Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 1

83 6 0
                                        

Arsen

Sabtu, 23 Desember 2028

Hari itu terasa kelabu, sama seperti keseharianku. Aku tidak mengerti mengapa setelah semua perjuangan dan kerja keras yang kulakukan, justru harus ini yang kudapat. Apakah setelah aku merenggut nyawa banyak orang, harus nyawa mamaku yang dikorbankan sebagai gantinya? Rasanya tidak adil, mengapa tidak aku saja yang diambil-Nya. Mau menangis pun, rasanya perasaanku sudah mati. Tidak ada lagi air mata yang tersisa. Kini aku hanya bisa menatap wajah cantik mama yang sedang tertidur di tempat peristirahatannya yang terakhir.

Mobil hitam panjang yang kunaiki kini melaju memasuki pemakaman, tempat kelam di mana semua manusia harus kembali kepada Sang Pencipta. Kupandangi bunga merah muda dan kuning, yang berguguran menghiasi pemakaman-pemakaman di sekitarnya. Orang-orang berpakaian hitam telah berkumpul di bawah tenda tempat Mama akan dimakamkan.

"Mengapa aku di sini?" Batinku.

Aku kembali menyadari pandanganku, yang sedari tadi menatap liang lahat yang mulai tertutup tanah. Perlahan air mataku menetes, aku sudah kehilangan kendali untuk terus bersedih dan membasahi pipiku, hingga alam pikiranku kembali ke tempat di mana aku berdiri saat itu. Aku kaget dan perlahan mencari keberadaan mamaku. Kesedihanku kini sudah tak dapat dibendung, tangisanku pecah dalam diam.

"Ma, mengapa Mama harus meninggalkan Arsen? Apa waktu yang Arsen berikan untuk Mama tidak cukup? Bagaimana nanti Arsen akan bercerita dan mengajak Mama jalan-jalan. Bukankah Mama menginginkan seorang cucu? Akan Arsen carikan menantu yang baik untuk Mama. Bangun, Ma. Jangan tinggalkan Arsen sendirian di sini," lirihku dalam kesedihan.

Suara gemuruh mulai terdengar, seakan langit pun ikut marah dan bersedih atas kepergian mamaku. Satu per satu orang mulai pergi meninggalkan makam Mama. Hanya aku dan Papa yang tersisa di sini. Aku kini berlutut di depan makam Mama, menangisi kepergian wanita yang selalu setia dan rela menjadi tempatku untuk berkeluh kesah. Hanya penyesalan yang kini aku alami. Semalam setelah kejadian itu, pikiranku hanya tertuju pada Mama.

"Ma, bagaimana Arsen akan menjalani keseharian Arsen setelah ini. Bagaimana Arsen akan menjalani hari-hari tanpa Mama?" Ucapku dengan nada yang serak.

Berkali-kali aku menanyakan hal yang sama, seperti tidak menerima fakta bahwa Mama telah pergi meninggalkanku sendiri di sini.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengenai papaku. Papa adalah pria yang sangat berwibawa, tentu saja berwibawa dalam bidangnya tersendiri dan tidak sekalipun ia bersikap lemah di hadapan orang-orang dan bahkan di hadapanku sendiri. Namun, Papa selalu nampak berbeda saat berada di depan Mama. Ia menunjukkan keseluruhan sisi dirinya  yang tidak pernah ia ungkapan di depan orang lain kepada wanita yang sangat dicintainya itu. Hari ini, Papa benar-benar seperti orang yang kehilangan akal. Pakaiannya acak-acakan, tangisannya terdengar memilukan. Aku bukanlah orang yang pandai menghibur, bahkan untuk menghibur diri sendiri pun aku tak bisa.

Sore ini menjadi waktu yang sangat melelahkan bagi aku dan Papa. Rintik hujan mulai membasahi jas yang kami kenakan. Sekarang aku mengerti, rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi untuk selamanya. Aku mengerti rasa sakit dan kerinduan yang akan dirasakan hati ini ke depannya.

"Baiklah, mulai dari saat ini aku akan bertekad. Aku bertekad untuk tidak menjalani misi keluargaku yang selama ini harus kujalani lagi. Maafkan Arsen, Pa. Arsen tidak akan melanjutkannya lagi, cukup sampai Mama saja yang meninggalkan keluarga kita. Arsen tidak mau ada korban ataupun orang lain yang harus merasakan sesaknya penderitaan ini," bisikku dalam diam.

Tapi, apakah Papa akan setuju begitu saja? Apakah Papa akan membiarkan misi keluarga Willson ini berhenti cuma-cuma karena aku? Pasti akan sangat berat baginya untuk menuruti kemauanku. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kuhembuskan nafas berat kali ini untuk  berpikir berulang kali, mencari segala macam cara untuk menghadapi situasi yang akan datang.

Aku, Kamu, dan Mis(i)teri KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang