Chapter 5 - Djae & Esa

6 1 0
                                        

Klinting!

Husain melangkahkan kakinya ke dalam kedai kopi depan kampusnya. Dirinya ingin mencari suasana baru untuk mengerjakan tugas menganalisis sebuah puisi. Bagi orang dengan jurusan seperti ini, ketenangan adalah kunci dalam mengerjakan tugas.

Cafe bernuansa coklat dan abu-abu dengan aksen tanaman di beberapa sudut ruangan sangat enak untuk dipandang. Pemandangan seperti ini merupakan surga bagi mahasiswa Sastra seperti Husain.

"Americano satu ya!" Ungkap Husain kepada barista yang sedang melayaninya.

"Atas nama siapa kak?" Tanya barista itu dengan senyum lebarnya.

"Husain. Hu-sa-in." Ejanya agar barista itu tak menulis dengan Husein atau Husen seperti yang biasa orang lain tulis.

"Baik kak. Ditunggu ya?" Setelah memberikan uang Husain langsung mencari spot dekat dengan jendela besar yang menghadap ke arah jalanan. Ia begitu menyukai jalanan, entah kenapa dengan melihat motor dan mobil yang berjalan beriringan dapat membuat hatinya tenang.

Selang 15 menit Husain hanya termangu sambil menopang dagu menatap ke arah luar. Tanpa ia sadari bahwa namanya telah dipanggil berulang kali oleh barista tadi.

"Kak Husain!" Panggil barista itu sambil menepuk punda Husain pelan.

Husain terkejut lalu menatap si barista dengan malu, "Astaga, gue sampe lupa. Makasih ya udah dianterin!"

"Pusing banget ya Kak?" Tanya barista itu tanpa menurunkan senyumnya sedikitpun.

"Iya nih. Tugas makin banyak aja semester 5 ini. Ditambah ada tim yang harus gue urusin." Jelas Husain tanpa ia sadari.

"Eh, kok gue jadi curhat gini. Sorry-sorry!" Ucap Husain lagi.

Barista itu tertawa, "Gak masalah, Kak! Aku temenin ya? Lagian juga kedai lagi sepi kok jadi gak seberapa repot."

"Ya udah lo duduk aja. Temen gue lagi gak bisa nemenin gue nugas soalnya." Husain mempersilahkan barista itu duduk di depannya.

"Nama lo siapa?" Tanya Husain sambil mengulurkan tangannya.

Barista itu menjabat tangan Husain, "Djaelani, Kak! Panggil Djae aja!"

Setelah melapaskan uluran tangannya, Husain mulai merasa tak asing dengan pria di depannya ini, "Kok gue gak asing ya sama lo? Anak kampus sini juga?"

"Hehe, iya Kak. Dari jurusan Manajemen Bisnis angkatan 2018." Ucapan Djae benar-benar membuat Husain melongo tak percaya.

"Lo Djae-Djae itu? Yang masuk akun instagram ganteng–"

"Aduh, Kak. Malu aku. Jangan keras-keras!" Ucapnya sambil menunduk.

"Pantes gak asing, lagian lo cakep banget sih. Pantesan bisa masuk tuh akun. Udah bisa ngendorse dong sekarang?" Tanya Husain lalu tertawa diikuti oleh Djae.

"Hehe. Enggak gitu, Kak. Bukan apa-apa kok. Itu mah bonus aja. Kerjaan aku sepenuhnya dari sini." Ucapnya lagi.

"Nih anak sopan banget." Batin Husain tak habis pikir.

"Oh, iya jangan panggil gue kak! Terus pake lo-gue aja. Jangan kaku-kaku gitu!" Ucap Husain sambil menepuk pundak pria di depannya itu.

"Hehe, iya Bang. Dari jurusan apa nih Bang?" Tanya Djae. Husain hanya menunjukkan kumpulan puisi di depannya.

"Sasindo ya? Keren dong! Gue dulu pengen banget tuh masuk sana Bang!" Ucap Djae sambil membaca kertas yang tadi ditunjukkan oleh Husain.

"Oh iya? Terus kenapa malah nyasar ke ekonomi?" Husain mulai tertarik dengan personality Djae. Dari sikap bicaranya udah menunjukkan kalau dia anak yang baik.

DIAMONDS | TreasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang