2 Januari 2020 // 2

1K 44 4
                                        

Sebuah cahaya sang mentari mulai memasuki bilah-bilah gorden yang tergerai menutupi jendela kamarku. Membuatku terusik dengan cahaya sang mentari itu.

'Hm, pukul berapa ini?'

Aku mencoba mencari jam yang berada tepat diatas nakasku.

Prang...

'Ah apa itu?'

Tidak sengaja aku menjatuhkan sesuatu yang berada diatas nakasku. Membuatku tersadar sepenuhnya.

'Ah, susu siapa ini? Siapa yang menyimpan susu ini disini?'

Terasa masih hangat, seperti memang sengaja dibuat untukku. Mungkin mamahku yang telah membuatkan susu ini untukku. Tapi, maafkan aku karena telah menumpahkannya begitu saja tanpa menyicipi setetespun.

Waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi. Hari ini aku sudah berjanji untuk bertemu dengan ana. Tidak sabar sebenernya ingin segera kerumahnya. Tapi, aku harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Sebab aku tidak ingin berbau aneh ketika bertemu dengan kekasihku. Haha.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 20 menit untuk membuat diriku tampan, aku turun untuk menemui keluargaku yang mungkin tengah sarapan bersama diruang makan. Dan benar saja, mereka tengah sarapan bersama.

'Selamat pagi pap, mah, ka'
'Pagi anak mamah, ayo nak sarapan. Kamu mau ketemu ana kan? Susunya udah diminum?'
'Maaf mah hehe, tadi gelasnya pecah. Susunya gasempat sham minum. Tadi sham mau ngambil jam, tapi malah ngejatuhin gelasnya'
'Lain kali hati-hati ya sayang. Tapi udah di beresin kan?'
'Udah ko mah. Nanti bilangin ke bibi, kalo beres-beres kamar aku hati-hati kalo bersihin tong sampahnya'

Siapa yang tidak senang ketika ingin bertemu dengan sang kekasih? Pasti senang, bahkan mungkin sangat senang.

Setelah selesai sarapan bersama, aku berpamitan, meninggalkan meja makan dan pergi menuju garasi untuk mengendarai mobilku menuju rumah ana.

Jalanan dibandung saat ini terpantau ramai dan lancar. Butuh 30 menit dari rumahku menuju rumah ana. Sedikit terhambat karena jalanan padat tetapi tidak menyebabkan macet.

Tin... Tin... Tin...

Ketika gerbang telah dibuka, yang pertama dilihat adalah mobil aan. Aan lebih cepat datang dibandingkan aku.

'Pa, maaf tolong parkirin mobilnya ya? Saya mau langsung ke ana. Hehe makasih pa'

'Semoga ana seneng ketemu aku ya' batinku.

'Ana, sham datang'

Pertama kali yang kulihat adalah 2 orang lelaki sedang saling merangkul disofa yang terletak berhadapan dengan tv diruang tamu itu. Mungkin suaraku tidak terdengar, maka dari itu mereka tidak menoleh dan tidak menyadari keberadaanku.

'Heiii'

Kucoba kagetkan mereka dan benar, mereka terkejut karena ulahku. Tapi, apa ini?

'Na, kenapa?'

Itulah pertanyaan pertama yang aku ajukan padanya. Terlihat raut wajahnya yang acak. Entah kenapa, ketika aku tanya ke Aan pun hanya gelengan yang aku dapatkan.

Aku coba memposisikan diri duduk dipinggir ana yang kosong. Dan mencoba mengambil alih pelukan yang aan berikan.

'Ana, kalo ada apa-apa kan bisa bilang ke aan atau ga ke sham? Kenapa murung kaya gini?'

Sakit hati sebenarnya. Bukan gelengan kepala yang ingin aku lihat, alasan yang jelas yang ingin aku dengar.

'An, sejak kapan ana murung?'
'Sejak tadi, dia juga gamau makan sarapannya. Diajak keliling komplek pun gamau. Diajak bercanda diem aja. Gangomel sana-sini. Gaminta apapun. Tapi ya gitu, gelengan terus jawabannya'

Kita bener-bener berada diposisi yang bimbang, kita tau sifat ana. Kalo kita gananya, dia pasti nganggep kita gaperduli. Kalo kita tanya, gaakan ada alesan pasti. What should we do?

Sudah sekitar 5 menit aku duduk disampingnya, tetapi hanya kebisuan yang ada disana. Tidak tau harus berbuat apa, tidak tau bagaimana caranya mencairkan suasana. Jika diam tidak beraksi kita tidak akan mendapat jawaban, tetapi jika beraksi kita takut perbuatan kita salah.

'Ana, mau coba cerita?'
'Aku gapapa. Kalian gausah khawatir'

Tidak usah khawatir, katanya. Sesudah mengatakan itu dia pergi meninggalkan kita, menaiki tangga dan membuka pintu yang menuju kamarnya itu.

'An, kita harus gimana?'
'Kita gabisa ngelakuin apapun sekarang. Kamu tau, ana gabisa ditebak. Jumping mood. Mungkin dia emang lagi ga mood aja'
'Kita samperin?'
'Iya kita samperin aja, takutnya dia ngelakuin yang engga-engga'

Masih ingat peraturan yang dipajang di pintunya? Siapapun kita, jangan sampe ngelanggar peraturan yang telah dia buat. Kalian tidak bisa mengkontrol dia jika kalian melanggar.

Tok... Tok... Tok...

'Ana, ini kita. Boleh masuk?'
'Engga dikunci, masuk aja'

 Boleh masuk?''Engga dikunci, masuk aja'

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(Gambar hanya ilustrasi)

Pemandangan pertama yang kita lihat. Seseorang yang kita sayang tengah duduk memeluk kakinya dengan boneka kesayangannya. Entah sedang memikirkan apa, entah sedang merasakan apa.

'Ana, mau cerita sama sham? Sham bisa jadi pendengar yang baik buat ana. Atau ga mau sama aan?'
'Ana gapapa, ana baik-baik aja. Selagi ada kalian, ana gaakan ngerasa sendirian'
'Ana gapernah sendirian, ada kita. Ada keluarga kamu. Ada banyak temen ana'
'No one. Just both of u'
'Both of us? Lalu dimana yang lainnya?' -aan

Pancingan yang tepat, siapa tau dengan itu ana akan menceritakan semuanya.

'They leave, soon or later. I hope both of u still with me until i close my eyes forever'
'What r u talkin' about?' -aan
'Don't say that ana. I'm never leave u, we'll never leave you'
'Don't tell me those bullshit. I'm never want to hear that'
'Kita engga omong kosong, jadi apa masalahnya?'

Pernyataan yang bodoh, apa yang dia pikirkan? Hanya meninggalkannya beberapa hari saja aku tidak sanggup, bagaimana bisa dia berbicara seperti itu?

'The point is everyone in ya'll life will leave soon or later'
'Katakan, siapa yang meninggalkan ana?' -aan
'Kita disini ana'
'Everyone around me. They leave me, right? I doubt they don't even care if i died. Would they even care if i took my own life?'
'Just shut up ana. I don't wanna hear those things again. Let me tell u something. I LOVE U. WE CARE ABOUT YOU. Don't say things that make me feel hurt ana, please' -aan
'Aan bener ana, ana gaboleh ngomong kaya gitu. Kenapa ana bisa mikir kaya gitu?'
'Gapapa'

Pertanyaan yang memerlukan alasan sebagai jawabannya, apakah 'gapapa' merupakan suatu alasan?

'I'll give u everything, but please tell us, what's the problem?'
'I want to end this life'
.
.
.
.
Tbc.

Just him, Only himCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang