Reader yang baik hati dan tidak sombong, satu vote dan komen dari anda bisa membuat saya sangat bahagia :)
Terimagajiiii...Jimin tersenyum saat melihat dua wanita beda usia itu sedang duduk di teras belakang. Saling ngobrol sambil diselingi canda. Bahkan si nenek tak hanya satu kali tertawa.
Nenek Park adalah satu-satunya orang yang Jimin miliki. Hanya saja neneknya memilih untuk tinggal di Busan. Meskipun tua, nenek masih ikut mengurusi bisnis keluarga. Sebenarnya Jimin juga sudah melarang. Tapi, katanya itu adalah tanda cintanya dengan mendiang kakek dan kedua orang tua Jimin.
Untuk mengurus bisnis, sudah ada cucu angkat. Jimin jadi tidak perlu khawatir, karena bahkan sampai di usia yang tua, neneknya masih tampak sehat dan awet muda.
"Kau sedang apa?" Jimin terperanjat saat Kim Ara memergokinya sedang mengintip.
"K-kau sedang apa?" Jimin malah ganti bertanya. Ara hanya menggelengkan kepalanya. Tak ingin menanggapi Jimin, dia langsung mengambil kue yang tadi sempat ia buat. Untung saja. Biasanya dengan makanan yang lezat, seseorang bisa cepat akrab.
"Nenekmu asik juga," celetuk Ara jujur. Jimin mengangkat kedua alisnya. Jimin tahu Ara tak berbohong. Terlihat sekali dari senyuman dan ekspresi gadis itu. Ara bahagia.
"Aku senang kau cepat akrab. Biasanya nenek akan sulit akrab dengan orang baru, apalagi teman wanitaku," Jimin berseloroh sambil bersandar di counter dapur.
"Umm, aku bilang kalau aku bukan temanmu,"
"Nde?" Jimin kaget.
"Aku bilang yang sebenarnya, kalau aku jadi pembantu dadakan karena kau memaksaku," jawab Ara tenang sambil menata potongan kue ke piring.
"T-tapi nenek--"
"Nenek tak masalah, kami banyak ngobrol. Aku seperti punya nenek lagi," ucap Ara yang kemudian pergi ke halaman belakang.
Jimin termangu, berpikir sejenak mencerna apa yang baru saja ia dapati. Ara terlihat cukup tenang dan tahu bagaimana mengambil hati sang nenek.
"Auw!!" Jimin sontak mengusap kepalanya. Nenek Park menjitaknya dari belakang. Jimin ada di ruang kerja, dan Ara sedang menyiapkan makan malam.
"Kenapa nenek memukul kepalaku? Kalau jadi bodoh bagaimana aku bisa mengurus perusahaan," rengek Jimin.
"Kau memang sudah bodoh, dasar!"
"Nenek aku tidak bod--"
"Bagaimana bisa kau menjadikan gadis sebaik Ara pembantu? Alasan yang terlalu kekanak-kanakan jika kau menghukumnya karena hal sepele, dan bisa-bisanya kau bilang dia adalah teman dekatmu," ucap nenek panjang lebar. Jimin menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Maafkan aku nek, hanya aku tak ingin terlalu mengecewakanmu. Terakhir kau usir wanitaku, ah maaf maksudku temanku begitu saja," Jimin mempoutkan bibirnya yang gemuk itu.
"Bagaimana aku tahan jika melihatnya seperti jalang, terus saja menempel padamu. Tak bisa memasak tak bisa melakukan pekerjaan rumah,"
"Bukankah itu bukan kriteria yang penting? Yang terpenting dia mencintaiku,"
"Yak, jika dia tak bisa mengurus rumah tangga, dia juga sudah pasti tidak bisa mengurusmu. Lagi pula dia hanya menyukai uangmu. Dasar pabo!"
Jimin bungkam. Tak tahu lagi mau bicara apa. Menyangkal nenek bukan keputusan terbaik saat ini.
"Lalu, kau sedang apa sekarang?"
"Mengecek pekerjaan, aku akan ke kantor mulai besok,"
"Letakkan itu, dan pergi ke dapur. Bantu Ara menyiapkan makan malam,"

KAMU SEDANG MEMBACA
DESIRE
FanfictionAwal pertemuan yang tak pernah diduga Dan berakhir dengan rasa ingin memiliki Jimin tak mau melepaskan Ara Meski Ara tak menyukainya, tapi hanya kepada Jimin tempatnya untuk melepas beban. -DESIRE- -Slow update- ⚠️ Rate akan meningkat sembari menyes...