B a g i a n 7

27 4 3
                                    

Suasana rumah bernuansa minimalis itu sungguh sunyi. Sehingga dapat terdengar cukup jelas suara air dalam aquarium yang tertera di sudut ruang tamu.

Walaupun terkesan minimalis, namun rumah itu sungguh terasa hampa. Tidak ada pajangan foto, barang-barang antik, atau bahkan barang-barang koleksi keluarga mereka. Sekalipun ada, barang tersebut sepertinya tidak memiliki kesan apapun sang pemilik rumah.

Di ruang keluarga terdapat Jeha—mama Abian, sedang menonton serial tv favoritnya. Mendengar suara langkah yang menghampirinya, ia pun menoleh ke sumber suara tersebut.

"Mau kemana? Tumben malem-malem rapih banget?" tanya Jeha pada putra semata wayangnya itu.

Abian yang sudah siap dengan outfitnya itu pun segera menghampiri sang mama. Tak lupa sembari meminta izin. Kebiasaan seorang Abian, meminta izin jika dirinya sudah siap untuk jalan.

"Mau night ride ma," ucap Abian sembari tersenyum pada Jeha.

Mendengar hal itu, sekilas dalam pikiran Jeha terbesit hal buruk yang membuatnya khawatir. Tangannya gemetar, dan pandangannya masih lurus pada putranya itu. Entah mengapa semenjak kejadian beberapa tahun silam, kondisi mental Jeha sangat tidak stabil.

Abian yang menyadari bahwa panick attack sang mama kambuh pun segera menenangkannya.

"Ma, Abi, ga akan kenapa-napa kok, mama tenang aja ya? Abi kan pake helm, Abi juga ga akan ngebut-ngebut kok ma, mama ga usah panik lagi ya ma? Abi sebentar aja kok perginya," jelas Abian pada Jeha.

Mendengar penuturan Abian, Jeha sedikit tenang. Namun tetap saja pikirannya tidak karuan. Momen-momen menyakitkan seakan berputar begitu saja di pikiran Jeha. Kejadian nahas yang merenggut nyawa suaminya dan bahkan hampir merenggut nyawa putranya juga.

"Abi janji sama mama, ngga akan ngebut-ngebut ya?" pinta Jeha pada Abian dengan tatapan yang nanar.

"Janji mama ku sayang!" ucap Abian setelah itu ia mencium pipi Jeha, dan bergegas untuk menjemput Shanin.

Tanpa sepengetahuan keduanya. Diam-diam dibalik dinding tembok yang terletak di sebelah tangga, ada yang mendengar ucapan Ibu dan anak itu. Kemudian ia berkata, "maafin saya."

🎭🎭🎭

Sesampainya di depan gerbang rumah Shanin. Abian pun melepas helm full face miliknya, dengan segera ia mengambil ponselnya di saku celana dan mulai mengirim sebuah pesan pada Shanin.

Shanin yang baru saja selesai bersiap mendengar denting notifikasi pada handphonenya. Segera ia mengecek siapa yang mengiriminya pesan. Ternyata itu dari Abian.

Abi😾

Cepetan gue di bawah
7:23 PM

Shanin pun segera membalas pesan masuk dari Abian.

Shanin A

Iya tunggu
7:23 PM

Setelah dirasa benar-benar siap. Akhirnya Shanin pun segera keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga. Sesampainya di lantai bawah, terdapat Rana yang masih dengan pakaian kantornya sedang duduk di ruang keluarga untuk sekedar menonton tv.

Buru-buru Shanin menghampiri Rana untuk berpamitan.

"Bun aku jalan ya sama Abi," ucap Shanin.

Rana yang tadi sore diberi tahu oleh Shanin mengenai tujuannya pun tidak banyak bertanya, dan segera mengizinkan putri semata wayangnya itu untuk pergi dengan kekasihnya. Eh sahabatnya.

e s c a l eTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang