Aku pernah bertanya-tanya, kenapa papa memilih membangun sebuah rumah di tengah hutan seperti ini alih-alih di pusat kota. Maksudku, bukankah lebih baik jika lebih dekat dengan berbagai fasilitas umum seperti sekolah, kantor papa, mall, dan lain-lain? Aku juga yakin mayoritas manusia akan memilih opsi seperti itu dibanding hidup terasing seperti ini. Saat aku menyuarakan tanyaku ini, papa hanya menjawab bahwa ia dan mama dulu ingin suasana yang tenang, jauh dari keramaian.
Sekarang, saat aku sudah tahu semuanya, aku ragu itu merupakan jawaban yang sebenarnya. Apalalagi dengan fakta bahwa sebenarnya kakekku lah yang membangun rumah ini, bukan mama dan papa. Papa juga berbohong kalau bangunan seluas 9x9 meter yang agak tersembunyi di pepohonan halaman belakang itu adalah gudang. Yah, tidak sepenuhnya bohong, sih. Nyatanya bangunan tersebut adalah gudang senjata. Atau lebih tepatnya pintu masuk menuju gudang senjata.
Bangunan tersebut hanya serupa gubuk tua. Dindingnya terbuat dari kayu yang tampak solid walaupun kudengar sudah berdiri disana selama puluhan tahun. Pun kayunya rajin dipelitur ulang, jadi tidak terlalu tampak setua itu. Tidak ada satupun jendela, seolah-olah tidak ada orang yang diperbolehkan mengintip isi di dalamnya. Pintunya yang juga terbuat dari kayu membuka perlahan dengan suara deritan yang menyakitkan telinga ketika Kak Jeff membukanya. Tampaknya papa lupa untuk menyuruh tukang yang mempelitur ulang bangunan ini untuk sekalian mengganti engsel pintu.
Tanganku terangat untuk mengibas-ibaskan aroma tidak sedap yang mampir di hidung. Bau apek barang-barang lama dan debu menyambut kami. Tapi sepertinya hanya aku yang terganggu dengan aroma tak sedap ini. Buktinya Kak Jeff terus saja menyelonong masuk, sedangkan aku sedikit terbatuk-batuk karenanya.
Gudang ini adalah terlarang untukku. Aku tidak pernah memasukinya sebelum ini. Tentu saja keempat ksatriaku melarangku. Pun dengan dalih bahwa ini hanya sebatas gudang biasa tidak membuatku lantas mempunyai alasan untuk datang kesini. Mataku menjelajah mengamati setiap sudut ruangan yang sarat akan barang-barang terlantar. Banyak sekali lukisan-lukisan yang tergeletak mengenaskan di sudut barat, berdebu dan terabaikan. Disudut kiri terdapat kardus-kardus berukuran sedang yang di depannya bertuliskan nama-nama anak Warouw, kami berempat. Baju bayi Jojo. Mainan Jeff SD. DVD Kartun Yudith. Buku SD-SMP Gaga. Aku tersenyum membacanya. Jadi memang tidak sepenuhnya salah kalau papa menyebut ini gudang.
"Disini."
Gerakan tanganku yang ingin menyentuh pemutar piringan hitam terhenti. Kak Jeff berdiri di tengah-tengah ruangan sambil mengamatiku. Aku yang tidak tahu apa maksudnya hanya mengerut bingung.
"Pintu masuknya disini." Kak Jeff menghentak-hentakkan kakinya di lantai yang tertutup karpet. Kemudian ia berjongkok untuk menyibak karpet Turki bewarna merah itu. Dibawah karpet tersebut terdapat semacam blok persegi yang lumayan lebar. Aku mendekat untuk melihat lebih jelas. Tepat saat aku sudah berjongkok di hadapan Kak Jeff, blok persegi tersebut menjamblang terbuka setelah Kak Jeff menarik semacam pengait disalah satu sudut blok persegi tersebut. Mataku melongok ke dalam sana, disambut oleh tangga memutar dari besi. Lalu aku beralih menatap Kak Jeff yang sedang menyeringai ke arahku.
"Udah siap masuk dunia ini lebih jauh?" tanyanya tengil. Aku hanye berdecih dan berdiri untuk menuruni tangga tersebut. Disahut tawa renyah Kak Jeff setelahnya.
Sedetik setelah melihat keseluruhan ruangan bawah tanah ini, aku terkejut bukan main.
Berbeda sekali dengan ruangan di atas yang layak di sebut gubuk, ruangan ini jelas lebih modern dan mewah. Terlalu mewah hanya untuk menyimpan senjata. Dindingnya jelas bukan kayu, mungkin semen atau beton yang kemudian ditutupi oleh material keramik. Pencahayaannya terlihat artistic karena bernuansakan emas. Mirip cahaya matahari saat senja. Yang membuatku terkejut, sih, bukan ini. Namun deretan rak-rak kaca yang memajang berbagai jenis senjata.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Guns On My Back
General FictionNCT MAFIA ____________ Mana yang lebih baik bagimu? Mati di tangan musuh atau mati di tangan orang terkasih, sekalipun itu berarti pengkhianatan? Aku, lebih memilih mati di tangan terkasih. Pengkhianatannya tidak penting. Bagiku yang terpenting ad...