Chapter 4 - Maheswara

11 2 0
                                        

Hari ini Harun sedang berada di depan ruang seni Departemen Hubungan Internasional. Jurusannya memang sedikit lebih menonjol daripada jurusan lain di FISIP, itu semua tak lain dan tak bukan karena biaya semester mereka yang paling mahal.

Dengan laptop di pangkuan dan juga earphone di telingnya, Harun yang sedang duduk lesehan mencoba mencari tahu bagaimana lagu yang biasa dipakai pada saat penampilan cheer berlangsung. Ia mencoba mengulik beberapa lagu yang menurutnya menarik. Apabila sudah terkumpul cukup banyak maka ia akan memberikannya pada Husain.

–Harun: lo dimana? mau ke kantin bareng gak? Sent 13:42.

Harun terbiasa sendiri karena ia tak begitu kenal dekat dengan mahasiswa di jurusan yang sama dengannya. Sedangkan Johan? Cukup lucu sih sebenarnya. Mereka berada di satu kelompok yang sama pada ospek jurusan dan juga fakultas. Itu lah sebabnya mereka jadi sangat dekat. Johan mungkin mahasiswa yang aktif di jurusannya tapi apabila menyangkut Harun ia rela melakukan apa saja. Karena bagi Johan, sangat sulit menemukan teman setulus Harun.

–Johan: gue di koperasi, lo dimana? biar gue samperin. Sent 13:48.

Lihat bahkan Johan sangat cepat merespon pesan dari Harun.

–Harun: gue di depan ruang seni kayak biasa. bawain gue es krim dong, gue lagi cari lagu nih. Sent 13:49.

–Johan: oke! Sent 13:51.

Harun kembali pada kepekaannya mendengar setiap ketukan bahkan rasa untuk beberapa lagu yang ia dapatkan. Husain sempat bilang padanya, bahwa lagu dalam cheerleading bukan hanya soal konsep keceriaan, tapi kemudahan dalam tempo juga penting. Karena percuma memakai lagu yang terlalu up beat tapi masing-masing anggotanya tak bisa menemukan tempo yang tepat.

Dari sudut penglihatannya Harun sudah dapat melihat Johan dengan dua es krim di tangannya. Harun yang melihat itu langsung saja menatapnya dengan ekspresi bahagia.

"Wah, baik banget!" Ucap Harun langsung menyahut es krim dari tangan Johan.

"Makasihnya mana?" Tanya Johan sambil memukul pelan kepala Harun.

"Makasih!" Ucap Harun cuek dan langsung memakan es krimnya. Johan mendudukkan dirinya di samping Harun lalu mengambil satu earphone yang sedang dipakainya.

"Play dong!" Perintah Johan pada Harun. Dengan semangat Harun menyetel lagu yang sudah ia temukan. Ia harap Johan senang dengan ini, agar dirinya bisa membantu saat penyampaian kepada ketiga seniornya nanti.

Lagu pun dimulai, Johan sesekali menggoyangkan kepalanya demi menemukan tempo yang pas.

"Tempo lu salah! Gini coba ulang..." Harun mengulang lagunya dan memulai menghitung dengan menunjukkan jarinya pada Johan. One, two, three, four, five, six, seven, and eight. Harun terus mengulang itu sampai Johan mulai mengangguk dan merasakan tempo yang ditunjukkan olehnya.

"Nah gitu dong!" Ucap Harun dengan bangga. Ia lalu membiarkan Johan menyelesaikan satu lagu darinya.

"Lo denger sesuatu gak sih?" Tanya Johan pada Harun.

Harun celingukan lalu melepas earphone di telinganya, "Denger apaan?" Johan yang mendengar itu memutar bola matanya sebal.

"Dengerin lagi coba!" Ucap Johan. Harun mulai menyadari sesuatu lalu menatap ke pintu ruang seni secara bersamaan dengan Johan.

"Ada siapa di dalem?" Tanya Johan. Harun hanya menggeleng lalu meletakkan laptopnya di lantai. Dengan es krim masih di mulutnya ia berjalan dengan langkah pelan menuju ke arah pintu ruang seni.

DIAMONDS | TreasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang