Desember, 2018
"San, udah di Sukabumi kan?" Tanya Icus.
"Udah Cus, besok berangkat jam berapa?" Tanya Aku
"Besok kita berangkat jam sebelas siang, nanti dijemput sama Ina, bareng-bareng aja di mobil, jangan ngaret pokoknya yah"
"Okeh siap Ibu Bendahara kelas"
"Yo, siapkan dirimu besok Pak Ketua Kelas" jawab Icus
Aku tak tahu apa yang harus dipersiapkan. Mungkin mental. Tapi aku merasa lega Dia akan menikah. Entah kenapa, bebanku terasa sedikit berkurang.
Terdengar suara mobil di depan rumahku. Aku pun sudah mengira itu pasti teman-temanku. Aku pun segera berganti pakaian.
"Hah, gak salah San?" Tanya Icus
"Apanya yang salah Cus?"
"Pake baju yang rapih kek dikit, jangan kaya keliatan mau main gitu"
"Gak ada lagi Cus, bajuku semuanya kan di Bogor, yang nyisa tinggal ini aja"
Aku memakai baju berlengan panjang berwarna putih polos dan memakai celana jeans hitam. Tak apa lah pikirku, toh yang punya acara kan bukan Aku. Aku berpikir sangat simple saat itu.
Semakin dekat dengan tempat tujuan, semakin tak karuan. Perasaan yang bercampur aduk. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa nanti. Aku canggung.
Saat itu waktu menunjukan pukul dua belas siang, tapi cuaca mendung. Seakan mewaikili perasaanku saat itu.
"Ah ini mah kerjaan si Irsan yah" ucap Aldi
"San, kalau galau gak usah bawa-bawa alam kenapa" ucap Ari
"Tau nih, udah dandan rapih-rapih masa kehujanan sih" ucap Maya
"Apaan sih, emang lagi musim hujan aja kali, mitos banget sih kalian" ucapku
Benar saja, sesampainya ditempat tujuan, hujan disertai angin kencang pun terjadi. Aku tak tahu kenapa alam bisa mewakili perasaanku saat itu. Aku datang dengan membawa hadiah yang sudah dihias oleh temanku. Langkah demi langkah aku lewati, hatiku semakin tak karuan. Suara musik khas Sunda semakin terdengar lebih jelas setiap kali aku melangkahkan kaki. Terlihat pasangan pengantin di depanku. Seketika jantungku berhenti berdetak. Pikiranku mempersiapkan kata-kata yang apa yang harus aku lontarkan. Antrian untuk bersalaman dengan mempelai pun semakin panjang. Aku semakin tak siap rasanya.
"Jangan kaku, santai aja" ucap Ari.
"Iyah"
"San, jangan bertindak aneh-aneh yah" ucap Agus
"Hati-hati Gus, jagain si Irsan" ucap Bayadi
"Udah tenang aja, gak bakal ngapa-ngapain kok" Aku menjawab mereka semua.
"Oy cowok-cowok, ayo sini jangan ngobrol mulu" terlihat Ina dan yang lainnya sudah ada di pelaminan dan bersalaman.
"Siap Bu" serempak kami menjawab
Aku berada di urutan terakhir. Terlihat semuanya bersalaman. Dan tibalah giliranku. Kata-kata yang sudah aku siapkan semuanya sia-sia. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutku. Saat aku menyodorkan tangan untuk bersalaman, aku menutup mata karena berharap semua ini hanya mimpi. Kemudian saaat aku membuka, aku melihat Ai seperti ingin melakukan sebuah "Tos" daripada bersalaman. Aku menaikan tanganku dan kami pun bertos.
Terlihat semua temanku sudah mengambil makanan. Kemudian aku baru menyadari bahwa pakaian pengantin pria nya sama denganku. Ya baju putih dan celana hitam.
"Kamu sengaja yah pake baju yang sama dengan pengantinnya?" ucap Icus
"Eh enggak kok, kebetulan aja"
"Bisa pas gitu yah, tuh liat pengantin pria nya langsung ganti baju gara-gara mantan pacar istrinya datang dengan baju yang sama" kata Icus
"Ah biar aja, gantengan aku kok Cus"
"Ngaku ganteng, tapi ditinggalin, sampe sekarang gak laku juga, kasian" ucap Aldi
"Berisik ah kalian semua, cepetan habiskan makanan kalian, terus kita poto bareng" kata Aku kepada semua temanku.
"Sejak kapan kamu jadi tukang suruh gitu yah?" Tanya Ina
Setelah selesai menyantap makanan, kami semua pun berpoto-poto dengan pengantin. Terlihat ekspresiku begitu kaku ketika meihat hasil potonya. Tak ada satu kata pun yang bisa aku ucapkan. Bahkan setelah sekian lama tidak bertemu, Aku hanya bisa terdiam melihat senyuman khas yang terpancar dari raut mukanya. Senyuman yang selalu menguatkan orang lain. Senyuman yang menenangkan.
"Gimana rasanya San, datang ke undangan mantan?" Tanya Icus
"Lega, berasa gak ada beban lagi"sahutku.
"Sekarang kita kumpul di rumah Aku dulu yah, jarang-jarang kan kita bisa kumpul bareng kayak gini" ucap Ina
"Yah benar, kalian bisa kumpul hanya diantara dua kejadian, teman menikah atau teman meninggal" ucap Aku
"Kata-katamu masih kaya biasa yah, suram banget" Ucap Ina.
###
Tak akan ada masa depan jika tidak ada masa lalu. Terjebak dalam ingatan masa lalu pun tidak baik. Tapi jangan pula melupakannya. Sekuat apapun kita berusaha, jika sudah takdirnya, kita hanya bisa menerimanya. Jalani apa yang telah menjadi bagian kita. Jika Sang Pencipta berkata lain, maka itu bukan yang terbaik buat kita, atau bahkan kita bukan yang terbaik buat orang lain. Jangan terlalu memaksakan kehendak, pikirkan dampaknya juga untuk orang lain. Jangan egois. Kadang benar menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.
Aku selalu merasa, akulah yang paling dirugikan dalam kondisi saat ini. Akulah korban dari kejadian itu. Tapi aku tidak berpikir bahwa kejadian itu mungkin dampak dari segala perilaku juga. Aku sendirilah yang membuat keadaan menjadi semakin rumit. Egois. Tidak tegas. Pengecut. Itulah kata-kata yang ingin aku lontarkan kepada diriku jika aku bisa memutar waktu untuk melihat diriku di masa lalu. Tak ada pengorbanan sama sekali dalam hubungan itu. Bahkan menyempatkan untuk bertemu saja , Aku tidak bisa berkorban. Selalu beralasan dengan banyakya tugas kuliah yang menyebabkan aku tidak bisa bertemu.
Tidak ada yang rumit dalam cerita ini. Hanya pikiranku yang perlu diperbaiki. Aku terlalu berharap bahwa semuanya masih bisa seperti dulu. Berkumpul bersama. Bermain bersama. Semua orang pasti akan berubah. Aku tidak bisa lagi terjebak dalam kenangan masa lalu. Aku harus terus maju. Daripada menyesali hal yang sudah terjadi, lebih baik memperbaiki diri di hari ini.
Aku tidak pernah membencimu. Aku kagum.
###
Keesokan harinya,...
"San, bangun udah siang, mau berangkat jam berapa ke Bogor?" Ibuku memanggil.
"Iyah Mah, bentar lagi masih ngantuk"
"Pantes aja ditinggal nikah, bangun pagi aja susah, bagaimana mau bangun rumah tangga?" Ucap Ibuku sambil pergi ke dapur untuk memasak.
Seketika aku langsung terbangun, mandi, sarapan dan langsung membereskan barang-barangku. Aku memang tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki suatu persoalan. Akan tetapi, menceritakanya kepada muridku mungkin akan menjadi hal yang menarik. Setidaknya mereka jadi tahu, jika menginginkan suatu hal itu butuh pengorbanan.
"Mah, berangkat yah"
"Iyah hati-hati, kabarin jika sudah sampe"
"Iyah Mah"
Let it go ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Let It Go
Cerita PendekMelepaskan bukanlah hal yang mudah. Level tertinggi mencintai adalah merelakan.
