kebetulan atau kesenggajaan?

22 3 0
                                        


"Woi, baru nyampe lo Bas?" Tanya Alvin, ia baru saja kembali dari memesan kopi kesukaannya

"Iya, Senja baru tidur" ucapnya, malam ini mereka berkumpul di coffee shop milik Bagas. Jam sudah menunjukkan waktu setengah dua belas malam tetapi mereka baru saja berdatangan satu persatu

"Ooh, eh si Devan mana?" Tanya nya mencari keberadaan Devan. Ia bilang sudah otw dari 45 menit lalu tapi batang hidungnya pun belum muncul

Bagas menyeruput kopinya, "bentar lagi paling" biasalahhh, ngaret

Baskara membuka jaketnya, melampirkannya ke bangku. "Ntar siapa yang turun?"

Alvin memelototkan matanya, "lah, bukannya lo? Eh, Bara kan? Bara yang turun?" Makin dibuat bingung mereka, gimanasi ni

"Emang gue? Last week kan gue" Minggu lalu Baskara sudah turun kejalanan. Balapan. Peraturan tak tertulisnya harus bergantian, walaupun sebenarnya Baskara hanya malas kali ini. Mood nya sedang baik tidak boleh dihancurkan oleh emosi saat balapan, tentu saja moodnya baik karna Senja

Memang siapa lagi yang bisa membuatnya senyum-senyum sedari duduk tadi. Siapa lagi kalau bukan Senja Biru.

"Gue gasiap ah, capek abis olahraga malem" Alvin beralasan, alah kau Alvin banyak alasannya

Bagas melemparkan sendok kearah Alvin, "olahraga malem, kaya punya cewek aja lo" kesalnya, menepis alasan Alvin. Bilang aja males Vin

"Sumpah, lo omes. Gue beneran abis lari tadi, ni liat nih" ia membuka tasnya, mengeluarkan kaus basah penuh keringat. Benar, ada bukti. Valid.

"Segerlah abis lari, masa loyo" kembali tak mau kalah, Bagas memberi alasan

Alvin tetap saja tak mau, "gak ah, capek bener deh. Lo aja lah, kali-kali"

Baskara terkekeh mendengarnya, Alvin hilang ingatan atau apa? "Lo lupa Bagas gabisa nyetir motor"

Alvin langsung teringat, menepukan tangannya kekening. Lupa, "oh iya, lo aja kemana-mana naek gojek ya" sial, dibuka lagi kartu Bagas

Bagas memang tak bisa mengendarai motor, ia hanya bisa mengendarai mobil. Tetapi ditengah kemacetan ibukota ia lebih memilih menaikki gojek atau menebeng, lebih hemat waktu

"Nah, lo aja Dev yang turun. Hukuman kata Bara, ngaret si lo" Alvin langsung menyerbu Devan yang baru saja datang. Hukuman ceunah

"Hah? Apaan?" Tanya Devan yang baru saja datang ke meja mereka, ia bahkan belum mendudukkan diri

Bagas akhirnya menyuruhnya duduk terlebih dahulu, merangkul pundak Devan dengan lembut. Semoga kali ini ia nurut, Aamiin. "Malam ini lo yang turun kata Bara, ok?" Katanya pelan seperti membujuk anak kecil

Baskara yang dijadikan tameng hanya diam saja, mengamati sandiwara mereka semua

"Apaan si, lo pada lupa gue abis digebukkin kemaren. Nih lihat ni" Devan menggulung lengan panjang flanelnya, memperlihatkan lebam di tanggannya

Enak aja, udah dibikin biru. Disuruh turun lagi. "Kdrt nih" rengeknya

"Ah, elo si Vin. Pokoknya semua salah lo" Bagas melepaskan rangkulannya kasar, sial. Habis diperlakukan lembut lalu dihempaskan begitu saja, dasar buaya

"Sakit anjing" Devan siap membalas ingin membogem kepala Bagas, sakit nih. Udah dendam dari kemarin

Bismillah, headshot. "Dev, ninggalin lo" tidak jadi, tidak jadi ia membogem Bagas tertahan oleh suara lelaki yang menghampirinya

"Oh iya lupa, kenalin nih Derren. Sepupu gue" Devan memperkenalkan lelaki berambut coklat gelap itu, matanya coklat, senyumnya manis disertai lesung pipi disana

Bas, Baskara.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang