1.5

15 2 0
                                    

"You're handsome."

Terkadang, aku sendiri tidak yakin bagaimana cara kerja otakku. Aku bisa dengan mudah fokus akan sesuatu, namun sekali saja teralihkan, aku tidak mengingat apapun yang menjadi fokusku sebelumnya. Dan sekarang hal itu terjadi lagi.

Saat aku berbalik tadi, aku tidak sempat mengamati struktur wajah pria di depan dan hanya fokus pada matanya. Dan saat aku punya waktu untuk mengamati, aku menyadari bahwa sialnya calon pembunuhku ini tampan. Wajahnya lancip dengan tulang hidung yang tinggi. Bibirnya tampak penuh dan lebar, membuatku penasaran bagaimana rupa adam ini jika ia sedang tersenyum. Lalu matanya. Menatap matanya membuatku teringat pada danau yang terletak jauh di dalam hutan belakang rumahku. Gelap, dalam, dan aku pernah tenggelam disana.

"Kamu pikir trik seperti ini bakal mempan?"

Kernyitanku timbul dengan cepat mendengar responnya. Lalu menghilang sama cepatnya pula. Pria ini beringsut maju setelah tangannya yang menangkup kepalanku ia bawa kebalik tubuhku, menahannya disana. Ia masih terus bergerak maju sampai aku harus ikut bergerak mundur dan punggungku menemui besi pagar pembatas. Kini tidak hanya tubuhnya yang merapat padaku namun wajahnya juga.

"I'm so sick of this, you know? Girls like you I mean."

Okay. Pria ini sedikit kasar ternyata.

"To be honest, sir. Thats really what I thought about you. Tapi kalau kamu menganggapnya cuma bualan belaka, it's okay. I think it's better that way."

Keheningan kembali tercipta. Tatapan pria ini tidak selembut tadi, namun tidak bisa dikatakan ia menatapku tajam juga. Aku sungguh bingung mengapa ia masih bisa setenang ini di depan musuh sedangkan aku tidak berhenti gemetaran sedari tadi. Ya, memang dia yang memegang kendali, dan aku tampak seperti wanita tak berdaya di hadapannya. Tapi, apakah memang semua psikopat setenang ini saat ingin membunuh?

"Katakan sesuatu yang bisa menyelamatkan kamu."

"Sorry?" Ingatkan aku berapa kali aku terkejut karena pria ini hanya dalam beberapa menit terakhir. Baru saja aku bertanya-tanya tentang tindakan tidak biasanya dan ia sudah membuatku bertanya-tanya lagi tentang tindakannya yang lain.

"Maybe I'm not a good boy, but I'm not easily kill woman and child. Dan sayangnya, kamu masuk di dua kategori itu."

Oke. Sekarang jarak kami mulai membuatku risih saat ia berbicara dan napasnya ikut menampar wajahku. Kepalaku mendongak untuk melebarkan jarak. Menyapa langit di atas sana. Bulan sabit tadi masih setia menangkring di sana, dikelilingi mendung yang seakan-akan berebut untuk berdekatan dengan sang dewi malam. Untuk sesaat saja aku sempat berpikir kalau mati sekarang juga tidak terlalu buruk. Setidaknya aku belum menjadi pembunuh sesama spesies.

"J will kill you. No doubt." Tiba-tiba saja aku ingat bahwa Mark tadi sempat memberikanku pistolnya. Merasa bodoh di detik berikutnya karena bisa-bisanya aku melupakan hal tersebut. Diam-diam aku merogoh punggungku setelah tangan pria ini tidak menggenggam pergelanganku lagi. Naasnya, aku tidak bisa mendeteksi keberadaan pistol tersebut. Apa mungkin aku menjatuhkannya? Atau..

"Looking for this lady?"

Sial.

Pria ini sedikit memundurkan tubuhnya walaupun masih menodongkan pistolnya ke pelipis. Pistol Mark sudah beralih pada tangan satunya. Aku tidak tahu dan tidak sadar kapan ia merebut pistol tersebut. Tapi yang pasti, ia sudah merebutnya sedari awal karena ia mengambilnya dari balik punggung.

The Guns On My BackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang