bagian 6

6 0 0
                                        

"Dia pasti jadi tokoh favorit karena dia ini tokoh utama nya."

now playing : love in the dark -Adele

🌙🌙🌙

Pagi yang sangat sejuk. Pagi yang indah untuk memulai hari. Karena ini hari Sabtu aku jadi bisa banyak bersantai dirumah sambil membaca novel dan menonton film sebenarnya aku pengin sih berjalan santai keluar tapi aku terlalu malas untuk keluar sendirian dan berjalan seperti orang tidak jelas. Tapi terlalu sayang kalau di pagi yang cerah kaya gini aku cuma berdiam diri di kamar. Akhirnya aku melawan kemalasanku dan berjalan ke arah taman perumahan ku. Sesampai nya di taman aku memilih duduk di kursi taman dan kembali membuka buku novel ku. Tapi saat itu aku melihat sosok yang gak asing di mata ku. Rey,kok bisa ada Rey disini. Ku lihat Rey sedang membantu seorang nenek menyebrangi jalan. Tanpa ku sadari aku tersenyum saat itu,melihat kebaikan Rey dan betapa sopan nya Rey kepada sang nenek itu. Tanpa berfikir panjang aku langsung menghampiri Rey dan menyapa nya.

"Rey!" Rey menoleh dan langsung tersenyum melihat ku. Aku pun tersenyum melihat nya. Kebingunganku kenapa dia ada di sini pun menghilang begitu saja. Apa jangan jangan dia ini tetangga ku?

"Kok kamu disini Esya?" Rey mengernyitkan dahi nya sambil menunjukku. Loh kok dia malah nanya itu ke aku. Kan justru harus nya aku yang nanya ke dia,kok bisa dia ada di sini.

"Kamu lupa ini daerah rumahku? kan kamu pernah nganterin aku sampai rumah." Rey menepuk kening nya pelan sembari meringis. Dasar Rey aneh.

"Kok aku bisa lupa ya?" Aku mengangkat kedua pundak ku acuh dan berbalik,aku berniat untuk meninggalkan Rey dan kembali duduk di bangku taman. Belum sempat berjalan pergelangan tanganku sudah dicekal oleh Rey.

"Kamu mau kemana?"

"Mau duduk di sana" Aku menunjuk bangku tempat aku duduk tadi. Rey tidak menghiraukan nya dia malah berjalan sambil terus menggenggam pegelangan tanganku.

"Loh kamu mau bawa aku kemana?"

"Sarapan." Kok dia tahu aku belum sarapan. Apa jangan-jangan Rey mendengar bunyi cacing-cacing di perutku yang kelaparan ya.

Rey membawa ku ke tukang bubur pinggir jalan,tukang bubur itu langgananku sejak dulu. Tapi sudah hampir sebulan aku tidak makan bubur ini karena selama sekolah aku selalu sarapan masakan mama dirumah.

"Rey ini kan tukang bubur langganan aku! bubur nya enak banget loh." Kataku dengan girang. Rey menopang dagu dengan tangan kanan nya sembari tersenyum menatap ku.

"Iya aku tahu" katanya dengan lembut sembari mengacak-acak rambut ku. Ia memasang wajah gemas nya.

"Kamu kalau lagi girang kaya anak kecil!"

"Iya aku udah ada lah sebulanan ga makan bubur ini,terus kamu ajak kesini,ya girang lah aku!" Rey geleng-geleng sembari terkekeh melihatku yang girang karena hanya dibawa ke tukang bubur. Aneh sekali aku waktu itu benar-benar segirang itu. Entah karena makan bubur itu lagi setelah sebulan lama nya atau karena aku bisa menikmati bubur itu bersama Rey.

"Terus mau girang sampai kapan? ga mesen-mesen nih?" Aku sampai lupa untuk memesan bubur nya karena kegirangan saat itu.

"Mas Cahyo! Resya mau bubur nya ya satu—" belum sempat selesai memesan,omongan Esya dipotong oleh Rey "Gak pakai daun bawang." Nah loh Rey tau dari mana Esya tidak suka pakai daun bawang saat makan bubur. Apa jangan jangan Rey ini anak mas Cahyo?

"Neng Resya kemana aja udah jarang makan bubur mas Cahyo?"

"Iya mas soalnya kalau sekolah mama selalu masak,jadi nya makan masakan mama." Kataku kepada mas Cahyo. Aku kembali memerhatikan Rey dan sebenarnya aku masih penasaran Rey ini tuh siapa. Esya jadi curiga kalau Rey ini tetangga nya atau mata-mata. Ah nggak mungkin lagian dia siapa sih sampai di mata-mata in.

"Anyways,kok kamu bisa tahu aku gak suka pakai daun bawang?" Rey menautkan kedua alis nya dan menatap mas Cahyo yang sedang meracik bubur.

"Tadi di bisikkin sama mas Cahyo. Iya kan mas?" Mas Cahyo hanya tertawa menanggapi pertanyaan Rey. Ini Rey serius nanya ke mas Cahyo atau emang dia tahu sih? benar-benar bikin penasaran.

Mas Cahyo menghidangkan dua mangkuk bubur di hadapan Esya dan Rey. Esya yang sudah lama tidak memakan bubur kesukaan nya itu langsung mengambil sendok dan membaca doa.

"Selamat makan Esya" Aku tersenyum mendengar ucapan Selamat Makan yang Rey lontarkan saat ia sedang sibuk mengaduk bubur nya.

🌙🌙🌙

Setelah makan bubur bersama, Rey sempat mengajak ku jalan jalan mengelilingi komplek. Menikmati udara pagi hari yang sejuk dan menyegarkan. Kalau aku punya mesin waktu aku pasti akan sering datang ke masa dimana Rey masih mengisi hari-hari ku. Hari dimana semua terasa indah dan mudah.
Banyak orang yang bertanya dan bingung,apa sih yang membuat Rey seistimewa itu untukku. Lalu dengan sederhananya aku menjawab,ya karena itu 'dia'. Sampai detik ini dia masih dan akan selalu istimewa. Kekecewaan yang ia ciptakan,luka yang ia ukir,itu semua akan kalah dengan setitik memori indah tentang dia. Sejahat apapun dia,dia pasti akan jadi tokoh favorit,karena dia ini tokoh utamanya.

"Gimana buburnya? enaknya masih sama kan?" Jujur kalau aku ngga gengsian aku akan jawab rasanya jauh lebih enak karena makan nya sama kamu Rey.

"Ya sama dong kan yang buat masih mas Cahyo. Tapi kalau kamu yang bikin,baru beda!" jawabku sembari cekikikan. Ia tersenyum tipis lalu jalan ia berjalan di didepanku sambil menatapku alias dia berjalan mundur.

"Harusnya beda loh rasanya esya. Soalnya kamu makan nya sama aku,harusnya lebih enak."

Aku menghela nafas berat. Dia seperti seolah-olah bisa mendengar isi hatiku.

"Kenapa jalan nya gitu sih? nanti kalau jatuh aku nggak mau tanggung jawab ya!" Ujarku padanya namun ia hanya terkekeh dan kembali berjalan dengan normal.

"Kalau jalan nya kaya gini aku nggak bisa lihat muka kamu,esya." Ujar Rey sambil terus menatapku. Jantung aku udah berdebar kencang saat itu, dia bisa berhenti merhatiin aku kaya gitu nggak sih. Kan jadi salah tingkah.
Aku terkekeh karena Rey terus menatapku sembari jalan seperti ini.

"Aku harus bayar berapa untuk lihat kamu ketawa terus kaya gini Esya?" Aku terdiam kaku mendengar pertanyaan nya.

"Kalau ketawa terus nanti gigi aku kering!" balasku sembari cekikikan Rey tersenyum melihatku.

 Sampai didepan rumah Rey menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu. Baru saja aku mau mengintip Rey dari jendela,tapi ia sudah menghilang begitu saja. Jujur memutuskan untuk menulis kisah tetang Rey membuatku meningat banyaknya kenangan indah bersama Rey saat itu. Menulis ini membuatku kembali mengingat senang,pedih,luka,dan kecewa yang kurasakan saat itu. Mengingatnya membuatku senang,tapi sangat sakit.

Esya merebahkan tubuhnya di kasur berukuran sedang miliknya. Ia mengingat harinya bersama Rey tadi. Hingga tanpa ia sadari senyuman telah tercetak di bibir nya. iya,Rey begitu engubah hidupku saat itu. Membuatku merasakan hal-hal yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Rey selalu berbeda,ia memiliki cara yang berbeda untuk membuatku tersenyum,merasa tenang,dan aman bersamanya. Aku malu kalau saja Rey membaca ini.

Bersambung...


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 24, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

kisah tentang reyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang