Back again.. hahahha Ada yg minta lanjut.. hhmm ini bukan lanjutan sih... Hanya story perspective Dari Sisi sang perempuan. Sebelumnya Sisi sang laki-laki. Enjoy ya gaisss..
***
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Kim Go Eun As Herself.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Lee Min Ho As Himself.
***
Dunia seni peran bagaikan samudra tak bertepi yang perlahan menyeretnya masuk ke dalam arus euforia yang tiada henti. Setiap peran yang ia jalani memberinya makna baru, perasaan baru, dan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan. Namun seiring melambungnya namanya, ia pun sadar betapa kerasnya dunia ini bagi seorang perempuan-terutama di mata para penggemar, di mana setiap langkah sering kali disalahartikan, setiap senyum sering kali dihakimi.
Namun di tengah badai itu, ia selalu bersyukur memiliki keluarga yang tak pernah goyah mendukungnya. Sejak awal keputusannya tampil dalam Eungyo-karya yang dianggap kontroversial banyak kalangan-mereka berdiri tegak di belakangnya. Hujatan, cap negatif, dan pandangan miring sempat menghampiri, namun di sisi lain, pujian dan pengakuan dari para pengamat serta pelaku seni justru datang mengalir. Hal itu membuatnya merasa bahagia, terharu, sekaligus bangga bahwa ia mampu membuktikan nilai seni di balik apa yang ia perankan.
Usai debut itu, ia memilih untuk melangkah mundur sejenak demi menyelesaikan pendidikannya. Di masa jeda itu, ia tak berhenti belajar. Berjam-jam ia habiskan di depan layar, menonton film, drama, hingga acara hiburan, meresap setiap adegan sebagai bekal masa depan. Dan di sela-sela waktu itu, terselip sebuah kenangan yang sering membuatnya tersenyum sendiri: bagaimana ia diam-diam pernah menjadi salah satu dari jutaan gadis yang mengagumi sosok idola paling bersinar di masanya-Kim Tan, yang diperankan oleh Lee Min Ho. Tanpa sadar, ia pun pernah menjadi penggemar yang tak bersuara.
Kini Go Eun kembali. Tawaran demi tawaran datang menyapa. Ada Monster yang mengasah ketajaman aktingnya, lalu Coin Locker Girl bersama Kim Hye-soo sunbae-nim yang memberinya pelajaran berharga tentang kedalaman karakter. Dunia drama pun ia coba masuki melalui Cheese in the Trap, namun bersamaan dengan naiknya namanya, badai ujaran kebencian dan teror mulai menghampiri. Puncaknya saat ia dipercaya oleh penulis naskah legendaris Kim Eun-sook jangganim untuk membintangi Goblin. Bermain bersama Gong Yoo dan Lee Dong-wook adalah sebuah kehormatan yang tak terkira, namun di situlah ujian terberatnya bermula. Kabar asmara yang tak benar dengan rekan kerjanya bermunculan, diikuti isu tak berdasar bersama Gong Yoo yang harus dibantah oleh agensinya. Berita demi berita datang bertumpuk, memuncak pada perpisahan dengan sang kekasih, hingga ia merasa runtuh seketika. Rasa tidak dihargai, pandangan rendah yang ditujukan padanya, serta serangan tanpa henti dari kalangan penggemar membuatnya jatuh ke titik terendah dalam hidupnya.
Namun kembali lagi, keluarganya-terutama neneknya-menjadi tiang penyangga yang tak pernah goyah. Teman-teman dekat dan penggemar setianya pun menjadi pelita yang tak pernah padam. Dengan hati yang masih terluka namun perlahan menguat, ia memutuskan berhenti menerima tawaran hingga ia siap kembali. Kembali lewat Sunset in My Hometown bersama Park Jung-min dan Shin Hyun-bin-teman-teman yang menjadi sahabat sejatinya-menjadi titik balik yang mengubah segalanya. Ia mulai menemukan kembali dirinya, perlahan meraih kesuksesan dengan lebih tenang dan percaya diri. Tahun 2018 hingga 2019 menjadi masa yang sangat sibuk; Tune in for Love, Hero, pemotretan, dan iklan silih berganti memenuhi harinya. Namun kelelahan mulai merayap masuk, dan setelah syuting Hero usai, ia berencana mengambil jeda pendidikan di Amerika demi memulihkan diri.
Namun takdir berkata lain. Tawaran itu datang saat ia telah menyusun rencana matang. Sekali lagi Kim Eun-sook jangganim mengulurkan tangan, memintanya memegang peran utama dalam drama terbarunya. Jantungnya berdegup kencang saat membaca naskah-indah, mendalam, namun ketakutan masa lalu kembali menghantui. Apalagi saat ia tahu lawan mainnya adalah Lee Min Ho-sosok yang dulu ia kagumi diam-diam, sosok yang dikelilingi jutaan penggemar yang sangat protektif. Bayangan masa lalu saat Goblin seolah melambai memintanya mundur. Ia menolak. Namun tim penulis terus membujuk, hingga akhirnya Kim Eun-sook jangganim sendiri menghubunginya. Ia tak bisa menolak secara langsung pada wanita yang begitu ia hormati, sehingga ia menyanggupi untuk bertemu.
***
Ruang kerja itu selalu terasa hangat setiap kali ia melangkah masuk. Kim Eun-sook menyambutnya dengan senyum yang begitu ramah, layaknya seorang ibu yang merindukan anaknya. Bagi Go Eun, wanita ini bukan sekadar penulis naskah jenius, melainkan tempat ia bisa berbagi keresahan yang tak bisa ia sampaikan pada siapa pun.
"Kau akhirnya datang, Go Eun-ah," ucapnya lembut namun tegas. "Aku sungguh berharap kau bersedia menerima peran ini. Aku tak bisa membayangkan orang lain yang cocok selain kau."
Go Eun menunduk, meremas pelan ujung jubahnya. "Aku selalu berterima kasih atas kepercayaan yang kau berikan, Jangganim. Namun jujur saja, kelelahan ini sungguh nyata. Setelah menyelesaikan dua film berturut-turut dengan jadwal yang padat, aku merencanakan perjalanan ke Amerika untuk menempuh pendidikan selama setahun. Aku butuh waktu untuk kembali bernapas."
Kim Eun-sook mengangguk paham. Ia tahu betapa kerasnya Go Eun bekerja. Namun ia tak berniat menyerah.
"Go Eun-ah, percayalah padaku. Kau tak akan menyesal jika kau memilih untuk melangkah bersama kami kali ini."
"Pasti ada aktris lain yang lebih mampu dan lebih siap daripada aku," jawab Go Eun pelan.
"Memang banyak aktris hebat di luar sana," potong Kim Eun-sook lembut, "tapi... Min Ho menginginkanmu."
Mata Go Eun seketika terbelalak. "Maaf, Jangganim... Maksudmu Lee Min Ho sunbae menginginkanku?"
"Ya," wanita itu tersenyum tipis melihat reaksi terkejutnya. "Mungkin kau akan merasa ini sulit dipercaya, atau mungkin terdengar aneh... tapi Lee Min Ho menyukaimu, Go Eun-ah."
Go Eun menggeleng pelan, seakan tak percaya mendengarnya. "Bukankah ini terdengar mustahil? Kami bahkan tak pernah saling mengenal secara pribadi. Bagaimana mungkin ia bisa berkata begitu? Apakah ini bukan tindakan yang terburu-buru, atau bahkan terdengar sembarangan?"
"Kau boleh berpikir begitu jika itu orang lain," jawab Kim Eun-sook tenang. "Tapi Lee Min Ho bukanlah lelaki yang seenaknya berbicara perasaan pada wanita yang tak ia kenal. Ia adalah lelaki yang sangat menjaga diri, berkelas, dan bertanggung jawab. Di balik ketenarannya dan penampilannya yang menawan, ia adalah sosok yang sangat tulus. Aku yakin ia adalah orang yang tepat untukmu."
Kata-kata itu bergema di benak Go Eun. Ia teringat pertemuan sekilas di BIFF 2015. Hanya terhalang dua kursi, ia melihatnya melambaikan tangan dan tersenyum lebar saat namanya disebut. Tatapan sekilas yang dulu ia anggap biasa saja, kini terasa memiliki makna yang lain. Namun ketakutan itu masih tersisa.
"Kau tahu sendiri bagaimana keadaan dulu saat syuting Goblin, Jangganim," suaranya bergetar pelan. "Serangan dari penggemar, tuduhan tak berdasar... dan bayangkan betapa besarnya pengaruh nama Lee Min Ho. Aku belum siap jika harus terluka lagi dengan cara yang sama."
"Anggaplah ini sebagai awal yang baru, Go Eun-ah," bisik Kim Eun-sook. "Sebagai tempat kau menyembuhkan luka lama sekaligus mengenal sosok yang telah lama mengagumimu dari jauh. Berikan ia kesempatan untuk menunjukkan kesungguhannya, dan berikan dirimu kesempatan untuk melihatnya bukan sebagai idola semata, melainkan sebagai lelaki yang menyayangimu."
"Aku butuh waktu untuk berpikir," jawab Go Eun akhirnya. "Segera setelah aku memutuskannya, aku akan menghubungimu."
"Satu hal yang ingin kukatakan sebelum kau pergi," panggil Kim Eun-sook saat Go Eun melangkah hendak keluar. "Tak ada sosok lain yang bisa menjadi Jung Tae-eul selain kau."
***
Sesampainya di rumah, ia menyadari bahwa keputusan ini tak bisa ia ambil sendirian, apalagi hanya dengan bertanya pada ayahnya seperti biasanya. Ada perasaan yang terlibat di sini, bukan sekadar urusan pekerjaan. Maka ia memilih datang ke rumah kakak laki-lakinya, tempat di mana ia berharap bisa mendapatkan pandangan yang lebih luas. Sayang sekali, kedua keponakan kesayangannya sudah terlelap setelah seharian bermain riang.
Saat mereka duduk santai menonton televisi, Go Eun memberanikan diri membuka suara.
"Oppa, Eonni... ada hal yang ingin aku diskusikan."
Kakaknya menoleh, matanya menelisik wajah adiknya lekat-lekat. "Kau jarang sekali mendiskusikan hal pekerjaan dengan kami. Biasanya kau langsung berbicara pada Ayah. Pasti ada sesuatu yang lebih dari sekadar tawaran peran, bukan?"
"Kau benar," Go Eun menghela napas panjang. "Kim Eun-sook jangganim kembali menawariku peran utama. Tapi ada hal lain yang membuatku ragu menerimanya."
"Apa itu? Bukankah kau selalu bisa memisahkan perasaan pribadi dengan pekerjaan? Kau selalu profesional. Meski dulu banyak isu tak benar tentangmu dan lawan mainmu, kau tetap melakukannya dengan baik. Apa yang membuat kali ini berbeda?"
Go Eun menatap mereka bergantian. "Lawan mainku... adalah Lee Min Ho sunbae. Dan Jangganim bilang... ia memintaku secara khusus karena ia memiliki perasaan padaku. Bukan sekadar rekan kerja, tapi sebagai lelaki pada perempuan."
Kakaknya terbelalak tak percaya, terdiam sejenak. Namun kakak iparnya yang duduk di sampingnya meraih tangan Go Eun lembut, menyuarakan apa yang ada di hatinya.
"Gon-ah... dengarkan Eonni. Mungkin ini saatnya seseorang datang untuk melengkapi hidupmu. Jangan biarkan masa lalu yang kelam menutup jalan bagi masa depan yang mungkin indah. Jika lelaki yang dulu kau kagumi itu melihatmu sebagai wanita yang berharga, mengapa kau tidak mencoba melihatnya dengan cara yang sama? Bukan hanya sebagai pasangan di panggung sandiwara, tapi sebagai seseorang yang mungkin ditakdirkan untukmu. Percayalah... jika kau menerima ini, dan ternyata kalian saling melengkapi, itu adalah anugerah yang tak ternilai. Dan jujur saja... aku akan sangat senang memiliki ipar setampan dia."
Kata-kata tulus itu perlahan meruntuhkan tembok pertahanan dirinya. Setelah berdiskusi panjang lebar dengan seluruh anggota keluarga, akhirnya Go Eun memberanikan diri untuk menyanggupi tawaran tersebut.
***
Pertemuan pertama dengan Lee Min Ho dijadwalkan tak lama setelah konfirmasi itu keluar. Go Eun sengaja tampil sederhana: mengenakan sweter longgar, celana jeans, dan topi baseball yang menutupi sebagian wajahnya, tanpa riasan sedikit pun. Ia ingin tahu apakah tatapan lelaki itu akan tetap sama, atau berubah melihatnya yang apa adanya.
Saat ia membungkuk dan menyapa, "Senang berjumpa dengan anda, Sunbae-nim. Mohon bimbingannya," dunia seakan berhenti berputar sejenak saat pandangan mereka bertemu. Di sana, di balik tatapan tajam namun lembut itu, Go Eun melihat kekaguman yang tulus, senyum yang begitu hangat seolah mereka sudah saling mengenal lama. Sepanjang diskusi yang berlangsung, ia tak pernah merasa digurui atau diposisikan di bawah. Lee Min Ho mendengarkan dengan seksama, menanggapi dengan bijaksana, dan memandangnya dengan perhatian penuh. Perlahan, bayangan ketakutan itu mulai pudar, digantikan rasa ingin tahu yang besar terhadap sosok lelaki ini.
***
Empat bulan kemudian, saat jadwal pembacaan naskah bersama telah ditetapkan, berita konfirmasi tersebut kembali memicu reaksi keras di media sosial. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Sebuah pesan singkat masuk dari Lee Min Ho:
"Aku tahu kau pasti merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi di luar sana. Tapi percayalah, kau adalah pilihan yang paling tepat. Saat mereka melihat seberapa hebat aktingmu, pandangan mereka pasti akan berubah. Semangat untuk Jung Tae-eul!" Namun takdir kembali menguji ketabahan hatinya. Hanya sehari sebelum pembacaan naskah dilaksanakan, kabar duka datang menghampiri. Neneknya-sosok malaikat pelindungnya-berpulang ke pangkuan Tuhan. Kesedihan itu merobek hatinya, seolah ada bagian dari jiwanya yang ikut pergi. Di tengah kesibukan menerima pelayat, ia tertegun melihat sosok yang tak disangka-sangka hadir: Lee Min Ho. Dengan segala kesibukannya, ia menyempatkan diri datang, memberi penghormatan terakhir, dan berbicara sopan pada ayahnya.
"Terima kasih sudah datang, Sunbae-nim," ucap Go Eun lirih. "Maaf sepertinya aku tak bisa hadir dalam pembacaan naskah besok."
"Jangan pikirkan itu sekarang," jawabnya lembut sambil menepuk bahu Go Eun dengan penuh rasa hormat. "Istirahatlah dan temani ayahmu. Kami akan menunggumu."
Ia tak tahu bahwa setelah pergi, Lee Min Ho meminta stafnya memastikan Go Eun makan dengan teratur, beristirahat, dan mengirimkan vitamin serta makanan kesukaannya secara rutin.
Saat syuting akhirnya dimulai, Go Eun berusaha tersenyum dan tertawa di depan kamera, namun Lee Min Ho tak buta akan kesedihan yang masih tersisa di matanya. Ia tak henti menunjukkan perhatian tulus, hingga suatu hari stafnya menyerahkan sebuah kotak berisi buah kesukaannya, sebuah alat pemutar pita suara, dan sepucuk surat:
"Aku tahu kata-kata penghiburan tak cukup menghapus rasa kehilanganmu. Dengarkan lagu ini, dan tangiskanlah sepuas hatimu. Setelah itu, berjanjilah padaku kau akan kembali tersenyum lebar, lebih kuat, dan lebih bahagia. Karena senyum itulah yang akan membuat nenekmu tersenyum bangga dari surga. - Kim Tan-mu."
Saat lagu With My Tears mengalun lembut, tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah. Namun di ujung air mata itu, ia menyadari satu hal: di tengah duka yang mendalam, ia telah menemukan seseorang yang tak hanya mengagumi namanya atau perannya, melainkan menghargai dirinya yang sejati.
Di saat itulah, Go Eun sadar bahwa ia telah jatuh cinta-bukan pada idola yang dulu ia kagumi dari jauh, melainkan pada sosok lelaki nyata bernama Lee Min Ho yang kini berdiri tegak di sampingnya.
Is it the end? Of course not.. it's their new begining of love..
***
Ahaaaiii akhirnya... Bagian perspective Go Eun kelar ya gais.. seperti janji saya dengan beberapa orang. Sekali lagi saya tidak membuatnya menjadi Full length story.. tapi mungkin jika Ada hal menarik yg bisa saya Gali Dr base on RL mereka mungkin saya Akan bikin part nya, one shot story seperti ini.
Sekali lagi gaiss ini hanya imajinasi.. peristiwa sesungguhnya saya ga tau. Hanya mereka Dan Tuhan Yang tau ya.. jadi ya begitulah ya...
Jujur sulit bikin perspective Go Eun dibanding Min Ho. Yang tau persis pasti tau kenapa saya ngomong begini. Menggali Go Eun lebih sulit dibanding Min Ho Yang memang gampang dibaca.
Saya selalu ingatkan jangan jadi pembaca senyap. Ga Minta yg aneh ko cuma Bintang Dan Komen nya ditinggal. Jadi author tau kalian bener2 menikmati tulisan ini.
Saya mau focus ke Yang lain ya PR saya Ada 3 lo.. hahahah.. mau istirahatin otak dulu ya gais..