ditubuhnya.
Tangan besar yang melingkar dipinggang Sian, dibarengi dengan suara nafas yang tersengal membuat Sian terpekik kaget. Sepersekian detik, sian merasakan kain menjuntai dari panggulnya hingga menutupi lutut belakang.
"MAU APA LO?" teriak Sian, masih kaget sekaligus heran.
Cowok tinggi yang masih sibuk mengatur nafasnya kemudian melotot, "lo bisa gak, gausah teriak-teriak? malu diliat orang" katanya
Sian memasang wajah galak, tak habis pikir dengan orang asing yang tiba2 mengikatkan hoodienya kepada Sian dari belakang. Apa orang ini berniat buruk padanya?
"Lo siapa sih? Ini ngapain hoodie lo diiketin ke gue? Sok kenal lo" Sian menarik ikatan lengan hoodie yang terkait di pinggangnya. Naka sontak memegang pergelangan tangan Sian, guna menghentikan cewek itu.
Cowok yang kini hanya terbaluti kaus hitam polos itu mendekat kearah telinga Sian, berniat membisikkan sesuatu disana
"Lo tembus"
Sian terperanjat, kedua matanya otomatis melebar. Dua kata yang dibisikkan oleh laki-laki dihadapannya sanggup membuat Sian gelagapan. Duh rasanya mau pingsan ditempat, malu banget.
"Lo tinggal dimana? Biar gue anter" Bayanaka menenteng tas belanja berisi camilan yang sempat ia tinggalkan di minimarket tadi, ditambah dengan pembalut untuk gadis yang kini tengah berdiri disamping pintu minimarket.
Sian menoleh kala suara Naka terdengar tepat disamping telinganya, "gue nggak tinggal disini" katanya pelan, masih menahan malu.
"Terus?"
"Errr, hotel itu" cicit Sian seraya menunjuk plang hotel yang tidak terlalu jauh dari keduanya
"Gue juga mau kesitu, ayo"
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
Dari Bandung
Novela Juvenil"Inget Yan, di Bandung tuh bukan cuma ada asia afrika sama seblak aja. Disini juga ada cerita kita" Bayanaka pikir, semua cewek itu sama aja. Dia sempet mikir kayaknya lebih enak sendiri aja daripada punya pacar yang harus dikabarin tiap menit. Ter...
