Unconditionally~3

1.5K 194 54
                                        

Unconditionally
By In_stories

•••••


Ali menuruni sepeda motor. Dilepaskannya seluruh atribut keselamatan berkendara mulai dari sarung tangan hingga jaket sebelum mengayun kaki memasuki kedai kopi milik kawan SMP-nya itu.

Sebenarnya, Ali tidak pernah ada agenda khusus untuk jadwal nongkrong bersama. Namun, bila dua kawannya telah berencana, maka Ali akan selalu mengusahakan datang dengan catatan tidak ada keperluan penting yang harus didahulukan. Itu pun, bila Ali mendapat izin dari istrinya. Sebab, statusnya kini yang bukan lagi seorang lajang, membuat Ali harus mendahulukan kepentingan keluarga dibanding hanya mengobrol atau mengumbar tawa bersama teman-temannya. Beruntungnya, Laily selalu memberinya fleksibilitas dalam bergaul selagi hal itu tidak membuatnya abai pada tugas dan kewajiban sebagaimana seorang suami.

Menapaki lantai dua kedai kopi, semilir angin yang bertiup langsung menerpa kulit wajahnya. Senja yang melambai-lambai di ujung horizon, menuangkan kesan tenang pada area yang yang seluruhnya berdinding kaca bening setinggi satu meter tersebut. Tanaman rambat Lee Kwan Yew yang menggantung vertikal mengitari bangunan, juga tak kalah memberi kesan sejuk nan asri dan membuat tempat tersebut semakin terasa nyaman untuk dibuat destinasi ngopi.

Suasana lantai dua hampir sama dengan yang dia temui di lantai satu. Hampir semua meja terduduki oleh pengunjung. Suara-suara obrolan yang menyatu dengan semilir angin dan bising kendaraan dari jalan raya pun, seolah sedikitpun tak menganggu atas kenyamanan masing-masing.

"Sori lama." Ali menyalami Ferdi, satu dari dua teman karibnya sejak SMP. "Tadi, ada acara kecil-kecilan di kantor. Ultah temen. Nggak enak kalo gue tinggal aja." Ali menarik sebuah kursi, meletakkan ransel, lalu mendudukinya.

"Santai aja." Ferdi mengibaskan tangan. "Gue juga belom lama di sini."

"Owner kedainya mana? Kirain dia udah di sini dari tadi!"

"Balik ke rumah bentar katanya." Ferdi menyesap cafe latte-nya. "Ngambil undangan."

Ali tertawa sambil membalas pesan Laily. "Akhirnya mantep juga tu bocah."

"Anjir!" Ferdi terbahak.

"Kapan lu nyusul, Fer?" Ali menyesap espresso macchiato yang baru saja sampai. "Udah mau 33, lho."

"Lu ada kandidat, nggak? Boleh lah kenalin ke gue." Ferdi menaik-turunkan alisnya.

Ali tertawa penuh makna. "Skill player lu udah nggak mempan, ya?"

"Sialan!" Ferdi tertawa kecut. "Mana emak gue udah nanyain calon mulu lagi."

"Emang lu mau yang gimana?" Ali bertanya. "Gina yang cantik dan pinter aja masih nggak cukup buat lu."

Ferdi mengembuskan napas kasar. "Gue sebenernya nggak matok yang muluk-muluk. Makin tambah umur gue makin sadar kalo yang gue butuhin sosok dewasa yang bisa diajak kerjasama. Emak gue selalu pesen, 'Cari perempuan itu yang bisa menghormati dan menghargai kamu' Dan sama Gina gue nggak dapetin itu," tuturnya. "Dia selalu ngerasa lebih tinggi dari gue. Ego cowok rentan, Cok!"

Ali tertawa-tawa sambil mengangguk paham. "Walaupun harta dan pendidikan wanita lebih tinggi dari suami, surga dia itu tetep di suami. Kacau kalo rumah tangga sampe dipimpin istri, Fer." Ali melahap lupis pesanannya. "Makannya, dari dulu gue selalu nyari cewek yang bisa menghargai dan menghormati gue meskipun harta atau pendidikan dia di atas gue. Alhamdulillah gue dikasih Laily yang dari segi starta sama."

Ferdi mengangguk-angguk dengan senyum senang. "Hukum nikah sendiri gimana, sih, Li?"

"Tergantung keadaan," jawab Ali. "Kalo secara fisik maupun finansial mampu dan dia sulit ngehindarin zina, maka hukumnya wajib. Kalo dia udah mampu, tapi bisa tahan sama segala perbuatan zina, hukumnya jadi sunnah. Kalo dia mau nikah cuma buat penuhin syahwatnya dan nggak ada tujuan buat bina rumah tangga sesuai syariat, tapi dia juga nggak dikhawatirkan bakal nelantarin istri, maka hukumnya jadi mubah. Kalo dia nggak menginginkan pernikahan dan dia juga nggak punya kemampuan buat nafkahi istri sama keluarganya, hukumnya makruh. Kalo dia mau nikah, tapi dengan niat mau nyakitin istri, hukumnya jadi haram," jelas Ali.

UnconditionallyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang