“Gue gak jadi main ke rumah lo.”
Mendapat pesan begitu membuat Sangga kesal bukan main, pasalnya ia sudah bersiap dari jam 4 subuh tadi, memilih baju mana yang akan ia kenakan, memasak dan membuat list apa-apa saja yang akan ia lakukan nantinya bersama.
“Kenapa?”
Hati Sangga semakin panas dingin ketika Garel tak membalas pesannya, tapi dia online.
Menyebalkan.
~S~
“Cieee yang udah gak sebatas teman tenpa kepastian lagi,” April yang digoda begitu oleh Sangga hanya bisa tersenyum malu-malu.
“Cerita dong, gimana ceritanya?” Ibam mendekat dengan menarik kursi yang ada di samping meja April.
“Akhirnya jadian juga,” Jessleen juga ikut berkumpul, sekarang meja April sudah dikerumuni oleh anak-anak kelas 12 MIPA 3.
Dengan semburat merah mudah memenuhi pipinya, April menutup kedua wajahnya dengan tangan, “udah ah, malau tau!”
“Najis … biasanya aja yang ada lo mala malu-maluin,” kelas yang awalnya rusuh mendadak menjadi diam ketika mendengar ucapan Meska yang sedikit terdengar kasar.
“Kenapa? Gue salah ngomong yah? Sorry deh,” perempuan dengan rambut blonde ungu itu langsung keluar kelas begitu saja.
April hanya bisa melongoh melihat kepergian Meska, yang tiba-tiba mendadak menjadi aneh pagi ini.
“Tunggu bentar yah, gue mau keluar,” Sangga langsung berlari keluar.
“Meska tunggu!” Teriak Sangga di tengah banyaknya orang yang lalu lalang di koridor, Meska tak menoleh sedikitpun.
“Meska gue mau bicara bentar!”
“Apa? Lo mau marah karena gue kasar sama sahabat lo!?” bahu Meska tanpak bergetar dari belakang sini, Sangga dapat menebak apa yang terjadi dengan Meska.
“Gak kok.”
“Terus? Mau ngetawain gue?”
“Enggak Mes,” Sangga langsun mengusap punggung Meska yang jauh lebih tinggi dari padanya itu.
“Gak apa-apa kok, wajar kalau lo marah, wajar kalau lo kesal …
Gak apa-apa kalau lo mau nangis, kadang kala air mata itu anugrah kalau kita lagi patah hati.”
Seseorang yang melihat kejadian itu langsung mengepalkan tangannya kuat, harusnya Sangga bukan malah mengejar gadis itu, tapi seharusnya Sangga mengatakan kata "gak apa-apa" itu untuk dirinya.
Posisinya adalah April sebagai sehabat, sedangkan orang itu adalah teman, hanya teman.
~S~
“Duduk di sebelah gue yah,” yang langsung di angguki oleh seorang perempuan dengan senyum merekahnya.
“Gue April, senang bisa punya teman baru.”
“Salam kenal April.”
Hari ini kelas Sangga kedatangan murid baru, namanya Luvi. Cantik, begitu fikir Sangga.
“Nanti kalau Joseph datang, dia duduk dimana?” bisik Sangga pada Ibam.
“Bisalah nanti cari kursi lagi,” Sangga hanya menganggguk paham, Sangga tak masalah jika April terlihat asik dengan teman barunya.
Sakin asiknya punya teman baru April bahkan sampai lupa mengajak Sangga untuk ke kantin bersama, April hanya lewat begitu saja dibangkunya.
Selama jam istirahat Sangga hanya berdiri di depan kelasnya, dari sini Sangga dapat melihat Garel dengan jelas, mereka sedang latihan basket untuk lomba di sekolah sebelah. Di SMK Pelita.
Sangga mengurungkan niatnya untuk turun, ketika melihat Garel sedang asik mengobrol dengan Nolla.
Sangga tak bisa mendengar dengan pasti apa yang mereka bicarakan, hingga semua orang mulai berkumpul dan bersorak.
“Apa yang terjadi?” begitu tanya Sangga kebingungan, tapi kakinya masih enggan untuk turun.
Hingga mata belonya membulat, sekarang otaknya paham apa yang terjadi. Binar matanya meredup.
~S~
Keadaan koridor sekolah sudah sangat sepi, sinar mentari sudah mulai memudar. Sementara Sangga tak berniat pulang sedikitpun, diseretnya kaki pendeknya untuk pulang.
Sampai hingga kepalanya terangkat, dadanya tiba-tiba saja menjadi sesak ketika melihat seseorang yang masih berdiri di depannya. Dengan sorot mata tajam dan dingin.
Mereka hanya bertatap mata sebentar, hingga Garel melanjutkan langkahnya untuk pergi sedangkan Sangga hanya berdiri mematung di tempat.
“Garel ….”
Untuk pertama kalinya, hati laki-laki itu seperti tersayat pisau silet. Sakit. Ketika mendengar suara Sangga.
Garel hanya berdiri membelakangi, tak berani menatap wajah sendu Sangga.
“Kita putus yah,” ucapnya lembut, yang semakin membuat hati Garel tercabik, seharusnya sudah Garel duga sebelumnya. Tapi ia tak mampu untuk menahan.
Terlalu banyak luka yang ia goreskan untuk hati gadis itu, lebih baik dilepaskan saja.
“owh … yah udah,” Garel langsung mengambil langkah pergi, percuma dijelaskan Sangga tak akan pernah paham.
Sangga hanya diam mentap kepergian laki-laki itu, padahal Sangga berharap ada sedikit penjelasan yang Garel berikan.
sungguh, Sangga tak berharap Garel akan menahan untuk bilang 'tak usah putus'.
Sangga hanya berharap ada penjelasan mengapa dan kenapa.
~S~
“Aku mau kamu jadi pacar aku Garel, mungkin semua orang akan memandang aku aneh, karena berani menyatakan perasaan aku duluan, padahal aku perempuan.
Aku tau … aku sedang melawan arus, tapi aku benar-benar sayang sama kamu, ada perasaan lain yang lebih dari sekedar persahabatan. Ku mohon, terima aku jadi pacar kamu.”
Garel hanya diam, matanya melirik ke lantai dua gedung B, ada Sangga yang sedang tersenyum ke arahnya di atas sana.
Sangga tak sadar, ada luka yang sedang menantinya.
“Gue mau,” jawab Garel dengan nada dingin, pikirannya dipenuhi oleh senyuman-senyuman Sangga, yang sebentar lagi pasti akan memudar.
Tanpa Garel duga sebelumnya,Nolla langsung berlari untuk memeluknya.
Sial. Garel benci ketidak berdayaannya. Harusnya ia mampu menolak.
Malam ini mata Garel tak bisa tertidur, tangannya terus membaca room chatnya dengan Sangga, Garel tak akan pernah lagi mendapat pesan ini.
“Maaf Sangga, gue terlalu pengecut, gue benci diri gue sendiri,” kata-kata itu terus berputar dalam kepala Garel.
Lagi-lagi Garel dibuat takjub dengan Sangga, matanya memanas ketika membaca pesan dari seseorang yang begitu ia cintai.
“maaf Garel, mungkin selama ini aku banyak salah sama kamu, aku minta maaf. Dan terima kasih untuk waktunya selama pacaran sama aku, aku benar-benar bersyukur ketika Tuhan sempat mengahadirkan kamu untukku, walaupun bukan untuk menetap, tapi aku tetap bersyukur.
Semoga bahagia.
Owh yah, ini akan jadi pesan aku yang terakhir, janji gak bakalan ganggu hubungan kamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dunia Tipu-Tipu
JugendliteraturDunia terlalu baik untuk gadis naif seperti Sanggani Arum. hingga titik dimana dia sadar kata cinta dan sayang hanya sebuah kata tanpa makna yang pada akhirnya membuat pulang menjadi asing.
