Unconditionally~1

2.2K 213 109
                                        

Unconditionally
By in_stories

•••••


Pengeboman di Gereja Kathedral Makasar serta serangan di Mabes Polri masih menjadi berita utama yang hangat diperbincangkan pada berbagai kanal berita. Penangkapan-penangkapan para terduga teroris di berbagai daerah juga tak luput disorot dan membuat para aparat keamanan negara bersiaga.

Laily diam menyimak sembari menyantap camilan keripik singkong dengan posisi berbaring nyaman di permukaan permadani tebal dan selimut yang menutup hingga dada. Berbanding terbalik dengan sang suami yang sibuk memainkan game online sebagai cara mengusir kejenuhan.

"Kenapa teroris identik dengan agama kita? Padahal, Islam nggak kayak gitu, lho?" Laily mempertanyakan sembari mendongakkan wajah.

"Karena teroris nggak pernah ada yang pakek tanktop sama bikini."

"Serius nanya, Mas!" Laily mencubit paha Ali hingga pria itu mengaduh.

"Jawabanku nggak salah, lho!" Ali meletakkan gawai pada sofa yang menjadi sandaran. Atensi mata pria itu kini sama seriusnya ke layar televisi. "Emang selama ini ada teroris yang ngebom sambil pakek tanktop doang? Kan, enggak. Emang selama ini ada teroris yang cuma pakek kolor? Kan, enggak. Rata-rata pakek cadar, pakek baju item, jenggotnya panjang dan itu pasti langsung mengarahnya ke agama kita." Ali mengambil alih keripik dan memakan sendiri. "Memang, kebanyakan teoris yang selama ini muncul agamanya islam, tapi mereka ini sama sekali nggak menunjukkan rupa islam yang sebenernya. Mereka justru menjatuhkan agama sendiri."

"Kenapa mereka bisa gitu?"

"Mereka gitu karena salah dalam memahami ajaran agama."

"Berarti mereka-mereka yang lakuin bom bunuh diri itu mati konyol dong, Mas?"

"Lagian sejak kapan agama kita bilang kalo bunuh diri itu berpahala?"

Laily mengembuskan napas. "Yang salah itu orangnya, tapi yang dicap jelek agama kita. Padahal, di luar negeri sana banyak juga teroris yang bukan dari agama kita. Tapi, tetep aja image itu melekatnya di Islam," ucapnya, lirih. "Dampaknya nggak ke situ doang, sih. Orang baik-baik yang sering ikut pengajian, rajin ke masjid, dicurigai teroris. Cewek yang pakek jilbab gede, pakek cadar, juga dicurigai jadi teroris. Kenapa, ya, orang kadang mikirnya sependek itu?" Laily menggeleng sambil berdecak prihatin.

"Kalau yang cuma ngebom dan bikin teror aja udah dianggap teroris, berarti tentara-tentara Zionis itu lebih-lebih dari sekadar teroris, ya, Mas?" Laily berpendapat.

Ali mengangguk-angguk. "Bisa dikatakan begitu."

"Mereka bukan cuma ngebom, mereka sering banget secara sadar ngebunuh anak-anak. Dan mereka itu sering banget ngebunuh anak yang hafal Quran. Hati nuraninya mereka itu di mana?" Mata Laily terpejam. Ikut merasakan pedih karena terbayang penderitaan penduduk terutama anak-anak Palestina yang harus hidup di tengah peperangan tak kunjung usai. Menjadi korban dari kekejaman Zionis.

"Mungkin waktu tidur pun, penduduk Palestina nggak bisa ngerasain tenang. Tiap hari, tiap jam, bahkan tiap detik kayak diintai sama maut," ucap Laily lagi.

"Orang-orang Palestina insyaallah mati syahid, Sayang. Mereka nggak mati sia-sia karena memperjuangkan agama dan tanah air." Ali mengusap kepala Laily. "Tau, kenapa zionis sering banget bunuh anak Palestin yang hafal Quran?"

Laily memberi gelengan.

"Pasukan Zionis takut sama para penghafal Al-Quran karena tahu kalo pasukan elite Izzudin Al-Qasam yang jadi sayap militer Hamas itu para penghafal Al-Quran. Pihak elite ini kalau mau rekrut pasukan nggak sembarangan. Syaratnya, mereka harus hafal Quran 30 juz dan nggak sekali pun ninggalin salat fardhu terutama salat subuh berjamaah. Mereka, para penghafal ini, jadi pasukan yang paling bisa diandelin buat lawan Israel. Mereka juga pinter strategi," Ali memaparkan. "Orang-orang Yahudi ini punya pemikiran gini tentang anak Palestina, 'Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Al-Quran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?'"

UnconditionallyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang