Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Epilog

27 3 0
                                        

Aku sudah tak tahu lagi. Haruskah aku melihatnya sebagai sebuah berkat atau kutukan? Dalam kehidupan ini, orang akan terus datang dan pergi. Tak ada satupun makhluk fana yang akan terus-menerus berada di samping kita. Kedatangannya seakan menghiasi hatiku yang kosong ini, dan kepergiannya? Kepergiannya merenggut bukan hanya sebagian dari hatiku, tetapi ia merenggut seluruh isi hatiku. Jiwaku pun luruh. Bahkan, tubuh fanaku juga tak sanggung untuk menahan kesedihan yang amat berat ini. Pikiranku dipaksa untuk menerima seluruh situasi ini.

Angin sore itu berhembus kencang, daun-daun kering mulai berguguran di sekitarnya. Kurasakan terpaan angin yang mengenai wajahku. Lagi-lagi, aku memberanikan diriku untuk melihat makam yang berada di depanku. Aku menabur bunga yang sebelumnya kubeli dari penjual bunga di pintu masuk pemakaman. Sedikit demi sedikit, bunga itu kutaburkan hingga habis. Tanpa kusadari air mata mulai membendung di kelopak bawah mataku. Mataku mulai berkaca-kaca, tetapi mengapa? Aku tak bisa menahan tangisku sendiri. Tembok pertahanan ku runtuh seketika, air mata yang mengalir semakin deras membanjiri kedua pipiku. Maaf, maafkan aku, sebelumnya aku masih bisa tegar, tetapi sekarang untuk menegakkan kepalaku saja aku tak mampu. Melihat dunianya yang berbeda itu kini berada di hadapanku, aku tak bisa memendamnya lebih lama lagi.

Kakiku tidak bisa menahan beban itu lagi. Menopang berat tubuhku yang semakin tak berdaya ini, lututku langsung terjatuh menyentuh tanah. Biarkanlah tanah ini mengotori diriku, aku sudah tidak peduli dengan kotornya tanah yang mengenai pakaianku. Aku melepaskan semua yang kutahan dalam hati ini. Melepaskan segala beban, kesedihan, amarah, kebahagiaan, dan bahkan kekosongan hatiku selama ini.

"Tolong, kembalilah kepadaku," kataku yang diselingi oleh isak tangisku.

"Aku belum bisa mengumpulkan niatku untuk melepaskan apa yang sudah meninggalkanku," kataku dengan air mata yang menetes ke atas permukaan tanah.

Aku tahu bahwa semua perkataan dan tangisanku akan menjadi sebuah kesia-siaan. Kesedihanku tidak akan membuatnya kembali. Ia sudah pergi, ia sudah tenang, dan ia tidak akan kembali. Aku berusaha untuk menerima semua fakta yang menerjang hidupku bagai ombak yang menyapu pantai. Fakta yang menandakan bahwa sudah cukup bagiku untuk berlarut dalam kesedihan ini.

"Baiklah." Seruku dengan niat yang sudah terkumpul.

"Aku akan melepaskanmu pergi." Kataku dengan tenang dan diselingi oleh air mata.

Di lain sisi, aku percaya dirinya akan terus melihatku dan menjagaku dari atas sana. Aku menengadahkan kepalaku ke atas, menatap langit yang semakin senja. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang mereka. Aku menghembuskan nafasku lega, benar-benar melepaskan segalanya yang selama ini terpendam di dalam hatiku.

"Sampai bertemu disana." Ucapku.

Akhirnya, aku kembali menguatkan diri dan segera berdiri. Kuambil sapu tangan dari kantong celanaku dan mulai membersihkan wajahku. Kurapihkan bajuku kembali sehingga rapi seperti semula. Ku dengar suara yang tak asing dari kejauhan, seorang wanita memanggilku. Aku mengenal suara itu, suara yang membuatku selalu nyaman untuk berada di dekatnya.

"Ayo kita pulang!" Seru wanita itu dari kejauhan.

"Iya. Tunggu aku di sana!" Ucapku sambil berjalan menuju sumber suara itu.

"Pa, apa setelah ini Papa dan Mama akan mengajakku pergi ke taman pinggir kota?" Tanya anak kecil yang nampaknya antusias itu.

"Iya, Nak. Papa dan Mama akan mengajakmu ke sana. Kami akan menceritakan sebuah kisah yang indah sampai kamu tertidur lelap dalam pelukan kami," balas Arsen.

"Iya, Nak. Nanti kita akan ke sana, lalu kita akan bersantai di kedai kecil di taman pinggir kota itu sambil makan dan minum. Bagaimana?" Kata Alena dengan lembut.

"Oke Ma, Pa, aku sudah tidak sabar. Ayo cepat kita pergi ke mobil." Seru anak itu dengan ceria. Mereka bertiga pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke mobil untuk pergi ke taman pinggir kota.

Aku, Kamu, dan Mis(i)teri KitaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang