Sang pemilik dan Rumahnya

26 4 0
                                    

Pada akhirnya ini semua
Hanyalah permulaan..
Pada akhirnya..

Lagu Nadin Hamizah mengisi ruang di caffe ini. Disertai beberapa gelak tawa di meja Senja dan Elang. Menceritakan kekonyolan mereka saat Smp

"Sekarang gimana lo, udah bisa move on belum dari gue?" Lang...Lang bapak lo nonton

"Dih, sejak kapan gue suka sama lo" telak Senja

"Eh mba, siapa dulu yang nangis pas gue pindah" Elang tak mau kalah

"Lah sok tau, gue nangis juga karna kehilangan sahabat kali" jawab Senja, matanya kini sudah tak terlalu sembab

Elang berhenti sejenak, "yaudah atuh, sekarang gimana percintaan lo? Jangan bilang lo nangis karna cinta menye-menye" tutur Elang, ia sebenarnya hanya ingin tau apa sebab Senja menangis

Hfft. Senja menarik nafas. Percintaan ya?

"Gue ketemu sosok paling berharga dalam hidup gue, Lang" Serius Senja, matanya sudah tak menatap lawan bicara. Sudah sibuk memikirkan Baskara- nya

Elang meneguk ludahnya sendiri, "Warna kehidupan gue sama dia kecampur, jadi abstrak" jelas Senja kembali

"Abstrak? Engga jelas maksud lo?" Elang tidak mengerti

"Iya, abstrak. Kelihatannya engga jelas dimata orang yang ga ngerti tapi untuk dijalanin indah" jelasnya kembali, iya seperti abstrak. Seni abstrak. Jika orang yang tak mengerti Seni akan bilang tidak jelas. Sulit dimengerti, Jika orang itu mengerti Seni akan indah, berharga dan langka

Elang menggaruk tengkuknya, bukan karna gatal ya. Melainkan karna bingung, "duh, lo sehat kan Nja? Gila.. Gila.. virus bucin segininya" gumam Elang

Perkataannya membuat ia memikirkan Baskara, ah Baskara. Kira-kira ia sadar tidak ya kalau Senja tidak ada disekitarnya saat ini?

"Nja" suara tak asing memanggilnya, suara Baskara. Itu Baskara? Baskara kini dihadapannya, Itu benar Baskara atau hanya delusi Senja semata?

Baskara menghampiri Senja begitu cepat. Mendekap erat tanpa banyak basa-basi. Menghirup dalam aroma tubuh Senjanya, "maaf" lirihnya disela pelukan hangat

Senja sontak kaget tapi tak berlangsung lama sampai ia membalas dekapan Baskara. Mencoba menemukan tempat pulang, tempat berlindung. Rasa nyamannya. "Bas" lirihnya, ia menahan jutaan bulir yang ingin jatuh.

Baskaranya telah datang. Baskaranya sadar atas keberadaan Senja, Baskaranya tau apa yang Senja lewati tanpa harus diberitahu

Baskara melepas dekapannya, menelik setiap inci wajah Senja. Memeriksa Senjanya, kacau. Matanya bengkak, bibirnya pucat, rambutnya sedikit berantakan. Benar, Senjanya sedang tidak baik-baik saja

Mata mereka bertemu, masing-masing menggambarkan kekhawatiran didalamnya

"Ehem" Dehaman Elang menghentikkan aktivitas mereka, ya kalau tidak diberhentikkan penggunjung lain akan menonton terus

Bagaimana tidak, sesosok laki-laki berseragam SMA, berpenampilan acak-acakkan ini langsung masuk dan memeluk gadis didepannya. Penampilan Baskara mampu mengacak-acakkan teteh-teteh bogor, punten teh

"Siapa?" Tanya Baskara yang tak tau ditujukkan untuk siapa

Elang menunjuk dirinya sendiri, "oh, gue Elang Wirantara" ia menjulurkan tangannya, bersemangat

"Baskara Putra" ia menyambut uluran tangan Elang singkat. Poor Elang, dia sudah cuci tangan kok

Ia kembali mengalihkan pandanganya pada Senja, lalu membuka hoddie miliknya. Memakaikan langsung kepada Senjanya, "dingin" ucapnya, telaten memakaikan hoddie

Bas, Baskara.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang