20 Januari 2020

345 21 2
                                        

Aku memandang anak didepanku. Bocah 19 tahun ini mulai menangis dipelukan kekasih satunya. Sham tahu, dia memang harus bersikap seperti biasanya. Namun, baru kali ini aku bisa seganas ini pada Ana. Kali ini aku benar-benar tidak suka, jujur saja.

Sesekali tatapan tajam aku layangkan hanya untuk membuat Ana takut dan menyesali perbuatan yang sudah Ana lakukan. Perbuatan yang benar-benar membuat Aan dan Sham geram.

Ya, Ana membuat orang-orang khawatir akan dirinya. Temannya, dengan berani membuat orang yang paling berarti bagi Sham dan Aan menitikan air matanya. Mereka sama sekali tidak terima dengan apa yang sudah mereka lakukan. Ini bukan untuk membuat Ana menangis, Sham dan Aan hanya ingin melindungi orang kesayangan mereka.

Sham mulai mendekati Ana dan Aan yang sedang mendekapnya, memberikan sapu tangan yang selalu dia bawa kemanapun. Dan menyeka air mata yang keluar dari mata Ana. Ana yang meringkuk ketakutan membuat Sham dan Aan khawatir dan langsung mengacak surai milik Ana dengan lembut.

'Sham~~'

Suaranya bergetar, ahhhh ini salahku juga.

"sssttt, maafin kita ya Ana"

Hanya itu yang bisa kita ucapkan. Pasalnya kita tidak ingin membuat Ana terluka lagi.

Grepp....

Ana mulai memeluk erat tubuh Sham. Ana tenggelam di dalam pelukanku begitupun Sham membalas pelukan itu dengan erat. Tubuh Ana yang lebih kecil membuat Sham dan Aan gemas saat memeluk dan melihatnya. Bibirku kembali menenangkan hati anak bocah berusia 19 tahun ini.

"Sham dan Aan meminta maaf karena telah membentak bahkan membuat Ana takut. Bukan maksud kita buat kaya gitu, tapi inget lagi ya ini salah Ana. Ana harus tau kalo Ana bener-bener salah kali ini." kataku (Sham)

"Ana gausah takut lagi ya, dengerin kita. Kali ini bener-bener salah Ana. Kita ga nyalahin, tapi bener ini salah Ana." Aan menambahkan.

Jika kalian ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, akan kuberi tahu.

.
.
.

Telepon berdering menandakan panggilan masuk ke handphone ku. Ah Papah Ana rupanya.

"Ada apa pah?" bukaku.

'Ana sama kamu ga Sham? Soalnya gasama Aan. Temen-temen yang lain juga gasama Ana katanya, Papah nelpon kamu siapa tau kamu sama Aan.'

Permasalahannya ternyata Ana yang menghilang entah kemana dan bersama siapa, kalian tau bukan? Ana tidak pernah memegang HP nya ketika sedang berada diluar rumah.

Kita semua telah menemui jalan buntu, entah harus kemana dan harus menanyakan pada siapa. Saat ini sudah petang, tetapi Ana benar-benar tidak ada kabar.

Setelah menunggu dengan rasa penuh kekhawatiran, akhirnya Ana pulang diantar oleh Teman Kampusnya. Apakah dia tidak tahu Etika atau pun Tata Krama?

"Siapa kamu? Dan berani-beraninya kamu bawa anak orang tanpa memberi kabar pada keluarganya? Kita perlu bicara" kataku.

Ah tidak, kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku. Dan bahkan kini Aan sudah membawa orang itu keruang tengah. Aku membawa Ana yang mulai bergemetar.

.
.
.

Kini, orang yang dengan berani membawa Ana tanpa memberi kabar tengah 'diintrogasi' oleh banyak orang, tepatnya Sham.

"Indra, kamu tau kan kamu salah? Kamu dengan berani membawa Ana pergi keluar tanpa meminta ijin dan tanpa memberi kabar. Saya tahu, kamu teman kampusnya yang ingin lebih mengenal Kota ini, tetapi apa kamu tidak memiliki Etika atau Tata Krama? Setidaknya meminta ijin kepada orang tuanya. Oh iya, kamu tidak menjemputnya. Bahkan membiarkan Ana memakai kendaraan umum. Ahhh pantas saja, apa kamu takut untuk meminta ijin? Kamu ingin mendekatinya? Bukan begitu?"

Percuma saja, dia hanya menunduk dan meminta maaf. Aku benar-benar tidak marah, hanya saja ini tidak sopan, dan perasaan khawatir.

.
.
.

Setelah perbincangan cukup panjang yang terjadi sebelumnya, kali ini hanya kita bertiga yang tersisa. Ah harus disayangkan, orang tuanya benar-benar harus pergi meninggalkannya lagi untuk perjalanan bisnis, dan menitipkan Ana pada kita.

Ahhh hampir lupa, mereka sudah menyerahkan masalah ini pada kita, mereka sudah cukup percaya untuk menyerahkan masalah anaknya pada kita.

Sebenarnya kita cukup prihatin akan keadaan Ana yang setiap saat harus ditinggalkan oleh orang tuanya sedari dia kecil hingga saat ini. Tetapi dibalik semua itu mereka mempunyai alasannya tersendiri bukan? Kita tidak boleh menyalahkan keadaan.

———————————————————————

Setelah Ana tenang dan merasa nyaman, kita memutuskan untuk tidak membahas permasalahan yang tadi. Kita tidak ingin membuatnya merasa tersudutkan dan berlanjut dengan menonton film 'kartun' hingga Ana terlarut dalam tidurnya dengan menggenggam boneka kesayangannya, tanpa memperdulikan kita yang sangat ingin dipeluknya.

.
.
.

Tbc...

Just him, Only himTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang