5. Hilir Sungai

163 31 1
                                        

"Tunggu apa ini?"

"Mengajakmu berkuda, kita akan berkeliling di alun-alun kota."

"Tidak, aku tidak mau!"

Alice menolak, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Alice terdahulu yang jatuh dari kuda dan menjebak Alice yang sekarang disini. Namun dia sudah nyaman di tempat ini, ia tidak mau terjatuh kembali dan kembali ke dunianya yang dahulu.

"Ada aku, kau tidak perlu takut jatuh lagi."

Jeno tau, sehari sebelum dia sampai di Tedor, Alice terjatuh dari kudanya. Lelaki itu langsung mengangkat tubuh Alice untuk menaiki kudanya.

"Hei... hei.. aku tidak bilang kalau aku mau!"

Alice mengomel sepanjang perjalanan, walau benar kata Jeno kalau dia akan menjaganya, karena lelaki itu tepat dibelakangnya sekarang, mereka menaiki kuda yang sama. Tapi jantung Alice yang tidak baik-baik saja, benar-benar berdetak kencang gadis itu khawatir kalau penyakit jantungnya kembali.

Tapi Alice, ada yang harus kau ketahui. Itu bukan sakit jantung, namun jantungmu berdebar karna Jeno saat ini.

"Pernah kesini?" Suara Jeno menghentikan gerutuan Alice.

"Aku bahkan tidak mempunyai ingatan apapun tentang tempat ini."

"Ahh.. sepertinya kita harus membuat ingatan terlebih dahulu."

"Apa maksutmu?"

"Seperti membuat kenangan? Kelihatannya seperti itu."

Alice berdecak, "kurang kerjaan sekali!"

"Diam, atau aku akan menjatuhkanmu!"

Sebenarnya Jeno dalam posisi bingung apa yang dimaksut Alice yang tidak mempunyai ingatan disini. Entah Alice yang belum pernah ketempat ini, atau dia benar-benar bukan Alice. Karna Jeno sempat mengira apa yang dibicarakan Alice semalam hanya candaan.

Mereka berhenti tepat di pinggir sungai, dihiasi bunga yang bermekaran dihilir sungai tersebut. Jeno mendudukan badanya, lekaki itu mepuk ruang sebelahnya dan menghadap Alice.

"Kemari,"

"Ngapain?"

"Kubilang kemari!"

Alice berdecak, kemudian menyusul Jeno yang sudah menghadap aliran sungai itu. "Kau ini mau apa?"

"Melihat sungai," jawab Jeno tanpa menoleh ke Alice.

Wanita itu memukul kepala bagian belakang Jeno, "kau gila? Jauh-jauh kesini mau lihat ini?"

"Ya! Sakit!" Jeno mengerang kesakitan, karna memang pukulan itu cukup menyakitkan.

"Dasar tidak waras!"

"Kenapa kamu ini galak sekali!"

"Tidak tahu! Hanya saja aku ini selalu emosi saat melihatmu!"

"Salahku apa, hm? Aku heran kenapa belakangan ini kau terlihat tidak menyukaiku."

"Memang aku tidak menyukaimu,"

"Tapi dari dulu kau menyukaiku."

"Tapi sekarang tidak! Hanya orang bodoh yang selama itu menyukai seseorang tapi orang itu tidak membalasnya." Alice mendengus kesal.

"Kamu... benar-benar bukan Alice?"

"Sudah ku bilang, aku bukan Alice!" Ada sedikit penekanan di akhir kalimatnya saat Alice mengatakannya.

Diam, Jeno tidak menjawab apapun. Dia memilih diam dan menikamti suara air gemercik yang bertabrakan dengan batu.

"Lalu, mau apa kesini?"

My Prince CharmingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang