Husain melihat jam sudah menunjuk pukul tiga sore. Bisa-bisanya dosen yang mengajarnya sekarang telat setengah jam dari jadwal yang udah ditentuin.
–Juna: Sen, dimana? Gue ama Yoyok udah di parkiran. Sent 15:02.
–Husain: Bentar, nih dosen gue masih belum selesai. Sent 15:02.
–Yoyok: Keluar aja udah. Orang udah jam segini. Sent 15:03.
–Husain: Tunggu dong! Btw tuh anak baru udah kalian kasih kabar kan? Sent 15:03.
–Juna: Udah kok. Mereka juga udah ada di grup ini kan. Udah gue pc juga. Sent 15:03.
–Husain: Oke. Siapin aja matrasnya. Bentar lagi gue kelar. Sent 15:03.
Harun dan Johan sudah siap dengan celana training dan juga sepatu olahraganya. Gedung FISIP dan FIB memang letaknya tak cukup jauh jadi mereka tidak perlu terburu-buru.
"Lu serius gak sih? Kalo enggak kita balik aja!" Ucap Johan masih ragu dengan keinginan Harun.
"Ya elah, Jo! Udah kepalang tanggung! Coba aja dulu!" Harun akhirnya berjalan keluar dari toilet FISIP setelah memastikan bahwa pakaian ganti, handuk kecil, dan botol air minumnya sudah aman di tas.
Johan hanya bisa memutar bola matanya kesal. Bagaimana lagi, ia tak bisa menolak keinginan Harun. Pandangan mahasiswa yang berjalan di lorong FISIP seketika tertuju pada Harun dan Johan yang terlihat cukup nyentrik. Padahal mereka hanya memakai celana training dan juga kaos.
"Kenapa sih lihatin kayak gitu? Risih banget gue!" Ucap Johan sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Itu karena kita adalah bintang!" Ungkap Harun sambil merangkul Johan.
"Ngaco!" Johan akhirnya tertawa mendengar ucapan Harun.
Mereka pun berjalan meninggalkan gedung FISIP dan tak berselang lama akhirnya terlihat parkiran FIB yang sudah mulai kosong. Beberapa mahasiswa memutuskan pulang dari kampus di jam segini karena memang mereka sudah tak memiliki mata kuliah untuk dihadiri lagi. Tapi berbeda dengan mahasiswa FIB, disini ternyata cukup banyak kegiatan seperti tari tradisional, modern bahkan sampai teater.
Mata Harun menelisik mencari dimana kakak tingkat yang menghubungi kemarin, sampai akhirnya ia melihat ada beberapa matras telah terpasang di sudut parkiran. Segera Harun menarik lengan Johan untuk menghampiri mereka.
"Selamat sore, Kak!" Salam Harun sambil sedikit menunduk. Johan sepertinya tak menangkap sinyal untuk mengikutinya sampai Harun harus menyenggol perutnya.
"Eh, sore, Kak!" Salam Johan setelah diingatkan oleh Harun.
"Sore, jangan panggil kak dong! Kelihatannya kaku, panggil kita Abang aja!" Ucap Juna sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Oke, siap, Bang!" Ucap Harun dengan senyum lebarnya.
"Bentar ya, Husain masih kelas. Bentar lagi pasti nyampe kok!" Ucap Yoyok yang sedang membenarkan tali sepatunya.
"Eh itu si Husain!" Juna menunjuk ke arah pintu masuk parkiran. Disana Husain sudah siap dengan trainingnya namun ia masih mengenakan kemeja flanelnya.
"Lama amat, lo!" Ucap Yoyok sambil menepuk celananya yang sedikit kotor karena duduk di tanah.
"Biasalah. Hai, nama lo berdua siapa?" Tanya Husain kepada dua adik tingkat barunya.
"Gue Harun, bang, dari HI 19. Kalo ini Johan dari Sosio 19." Ucap Harun mewakili. Husain yang terkejut langsung reflek menutup mulutnya.
"Kita tua banget!" Ucap Husain yang langsung ditertawakan oleh semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIAMONDS | Treasure
FanficHusain adalah seorang mahasiswa yang mempunyai impian untuk mendirikan tim cheerleader di kampusnya. Tapi bukan tim dengan anggota campuran pria dan wanita melainkan hanyalah anggota pria saja. Bersama Yoyok dan Juna, mereka bertiga memulai tim ini...
