10

31 2 0
                                        

"Aku harus ikut denganmu," Jeno menggenggam tangan Alice saat gadis itu berjalan terburu-buru.

"Tidak, pergi ke kamarmu. Ibuku sedang marah sekarang, aku tidak ingin suatu hal berdampak padamu." Gadis itu melepaskan genggaman tangan sang pria.

"Tidak perlu, ibu sudah tidur. Dan kau.." Jeff menatap Jeno penuh selidik. "Kau membawa adikku kemana saja?"

"Jeff, kumohon dengarkan aku dahulu. Ayo ikut aku." Alice membawa Jeff ke kamarnya. Dan Jeno hanya memandang pergi sang wanita saat dirinya dilarang mengikutinya.

"Dengar Jeff, ini salahku. Aku yang memohon agar Jeno membawaku pergi diam - diam."

Tatapan mata Jeff sangat tegas, Alice baru melihat sisi Jeff yang seperti ini.

Jeff menghela nafasnya, ia mencoba mengatur emosinya. "Lalu, dari mana saja kau Alice? Ibu hampir jatuh tadi, beliau sangat mengkhawatirkanmu."

"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Alice menunduk, memainkan jarinya.

"Tidak mau menjawab?"

Alice hanya diam dan terus menunduk.

"Baik, aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan harap aku akan berbicara denganmu lagi."

Alice menghadang kepergian Jeff, gadis itu memeluk Jeff. "Jangan seperti itu, aku hanya ingin melihat bintang dan tidak ada yang lain selain itu."

**

Siang ini Ratu mengajak Rose menonton pertunjukan drama musical, sebenarnya hal ini sudah lama direncanakan oleh Ratu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Siang ini Ratu mengajak Rose menonton pertunjukan drama musical, sebenarnya hal ini sudah lama direncanakan oleh Ratu. Ia ingin memberi kejutan kepada calon menantunya itu.

Kursi penonton di lantai atas sengaja dikosongkan, dan hanya diisi oleh Ratu, Rose, dan beberapa pengawal yang berjarak sangat jauh.

"Suatu kehormatan, saya bisa menemani Ratu."

"Tidak usah sungkan, aku juga senang jika bisa akrab dengan calon menantuku." Ucap Bella, dan Rose hanya tersenyum canggung.

"Kau menyukai pertunjukan seperti ini Rose?"

"Sebenarnya ini pertama kali saya melihatnya,"

"Ah benarkah? Syukurlah, aku akan memberimu kejutan setelah ini selesai."

Tepuk tangan saling bersautan saat drama musical itu selesai. Jujur saja Rose tidak menikmati hal ini, karna aura Ratu disebelahnya membuat ia terintimidasi.

Rose mengikuti langkah Bella, ia pikir mereka akan langsung pulang usai pertunjukan tapi tiba-tiba Bella mengajaknya ke belakang panggung.

"Senang bertemu lagi denganmu, Sharon." Ucap sang Ratu dihadapan wanita yang baru saja mengganti bajunya.

"R-ra..Ratu?" Wanita itu gugup.

"Tolong kosongkan ruangan ini." Perintah Bella kepada penjaganya. "Kau tetap bersamaku Rose," ujarnya dengan mengengam tangan Rose.

"Aku baru tahu, kau sekarang menjadi artis musical." Jemari Bella membelai rambut Sharon, bibirnya tersenyum. "Kau dipecat dari pekerjaan lamamu?"

"Ratu, ku mohon, aku mendapatkan pekerjaan ini dengan kerja kerasku. Jangan membuatku kehilangan pekerjaanku lagi." Sharon memohon, wanita itu berlutut dihadapan sang Ratu.

"Lagi?" Bella mengangkat dagu wanita dihadapannya. "Kau pikir aku membuatmu kehilangan pekerjaan, huh?"

Sharon hanya diam, matanya bergetar menahan tangis.

"Apa anak lelaki ku, sudah tidak memberimu uang?"

Air matanya menetes, Sharon pikir dirnya sudah tidak memiliki harga diri dihadapan Ratunya.

"Lihat gadis cantik disebelahku, apa kau pikir Rose bisa dibandingkan denganmu? Tidak Sharon!" Bella semakin menekan tulang pipi Sharon.

"Kau tahu siapa dia, Sharon?" Matanya menatap remeh.

"Ibu, berhenti!"

Jeff datang, ia datang dengan keringan bercucuran dan nafasnya yang terengah - engah.

"Jeff? Apa yang kau lakukan disini?" Sang Ratu bertanya, seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.

"Justru apa yang ibu lakukan disini?" Tanyanya berapi - api, tentu saja Jeff sedang menahan emosinya.

"Aku? Tentu saja aku usai menonton drama musical, lalu apa lagi?"

"Rose, kenapa kau diam saja dari tadi? Seharusnya kau menghentikan Ibuku!"

"Diam! Kau tidak boleh membentak tunanganmu Jeff!"

"T-tunangan? Jeff?" Air mata Sharon kembali mendesak keluar, dadanya sesak. Rasanya sangat sakit mendengarnya.

Rose hanya melihat kebingungan, tentu dirinya tahu jika Jeff memiliki hubungan lain selain dengan dirinya. Tapi ia baru melihat Sharon secara langsung, dan dirinya juga baru tahu jika hubungan mereka memang serumit ini.

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan, dengarkan aku dahulu." Jeff memegang tangan Sharon.

"Lepaskan Jeff, ayo pulang. Ibu muak disini."

Lantas Jeff melepaskan genggaman tangannya, lelaki itu hanya tidak ingin ibunya berbuat lebih jauh dari yang baru saja terjadi.

Tetapi tidak dengan Sharon, gadis itu berpikir dirinya sedang dicampakkan. Jeff memilih pergi dengan Ibu dengan gadis disisinya. Dirinya menatap penuh amarah, ia menarik rambutnya frustasi.

**

"Ehm," James berdeham, setelah sekian lama mengamati Alice yang sedang berlatih memanah.

Sebenarnya James hanya ingin melihat Alice dari jauh, namun melihat gadis itu terus menggerutu karena busurnya selalu tidak tepat sasaran. Jika dilihat menang menggemaskan, bibirnya yang mengerucut dan alisnya yang menyatu. Dan akhirnya James mendekat, dirinya berniat membantu sang Putri.

"Oh.. hai," Alice tersenyum canggung.

"Lady sedang memanah?"

"Sepertinya tidak, karena tanganku tidak handal dalam memanah. Dan sekarang aku kesal."

James tersenyum, melihat Alice seperti ini sungguh momen langka menurutnya. Pipi gadis itu juga menggembung.

"Lady kesal?"

"Sudah tau kenapa tanya!"

"Emm.. mau aku ajari?"

"Kau bisa?"

"Tentu," James mengambil posisi tepat dibelakang Alice, tangannya mengarahkan jemari Alice. Tubuhnya benar - benar dekat, Alice bahkan bisa merasakan detak jantung James.

Dan jangan ditanya tentu saja jantung James berpacu dengan cepat, ia bisa mencuim aroma rambut Alice.

"Seperti ini, Lady bisa menutup salah satu mata Lady. Lalu fokuskan kepada terget yang Lady inginkan."

Alice melakukan apa yang James sarankan, dan saat melepaskannya. Busur itu meluncur tepat di tengah papan target.l

"Wah aku berhasil!" Alice bersorak senang, hingga dirinya tidak menyadari jika merka sedang berpelukan sekarang.

**

"Surat dari Ayahmu?"

Jeno menghembuskan nafasnya, kepalanya terasa berat. Apalagi sang Ayah terus menekannya. Dan sekarang dirinya diberi waktu untuk segera pulang. Jika boleh jujur, istana Denmul seperti penjara untuknya, Jeno sama sekali tidak menginginkan menjadi penerus kerajaan.

Jeno hanya mendengus, menanggapi pertanyaan Henry.

"Kenapa? Kau ragu, karna sekarang mulai tertarik dengan Alice?"

"Diam, kau hanya membuatku sakit kepala." Jeno memijat pelipisnya.

"Lalu sekarang apa Jeno? Jangan lupa untuk apa kau disini!"









Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 08, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Prince CharmingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang