_________________
Dulu, saat aku baru saja menginjak usia 15 tahun dan papa menghadiahiku seekor kuda dari ras Morgan bewarna hitam mengkilap, aku bertanya-tanya, hadiah apa yang akan aku dapat di ulang tahun ke-20 ku. Aku sempat menebak-nebak, mungkin papa akan menghadiahiku sedikit saham di perusahaannya. Atau membelikan rumah atas namaku sendiri. Atau Range Rover yang sudah lama sekali ku idam-idamkan. Sayangnya, tidak ada satupun dari tebakanku yang benar.
Nyaris saja tidak.
"Excuse me? Tadi kakak bilang apa?"
Aku menatap Kakak laki-laki tertuaku yang duduk tepat di depan, terpisah oleh meja makan yang terhidang berbagai jenis makanan. Dia menatapku datar sambil mengunyah steak-nya, menelannya dengan pelan sebelum menghela napas berat.
"You hear that, Grahita Jatayu Warouw."
Iya. Aku memang mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Jovanda Niza Warouw, kakak tertuaku tadi. Tapi apa yang dikatakannya sama sekali tidak masuk akal, sehingga aku kira telingaku tiba-tiba malfungsi.
Ya, hari ini ulang tahunku yang ke-20. Aku berhenti merayakan ulang tahun sejak berumur 15, dan lebih menghabiskan momen seperti ini untuk makan malam bersama keluarga. Seperti saat ini. Aku, papa, dan ketiga kakak laki-laki ku tersayang sedang duduk di meja ruang makan keluarga kami. Tiga puluh menit yang lalu, suasana masih ceria. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun untukku dan menyiapkan Red Velvet. Sampai papa berdehem dan melirik gugup ke arah ketiga kakakku.
"Listen, Gaga." Saat Kak Jo memanggilku setelah Red Velvet kami habis, aku kira kami akan memulai sesi pemberian hadiah. Seperti biasanya. Namun keraguan dalam suaranya, dan juga tatapan gugup itu membuatku khawatir. "You're 20th right now, aren't you? So, kamu udah cukup dewasa untuk menerima fakta ini."
Aku mengernyit mendengar perkataannya. Fakta apa yang Kak Jo bicarakan ini?
"Gaga, kami percaya kamu bakal menyikapi hal ini dengan bijak." Kini giliran Kak Yudith yang berada tepat di sebelah kananku yang bicara. Ia melirik ku sekilas sebelum kembali menyesap wine di tangannya. Gerak-geriknya sama gugupnya dengan semua orang disini. Kecuali aku yang benar-benar clueless dengan apa yang terjadi.
"Fakta apa, sih, kak?" Aku merengek karena mereka tidak kunjung melanjutkan. Membuat rasa penasaranku meningkat sampai ubun-ubun. Ketiga kakakku hanya saling melirik. Keengganan nampak jelas di mata mereka. Sedangkan papa memilih asyik dengan Nasi Lemak di piringnya.
Aku mengerang frustasi.
"Kak!?" Teriakku dengan kesal.
"Jeff?" Itu suara papa. Ia sedang menatap Kak Jeff, kakak ketiga ku dengan pandangan menuntut. Kak Jeff menghela napas dan menoleh padaku.
"Gaga, kamu tahu, kan, keluarga kita itu pebisnis yang bergerak di bidang properti?"
Pertanyaan ini sedikit aneh. Jelas saja aku tahu, kan. Memangnya ada cara agar aku tidak tahu fakta itu ketika seluruh warga di negara ini mengenal keluarga Warouw sebagai salah satu keluarga terkaya di negara ini karena bisnis propertinya? Tapi bagaimanapun aku tetap mengangguk.
Kak Jeff menghela napas berat lagi sebelum melanjutkan. "Tapi, Gaga, itu bukan satu-satunya bisnis yang dijalani keluarga kita. Malah, penghasilan dari bisnis properti kita gak seberapa dibanding bisnis keluarga kita yang lain." Ia menjeda. Tangan Kak Jeff terulur mengambil air putih di depannya lalu menyesap cairan bening tersebut. "Sebenarnya, keluarga kita punya bisnis euhmm... Itu."
Aku mengerang. Rasa penasaran dalam diriku membuncah bukan kepalang. Namun Kak Jeff malah bertele-tele dan tidak langsung menjelaskan. Sendok dan garpu dalam genggaman aku letakkan di samping kiri-kanan piringku yang berisi Kepiting Saus Lada Hitam. Mendadak, makanan favoritku itu tidak menarik lagi dimata.
"Bisnis apa, sih, emangnya? Kok susah banget ngomongnya? Bukan bisnis prostitusi, kan?" Sedetik setelah mengatakan hal tersebut, keempat pria di ruangan ini menatap ke arahku.
"Memang bukan. Tapi sama-sama ilegalnya. Kita punya bisnis bawah tanah, Gaga. Senjata api, and drugs."
Kak Jo mengatakan hal tersebut dengan santai. Terlewat santai. Berbanding terbalik denganku yang mengerjap-erjapkan mata dengan cepat dan jantungku yang mendadak hyperactive.
Apa katanya? Bisnis bawah tanah? Senjata api? Drugs?
Kepalaku mendadak pusing. Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi. Melirik mereka satu per satu. Papa yang masih sibuk mengunyah Nasi Lemaknya, Kak Jo yang kini beralih melahap puding coklat, Kak Yudith yang memain-mainkan gelas wine-nya, dan Kak Jeff yang sedang mengawasiku tajam.
Sudah paham, kan, mengapa aku mengira telingaku malfungsi? Apa ini masuk akal?
"Ha ha ha." Aku tertawa hambar. Tidak tahu pasti apa yang sedang kutertawai. Mungkin karena fakta ini terdengar lucu menurutku. Atau mungkin aku menertawai diriku sendiri yang tidak tahu sama sekali mengenai fakta ini.
"Gaga. Papa tahu ini sedikit mengejutkan buat kamu."
Sedikit? Aku hampir jantungan dan papa bilang sedikit?
"Tapi itu memang faktanya. Kami gak bisa terus-menerus menyembunyikan fakta tersebut. Kamu udah gede. Udah saatnya tahu. Ya memang sulit diterima, tapi selama ini kita hidup dari sana. Jadi, kamu seharusnya bisa menerima."
Menerima, ya?
Jadi aku harus menerima bahwa keluarga yang aku sayangi ini ternyata adalah mafia? Bahwa perusahaan properti mereka adalah kedok semata? Dan bahwa selama ini aku hidup dari uang haram tersebut?
Mendadak aku ingin menangis. Dan memang itu yang terjadi.
Aku menunduk dan menangkupkan kedua telapak tangan di wajahku. Air mataku mengalir dengan tiba-tiba. Dan suara tangisku mengejutkan mereka berempat. Sempat kudengar tarikan napas berat papa. Lalu kurasakan kepalaku ditarik dalam dekapan seseorang. Pasti Kak Yudith yang memang duduk di sebelahku. Tangannya tidak tinggal diam, menepuk-nepuk ringan puncak kepalaku.
"Kakak tahu ini berat. Tapi kamu harus tahu, Gaga. Maaf kalau kami bikin kecewa."
Tangisku makin nyaring. Sesaat aku sempat berharap kalau ini hanya prank semata untuk ulang tahunku. Tapi nyatanya tidak. Semua ini fakta. Dan aku harus menerimanya.
Malam ini merupakan perayaan ulang tahun terburuk dalam hidupku. Tidak ada hadiah. Tidak ada momen yang ingin kujadikan kenangan indah. Yang ada hanya ungkapan fakta yang menghantam diriku dengan keras, menjatuhkanku, kemudian merusakku menjadi berkeping-keping.
_______________
Click the star button is free, anyways.
And... Enjoy

KAMU SEDANG MEMBACA
The Guns On My Back
General FictionNCT MAFIA ____________ Mana yang lebih baik bagimu? Mati di tangan musuh atau mati di tangan orang terkasih, sekalipun itu berarti pengkhianatan? Aku, lebih memilih mati di tangan terkasih. Pengkhianatannya tidak penting. Bagiku yang terpenting ad...