#025 Invasi (4)

3.3K 739 24
                                        

Gadis kecil Elve itu hanya bisa menangis, dirinya bahkan sangat takut untuk sekedar bernapas. Bisa saja pisau itu menggoresnya selagi dia menghirup udara. Prajurit yang menyandera si gadis cilik semakin menekan pisaunya dan melotot ke arah Jungwon dan Jake.

"Ah, sialan," umpat Jake. Tidak ada skenario seperti ini dalam rencananya, sama sekali. Lagipula, kenapa anak itu bisa ada di sana? Padahal sudah diberitahu agar anak kecil dan wanita diam saja di dalam rumah.

Ini adalah momen dimana Jake belajar bahwa keingintahuan bisa saja membunuhmu dan lebih penting lagi; bisa sangat merepotkan orang lain.

"Jangan lukai dia! Atau kau akan tahu akibatnya," Jungwon tidak pernah mengancam seseorang sebelumnya. Jungwon sadar bahwa saat ini dirinya pasti kelihatan gugup sekali.

Ayolah, bagaimana tidak gugup kalau warga desamu terlebih lagi anak-anak sedang disandera di depan matamu sendiri.

Prajurit itu tertawa, "Bergerak sedikit saja, pisau ini akan langsung menggorok lehernya."

"Baiklah, apa yang kau inginkan? Uang? Kami akan berikan satu lumbung asal kau lepaskan anak itu," kata Jake berusaha bernegosiasi. Jungwon hanya mengangguk cepat, membuat gestur agar orang itu melihat pada lumbung desa mereka yang dipenuhi oleh koin emas hingga tumpah ke luar.

"Jangan meremehkanku! Kau pikir aku serendah itu melakukan semua ini hanya karena uang? Aku mau kepalamu," orang itu menunjuk Jungwon, "Dengan begitu aku bisa membawanya ke Central sebagai bukti, lalu semuanya akan berjalan seperti yang ku inginkan –uang, wanita, kekuasaan, bahkan mungkin raja akan memberiku gelar bangsawan, hahaha!"

"Dia sudah gila," komentar Jake.

Entah kenapa Jungwon tiba-tiba merasa lucu, "Manusia itu kalau diberi sesuatu malah ngelunjak," gumamnya.

"Apa katamu? Bicara yang benar!" si gadis kecil menangis lebih keras ketika tangan prajurit itu mencekik lehernya semakin kuat.

"Aku serius, lepaskan dia. Aku tak ingin melukai siapapun, meskipun orang sepertimu pantas dilukai," kata Jungwon.

Jungwon menambahkan, "Uang di lumbung itu bisa dibelikan makan di kedai kak Hanbin selama setahun penuh, tiga kali sehari. Kau bahkan bisa menggunakannya untuk membuka toko atau pun membeli rumah yang cukup besar di Central."

Jake bertepuk tangan tanpa suara. Dia tak pernah menyangka, Jungwon ternyata sepintar itu kalau soal uang. Seandainya Jungwon terlahir sebagai orang Central, Jake yakin anak itu bisa membuka usahanya sendiri di usia muda.

"Ku bilang jangan meremehkanku! Aku tidak butuh uang!"

Jelas-jelas tadi orang ini menyebut soal uang dan kekuasaan. Jungwon jadi bingung sendiri. Apa orang-orang Central begitu haus akan pengakuan?

Jungwon tidak bisa dengan senang hati memberikan kepalanya untuk dibawa pulang. Dia bukan souvenir.





"Kyaaaa!!!"





Jleb!





Jake tidak sempat memproses semuanya.

Dia menoleh pada Jungwon yang kini berdiri dengan mata melotot dan napas memburu. Dan jangan lupakan cipratan darah berwarna merah yang menghiasi wajah dan tubuh bagian depannya.

Jake kemudian bergerak cepat menuju si gadis kecil yang terjatuh pingsan dan bermandikan darah. Benar-benar 'mandi' dan basah oleh cairan pekat berwarna merah. Gadis itu mungkin terlalu shock sampai tak sadarkan diri.

Klan Elve yang selalu hidup dalam damai di Midgard hampir tak pernah melihat darah dan sangat mengharamkan pembunuhan.

Tapi, ironis sekali. Freyr yang diagungkan justru telah membunuh seorang manusia, menghancurkannya hingga tak berbentuk. Hingga tak bisa disebut apakah gumpalan daging dan darah yang saat ini Jake injak sebelumnya adalah manusia ataukah makhluk hidup lain.

Jake menoleh pada Jungwon yang masih tak bergerak, lalu melirik pohon Yggdrasil yang masih tegak di tempatnya. Klan Elve seharusnya tak menjadi klan yang menghancurkan kehidupan.

Tepat saat Jungwon melihat darah menetes di leher si gadis kecil, pikirannya seolah kosong. Yggdrasil yang menusuk dan mencabik manusia itu dalam sekejap mata bergerak bukan atas perintahnya, tangannya bahkan tidak bergerak sedikit pun.

"Kadang hatimu bergerak lebih cepat daripada impuls di otakmu. Itu hal yang wajar karena kau juga manusia," kata Jake, "Kau punya hak untuk melindungi apapun yang ingin kau lindungi."

Perlahan, warga mendatangi mereka. Salah seorang wanita paruh baya –mungkin ­ibunya mengambil si gadis kecil dari tangan Jake kemudian dia buru-buru meninggalkan kerumunan.

Semua orang di desa menatap tak percaya pada darah dan gumpalan daging yang berceceran di depan mereka. Beberapa orang merasa sangat jijik hingga memuntahkan isi perut mereka, beberapa lagi memilih pergi karena tidak tahan oleh pemandangan mengerikan itu.

Lalu, semua orang pergi hanya menyisakan Jungwon dan Jake.

"Semua orang pasti benci dan takut padaku. Bahkan ayahku sendiri. Lihatlah mereka semua pergi," kata Jungwon, "Padahal aku selalu diajari untuk tidak melukai makhluk hidup mana pun. Klan Elve bertugas menumbuhkan kehidupan dan merawatnya bukan membunuhnya."

Satu lagi skenario yang sangat tidak diharapkan oleh Jake. Ketidakstabilan mental dari teman-temannya ini adalah masalah khusus.

"Seharusnya aku tidak berharap banyak pada anak-anak," gumam Jake. Padahal dia sendiri juga masih bocah.

Jake menepuk punggung Jungwon, "Usiamu berapa?"

"12"

"Hei, di usia segitu aku juga sudah membunuh orang. Bukan sesuatu yang spesial!" oke, Jake butuh Sunoo di sini karena dia tahu perkataannya barusan sama sekali tak membantu.

"Tapi, apa kau tau apa yang menakutkan, Jake?"

Seketika senyum Jake luntur.

"Aku tidak sedikit pun merasa menyesal telah membunuh orang itu," Jungwon menoleh pada Jake dan mengerjap polos, "Ku pikir dia pantas mendapatkannya."

Dari semua buku yang Jake baca di perpustakaan, dituliskan bahwa Klan Elve adalah klan yang sangat murni. Seperti nama mereka, klan itu sebaik peri yang sengaja diciptakan alam sebagai pelindung. Tapi, seorang Klan Elve di hadapannya yang berpenampilan sangat polos ini ternyata lebih brutal dari yang terlihat.

"Jungwon itu berbeda," kata Sunoo sambil membereskan barang bawaan mereka di tasnya.

Ini adalah hari kedua mereka mengunjungi Klan Elve demi mendapatkan token.

Sunoo menyambung, "Kau tahu, Jake, kadang alam bertindak usil dan menciptakan anomali,"

"Dan anomali itu Jungwon?" Sunoo mengangguk, "Kenapa dengannya?" tanya Jake.

"Hanya saja dia sangat berbeda dari Klan Elve yang lain. Bukan hanya tentang ambisi, aku melihat sesuatu yang lain padanya."

"Seperti apa?"

Sunoo memiringkan kepalanya berpikir, "Dia seperti pisau. Tergantung bagaimana kau menggunakannya, dia bisa jadi sangat membantu atau malah melukaimu."

Yah, mulai saat ini Jake akan benar-benar percaya pada setiap omongan Sunoo. Meskipun itu terdengar melantur.



-to be continued-

CLANS| ENHYPEN ft. I-LANDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang