Chapter 8 - Dekan Cup

6 1 0
                                        

Harun melangkahkan kakinya menuju ke ruang latihan dance, "Kak..." Panggilnya pelan.

Maheswara yang sedang sibuk menari pun menoleh dan menatap Harun takjub dari atas hingga bawah. Harun terlihat cukup cerah dengan atasan berwarna biru muda dan bawahan celana pendek putih dengan sepatu yang berwarna putih juga.

"Today is the day, right? Are you ready?" Tanya Maheswara.

"I'm not ready yet. Karena gue harus jujur tentang sesuatu ke kakak." Maheswara mengangkat kedua alisnya heran lalu duduk bersila diikuti dengan Harun.

"Gue minta maaf." Ucap Harun sambil menunduk. Bahkan untuk menatap mata Maheswara, dirinya sudah tidak sanggup.

"Soal apa?" Tatapan Maheswara yang tadinya teduh berubah kembali menjadi dingin. Hal ini semakin membuat Harun takut bukan main.

"Dari awal... tujuan gue belajar dance dari lo bukan karena gue emang pengen belajar." Ucap Harun dengan gemetar.

Maheswara terdiam. Ia menunggu Harun mengucapkan kalimat terakhirnya.

"Tapi karena gue pengen lo gabung sama tim gue." Ucap Harun pada akhirnya.

Rasa kecewa terlihat dari mata Maheswara. Padahal dalam hatinya ia senang melihat Harun bekerja keras kemarin meskipun itu untuk timnya. Tapi Maheswara kecewa, Harun ternyata tidak tulus untuk berlatih.

Tanpa banyak bicara, Maheswara lalu berdiri dan mengambil semua perlengkapannya lalu memasukkan ke dalam tasnya.

"Kak, please dengerin gue dulu." Ucap Harun dengan perasaan kacau.

Maheswara tak menggubrisnya melainkan mulai menutup resleting tasnya dan menatap Harun penuh dengan amarah.

"Gue udah percaya sama lo. Gue kira lo seniat itu belajar buat dance, even buat kelompok sirkus loh itu! Tapi gue gak nyangka ternyata lo ada maksud lain." Ucapan Maheswara sangat menusuk di hati Harun.

Selanjutnya Maheswara pun langsung keluar dari ruang latihan. Harun jatuh terduduk. Perasaan cemas mulai menghampirinya.

Dia kecewa... dengan dirinya sendiri.

Johan yang melihat Maheswara keluar dengan terburu-buru pun langsung memasuki ruangan latihan. Ia terkejut melihat Harun terduduk memeluk lututnya. Badannya gemetar dan mulai dingin.

"Lo kenapa? Jelasin sama gue!" Tanya Johan panik sembari mulai berlutut di depan Harun. Tanpa menjawab, Harun langsung memeluk Johan dan menangis. Johan dapat merasakan air mata Harun membasahi dadanya dikarenakan kostum yang ia kenakan cukup tipis.

"Sssh! Lo tenang ya! Ada gue..." Ucap Johan sambil menepuk-nepuk pelan punggung Harun.

"Lo gak salah kok! Ini jelas bukan salah lo! Tenang ya... Everything gonna be fine. Trust me!" Johan sepertinya sudah paham dan tak ingin bertanya lebih lanjut. Dari awal kedatangannya kesini adalah untuk menemani Harun yang akan memberi tahu tentang tujuannya berlatih dengan Maheswara. Berharap Maheswara bisa luluh, namun yang terjadi justru di luar dugaan.

Harun masih sesenggukan dalam pelukan Johan. Semenjak hari dimana Husain mengumpulkan mereka, Johan mulai paham bahwa Harun adalah pribadi yang lembut. Padahal dari luar ia terlihat cukup sangar, namun siapa sangka ia bisa se-mellow ini.

"Nangis dulu yang banyak! Jangan sampe Bang Husain lihat, bakal kena omel lo udah ngotorin baju gue." Ucap Johan berusaha mencairkan suasana.

"Apa sih lo?!" Jawab Harun sembari tertawa kecil. Johan cukup lega mendengarnya.

Harun pun melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya yang basah. "Make up gue." Ucapnya spontan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 08, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DIAMONDS | TreasureCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang