1.0

40 4 0
                                    

________________

Satu. Dua. Tiga.

Dengan cepat aku berbalik sembari menodongkan G2 Premium kal. 9mm dengan kedua tanganku. Langkahku semakin memasuki ruangan yang penuh bau oli, minyak, bubuk mesiu, bahkan darah ini. Pintu besi yang tadi sempat menyembunyikan keberadaanku bergerak menutup secara otomatis. Membuat ruangan ini semakin gelap dan pengap. Sedikit cahaya bulan yang menelusup dari ventilasi di bubungan sedikit banyak membantu pengelihatanku.

Mataku mengawasi siaga ke kiri-kanan. Mengantisipasi musuh yang dapat tiba-tiba menyergap ke arahku. Pistol dalam genggaman adalah laras pendek. Walaupun jangkauannya mencapai 25 m, yang mana lebih kecil dari lebar ruangan ini, jika tidak membidik dengan hati-hati, kemungkinan aku meleset pasti tinggi. Belum lagi aku tidak terlalu menguasai senjata api. Belum.

Suara kretek dari bagian atas gedung mengalihkan atensiku. Dengan cepat pistolku juga berubah haluan, mengarah pada sumber suara tadi. Aku tidak bisa melihat apa-apa, pun hening kembali menguasai. Yang mampu kudengar hanya suara napasku dan detak jantungku sendiri. Otakku berperang. Haruskah aku naik dan mencari sumber suara atau hanya menunggu seseorang menghadang saja?

Setelah beberapa tarikan napas, aku menurunkan pistol, mengembalikan ke holster yang tersemat di pinggang. Kemudian membungkuk untuk menarik belati Gerber Mark II dari sarungnya yang tenggelam dalam kaos kaki. Dengan langkah seringan yang kubisa, aku maju untuk menaiki tangga. Namun, sebelum berhasil mendekati tangga, seseorang sudah melompat turun menghadangku.

Sial.

Orang tersebut mendarat tepat di atasku. Tangannya mencekik leherku dan membenturkannya ke lantai sesaat sebelum aku telentang sempurna mencium dinginnya lantai. Aku menghabiskan dua detik untuk mengerang, kemudian menggerakkan tangan untuk menghunus belatiku. Malang, sebelum aku mengenai kulitnya, si brengsek ini sudah menahan tanganku dengan tangan satunya. Sedangkan tangan kiriku tertahan kakinya.

"Nice try, sweety."

Ugh, suara ini.

Dengan sekuat tenaga, aku berusaha membebaskan tangan kiri yang tidak memegang belati. Entah cowok ini yang tidak mengetatkan pertahanaannya, atau memang aku yang sekuat itu, usahaku berhasil. Tidak mau kehilangan momen, aku kemudian menarik kerah oknum di depanku. Setelah dekat, aku membenturkan kepala kami. Menambah pusing yang ku derita. Setidaknya, berkat aksi tersebut, cowok ini sedikit limbung dan memberiku kesempatan untuk bangkit.

Pergelangan tangan kuputar, berhasil melepaskan cengkraman pada tangan yang memegang belati tadi. Satu tanganku yang bebas ganti mencengkram leher cowok di depanku. Naas, dia sudah berhasil menormalkan keadaan dan kini balik mencengkramku. Tahu tidak ada kesempatan lagi yang tersisa, aku membalikkan tubuh dan memenjarakan tubuhnya di bawah. Belati yang berada mantap dalam genggaman kubawa tepat di lehernya, sedangkan kedua lengannya ku tindih dengan lutut. Aku merapatkan tubuh hingga mulutku berada tepat di telinganya.

"Don't. Call. Me. Sweety. You, bastard."

Setelah itu bagian belati yang lacip ku goreskan tipis pada tulang pipinya. Balasan atas rasa pusing yang kudapatkan tadi. Dalam gelap, aku bisa lihat ia menyeringai.

Belum sempat menarik napas lega, aku mendengar suara langkah dari belakang. Cukup untuk membuatku kembali siaga. Mengabaikan ucapan cowok di bawah yang entah mengoceh apa, aku berdiri dan berbalik dengan cepat. Belati tadi kutinggalkan di lantai, ganti menyabet pistol yang tadi sempat kutanggalkan.

The Guns On My BackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang