25

22.1K 4.3K 2.1K
                                        

Jennie POV

"Saya rasa, kalian pasti membutuhkan ini."

Ucap Bobby padaku dan Hanbin sambil memberikan beberapa album berisi foto-foto Haru juga kaset berisi rekaman suara dan kumpulan video yang diabadikannya dengan Jisoo semenjak Haru masih bayi.

Aku memutar kaset pemberian Bobby itu bersama Hanbin. Kami duduk memeluk lutut dengan jarak beberapa puluh sentimeter.

Lalu terputarlah sebuah video, yang mana terlihat seorang bayi laki-laki bermata begitu indah yang aku lahirkan belasan tahun lalu.

"Haru mau digendong?"

"Mau ikut bunda?"

"Mana tangannya anak pinter?"

Terdengar suara manis Jisoo yang tengah mengajak Haru bicara. Mungkin disitu, usia Haru baru beberapa bulan.

Yang artinya, baru beberapa bulan juga sejak aku dengan teganya meninggalkan anakku sendiri.

Andai aku yang ada di sana.
Andai aku yang mengajak anak manis itu berbicara.

"Horee, Haru udah bisa tengkurap~"

"Waaah anak bunda udah pinter merangkak yaa ..."

"Ayo sini kejar ayah~"

Andai aku yang di sana dan menyaksikan momen dimana untuk pertama kalinya Haru bisa tengkurap, merangkak, duduk dan berdiri.

"Am maaa maaa ..."

"Mmm anak bunda udah pinter bicara yaa sekarang ..."

Andai aku yang ada di sana dan mendengar semua ocehan menggemaskannya sewaktu masih bayi.

"Ayo berdiri, jalan lagi pelan-pelan, Haru pasti bisa!"

"Wahhh anak bunda pinter banget udah bisa jalan sepuluh langkah ..."

Andai aku yang ada di sana, andai aku yang memegang kedua tangan mungil itu untuk menuntunnya melangkah. Andai aku yang memberinya semangat untuk bangkit disaat dia terjatuh ratusan kali sewaktu belajar berjalan.

Masih ada banyak momen manis lainnya yang membuatku benar-benar merasa iri pada Bobby dan Jisoo, sekaligus menyesal. Aku yang bodoh ini, kenapa begitu tega meninggal anak manis yang terlahir dari rahimku sendiri?

Andai aku membesarkannya sendiri, andai aku mempertahankan dia untuk hidup di sisiku, pasti hidupku akan penuh warna dan kebahagiaan.

Aku menoleh ke arah Hanbin.
Yang masih menatap layar dimana video-video Haru terputar, dia larut dalam isak tangisnya.

Entah kenapa aku yakin, bahwa apa yang terlintas dalam pikirannya setelah menonton video-video Haru itu sama denganku.

Andai dia yang ada di posisi Bobby.
Andai dia yang berkesempatan untuk menyaksikan dan mengabadikan semua momen indah sejak Haru masih bayi.

"Haru, ayo bangun! Mama papa lo ada di sini. Mereka ada di sisi lo setiap hari. Ini kan yang lo mau? Ayo bangun dan liat apa yang udah lo impikan selama ini." Ucapan Jeongwoo mengalihkan atensiku,

Dia duduk bersama Junghwan di samping Haru yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Jeongwoo masih menangis sejak tadi, hari ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat Haru dari dekat.

Karena setelah satu minggu berlalu, semalam akhirnya Haru dipindahkan ke ruang vip. Dia masih belum sadarkan diri juga walau telah melalui masa kritis dan kondisinya telah stabil.

Dear Mom || Watanabe Haruto✔[Sudah Terbit]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang