"Nah, bagaimana cara kita kesana?" kini Jake, Jay dan Sunghoon sudah siap di depan pintu rumah lengkap dengan jubah dan jaket tebal.
"Kita, kan, punya Choco."
"Tapi, Choco ini hanya bisa menteleportasi ke tempat yang pernah dikunjungi saja," kata Jake, "Sunghoon, kau kan lahir di sana. Coba ingat-ingat bagaimana tempat itu."
Sebuah beban yang cukup besar bagi Sunghoon. Kedua orang tua kandungnya saja dia tidak ingat, apalagi tanah kelahirannya. Jika dia keliru membayangkan lokasinya, bisa-bisa mereka diteleportasi ke jurang. Jangankan membantu Klan Es dan membawa pulang teman-teman mereka, mereka akan mati lebih dulu.
Sunghoon menerima Choco di tangannya, lalu menutup mata. Sekeras mungkin dia membayangkan tanah bersalju dengan rumah-rumah kayu yang tampak hangat berdiri di atasnya.
Menarik napas, Sunghoon memutar tuas, "Kita berangkat."
Seberkas cahaya yang sangat terang muncul dan dalam sedetik udara di sekitar mereka jadi lebih dingin. Jake yang pertama kali membuka mata, melihat tanah yang ia pijak penuh dengan warna putih. Tapi, kanan kiri mereka terdengar berisik sekali.
"Mana bisa kita membiarkan mereka saling menghancurkan diri mereka sendiri seperti itu!"
"Tetap di sini adalah pilihan terbaik! Ikut campur hanya akan membawa bencana,"
Dua argumen itu dilemparkan dari dua kelompok yang berbeda. Dapat dilihat bahwa mereka punya pandangan yang bertentangan untuk sesuatu hal.
Kedua kubu itu mendadak diam saat menyadari kedatangan Jake dan kawan-kawan. Mereka melihat ketiga anak itu dengan tatapan heran.
"Sejak kapan mereka ada di sana?" kurang lebih begitu yang mereka pikirkan.
Jay terbatuk pelan, "Sepertinya kita datang di waktu yang salah."
"Memangnya kapan kita pernah datang baik-baik?" Jake mengangkat bahu lalu langsung maju ke depan, "Kami ingin menjemput teman kami yang diculik oleh salah satu dari kalian."
Mendengar pernyataan Jake, orang-orang itu saling melempar pandangan. Mereka adalah Klan Es, dapat dilihat dari penampilan fisik mereka; menggunakan jaket atau pakaian kulit tebal, berambut hitam legam, dan berkulit putih. Ciri-cirinya mirip sekali dengan Sunghoon.
"Kami sama sekali tidak mengerti maksudmu, Nak."
"Begini, salah satu dari klan kalian datang ke tempat kami untuk meminta bantuan. Tapi, karena kami tidak ingin membantu, dia membawa kedua teman kami sebagai jaminan. Baiklah, kami akan membantu asal kembalikan teman-teman kami," jelas Jake.
Tapi, salah satu dari Klan Es itu yang punya tubuh besar malah semakin mengerutkan alis, "Sungguh, kami tidak mengerti siapa yang kalian maksud."
Jake mendesah kasar, "Kangmin, Kangmin! Dia menculik teman kami."
"Siapa Kangmin?"
"Hei, kalian sedang bercanda?" Jake mendengus, "Katakan dengan jelas atau ku hanguskan desa ini!"
Jake sudah bersiap dengan tongkat di tangannya. Jay dan Sunghoon merasa kewalahan menghadapi Jake. Bahkan saat sebelum berangkat tadi, Jake bersikap sangat agresif dan hampir saja Sunghoon membekukan dia saking kesalnya.
"Kangmin? Apa barusan kalian menyebutkan nama Kangmin?" seorang nenek muncul dari kerumunan.
Jake mengembalikan tongkatnya jadi tiga bagian lalu dimasukkan lagi ke dalam tas selempangnya, " Apa Anda mengenalnya?"
"Hanya satu nama Kangmin yang saya tahu dan dia adalah tuan muda yang saya layani semasih bekerja di keluarga Vant,"
.
.
Dari cerita nenek Kiyo yang mempersilahkan mereka untuk bersinggah di rumahnya, Kangmin adalah tuan muda di keluarga Vant tempat dia bekerja hingga pensiun dua tahun lalu.
Keluarga Vant merupakan salah satu dari dua keluarga besar di Klan Es. Keluarga lain yaitu Illoik sedang berkabung karena salah satu anggota keluarga mereka yang akan dinobatkan sebagai kepala suku –pemimpin Klan Es mati dibunuh beberapa waktu lalu.
Kedua keluarga tersebut merupakan keluarga yang menyumbang kepala suku di tiap generasi. Saling bersaing satu sama lain untuk berebut kursi kepala suku. Karena kasus terbunuhnya calon kepala suku yang baru, Keluarga Vant tentu saja menjadi yang pertama kali tertuduh mengingat hubungan mereka yang tidak baik.
"Pantas saja Kangmin bertindak sejauh itu, dia pasti sangat putus asa," komentar Jay.
"Tapi, bagaimana kalau benar-benar Keluarga Vant yang melakukannya?" celetuk Jake.
Nenek Kiyo menyajikan teh dan satu toples kue kering di atas meja, "Tidak ada yang tahu siapa pelakunya, jadi kedua keluarga itu saling menuduh satu sama lain."
"Menuduh satu sama lain?" tanya Sunghoon.
"Bukan rahasia lagi jika kepala suku yang baru adalah orang yang tidak begitu disukai bahkan di keluarganya sendiri. Dia memang kuat, tapi perangainya buruk sekali. Seharusnya saya tidak mengatakan ini tentang orang yang sudah meninggal, tetapi memang banyak yang membencinya," Nenek Kiyo bercerita.
Nicholas bilang bahwa Klan Es sudah dihancurkan hingga tak bersisa. Tapi, rumah siapa yang mereka duduki saat ini? Nenek Kiyo juga terlihat sangat sehat, bahkan menyajikan teh beserta kuenya untuk mereka. Jake mengedarkan pandangan dan dia tidak menemukan keanehan sedikit pun.
"Apakah mereka melakukan hal lain?" tanya Jake.
"Mereka akhirnya saling menghancurkan. Rasa benci mendorong mereka untuk saling membunuh. Hal pertama yang terlihat dari Nord adalah tempat tinggal kedua keluarga itu. Tapi, sekarang semuanya sudah tidak ada."
Ah, Jake sepertinya mulai paham.
Tidak seperti Midgard, Nord terdiri dari beberapa pemukiman desa terpisah. Satu pemukiman biasanya dihuni oleh sebuah keluarga besar misalnya Vant dan Illoik sedangkan pemukiman lain dihuni oleh beberapa keluarga kecil yang bergabung jadi satu.
Yang dilihat oleh teman Nicholas pasti pemukiman dua keluarga besar itu. Dan mereka bukan hancur karena militer melainkan oleh perseteruan yang terjadi di antara keluarga itu. Tapi, Jake masih tidak yakin.
Jake menoleh pada Jay yang mukanya masam dan berkerut. Dia pasti sedang berpikir keras.
"Apakah tuan muda betulan datang ke tempat kalian?" tanya Nenek Kiyo.
Sunghoon mengangguk sopan, "Benar."
Nenek Kiyo mengamati Sunghoon baik-baik lalu tersenyum, "Kau juga Klan Es rupanya. Dari keluarga mana?"
"Kedua orang tua saya pergi meninggalkan utara saat saya masih kecil,"
"Ah, benar. Ada banyak pasangan muda yang melakukan itu akhir-akhir ini. Lalu?"
Sunghoon tersenyum canggung, "Kami diserang perampok di perjalanan. Seluruh rombongan saya meninggal dan kini saya diadopsi oleh Keluarga San dari Klan Penjaga Kuil."
Nenek Kiyo menatap Sunghoon prihatin. Kemudian, tanpa mengatakan apapun wanita tua itu menepuk pundak Sunghoon beberapa kali lalu berpamitan ke dapur.
Melihat kebingungan yang terpatri jelas di wajah Jay, Jake menjelaskan sejauh apa dia mengerti tentang apa yang sedang terjadi di tempat ini.
"Kesimpulannya, mereka sedang mengalami perang saudara?" Jake menanggapinya dengan anggukan, "Kalau mereka memang sudah kehilangan semuanya, lantas apa yang Kangmin mau dari kita? Dia tidak sedang mencari bantuan dana, kan?"
Pertanyaan bagus, Jake juga sedang memikirkannya. Apa yang sedang Kangmin cari sebenarnya?
"Nek," panggil Jake saat Nenek Kiyo lewat di depan mereka, "Apakah mereka masih berseteru sampai sekarang?"
"Iya, beberapa orang dari kami mencoba melerai mereka sebelum keadaan semakin buruk. Selain itu, kami harus segera memilih calon yang lain."
Ya, kursi kepala suku tidak boleh kosong terlalu lama.
Jake menyeringai, "Ini akan menyenangkan."
-to be continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
CLANS| ENHYPEN ft. I-LAND
Fanfiction[SUDAH TERBIT] CLANS SERIES BOOK #1 "Di rumahku, kamu selalu punya tempat untuk pulang." AU Fantasy !baku!
