Part 7

38 4 0
                                        


Alvan dan Alexa terlihat sangat lelah berkeliling kebun binatang hari ini.
Perut mereka sepertinya berteriak meminta makanan.

Cafe Hujan menjadi pilihan Alexa. Langkah kaki Alvan terasa sangat berat. Entahlah, ia hanya merasa ada sedikit rasa tidak nyaman ketika ia dan Alexa masuk keruangan Cafe Hujan.

Senyuman diwajah Alexa tak hentinya terpancar. Alvan tak habis pikir, sesenang itukah gadis yang duduk dihadapannya ini?

Tak lama selang waktu mereka duduk, pelayan Cafe ini sudah mendatangi mereka demi mencatat pesanan pelanggan. Alexa dengan sigap menyebutkan pesanan mereka berdua setelah membaca buku menu sebentar.

" Ah ayolah Alvan. Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Nanti ketampananmu akan luntur " Alexa mengedip-ngedipkan matanya lucu, menggoda Alvan yang terlihat kesal sekarang.

Alvan mendengus. Tak habis pikir dengan kelakuan gadis dihadapannya ini.

"Seharusnya kau membayarku mahal untuk waktu luangku yang berharga ini, Alexa"

"Sejak kapan kau menjadi perhitungan seperti itu?" Alexa terdengar sarkastis. Padahal dirinya mati-matian menahan senyum dan taj tertawa karna begitu menyenangkannya membuat Alvan seperti sekarang.

Sekarang, Alvan sadar nada suara Alexa berubah. Ah selalu saja seperti ini. Alvan mencoba mencairkan roman tegang diwajahnya. Alvan berdehem.

"Lupakan"

Sedetik setelah itu, Alexa tertawa keras memegangi perutnya. Membuat semua mata pengunjung menoleh untuk sekedar melihat apa yang sedang terjadi pada meja mereka.

Tersadar, kalau dirinya hanya dikerjai Alexa membuat wajah Alvan kembali ditekuk.

***

Tawa itu pecah menggema terdengar semua pengunjung Cafe, tak terkecuali Ana sendiri. Tawa itu terdengar keras, tetapi tetap terdengar merdu ditelinga Ana.

Keningnya mengkerut, memikirkan apa yang terjadi sehingga membuat orang itu tertawa? tapi sebelumnya, ia melihat sesosok punggung yang membelakanginya itu terlihat tegang. seperti terlibat dalam pembicaraan serius. Lalu, setelah gema tawa itu pecah. Punggung tegap tadi kembali rileks.

Pandangan matanya kian mengabur.
Pergi menjadi pilihan yang tepat bagi Ana. Tak kuat. Tak ingin menangis.
Kenapa? kenapa ia harus bertemu dengan sosok yang tak ingin dilihatnya saat ini. Berusaha menahan gemuruh yang mulai memberontak dalam hatinya.

Ana melangkahkan kakinya berjalan menjauh meninggalkan Cafe Hujan. Bergegas, ia mengemudikan mobilnya. Hingga 1jam perjalanan yang ditempuh, Ana sampai ditempat tujuan. Tempat yang sudah lama tak ia kunjungi.

Ana keluar dari kursi pengemudi, berjalan hingga dirinya sampai di sebuah pondokan kecil yang nyaman menghadap sebuah danau yang tenang.

Sudah berapa lama ia tak pergi mengunjungi tempat ini?

Luruh. Bahunya bergetar. Airmatanya jatuh. Gemuruh amarah yang ada dalam hatinya akhirnya tumpah ruah. Tak kuat melihat gadis itu--Alexa berada disamping Alvan. Selalu.
Binar keceriaan terpampang diwajahnya, tatapan berseri terlihat. Walau roman wajah itu tak tampak juga pada Alvan, tapi rasanya Ana tau bahwa Alvan juga senang.

Yang ia butuhkan ialah penopang, untuk saat ini saja.

Jemarinya yang bergetar menekan tombol panggilan cepat nomor 1 pada ponselnya.
Sambungan pun terhubung.

"Haloo" suara serak Revan terdengar mengalun

"......"

"Ana apa kau menangis?" Ana tak menjawab. Isakan kecil dari bibirnya seolah memperjelas semuanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 11, 2015 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

InvisibleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang