Jeffrey dan Lisa, adalah couple goals yang paling diidolakan di kampusnya.
Namun, suatu hari terdengar kabar kalau mereka berdua telah putus. Entah apa alasan dibalik putusnya Jeffrey dan Lisa. Tapi satu hal yang pasti, setelah keduanya tak bersama...
"Kamu tidak bisa memutuskan hubungan kita secara sepihak! Ketika kita ada, karena keinginan bersama, bukan karena keinginan dari salah satu pihak!"
—Jeffrey
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Permisi...,
"Maaf, ga sengaja!
"Maaf, aku buru-buru."
Bruk..bruukk..bruuukkk...
Jeffrey terus melangkahkan kakinya dengan cepat, menuju gedung fakultas seni yang terletak bersebrangan dengan gedung fakultasnya.
Jeffrey terus menggumamkan kata maaf ketika ia tak sengaja menabrak atau menyenggol mahasiswa lain, yang jalannya berlawanan arah dengannya.
Maklum saja, saat ini kelas mereka telah usai, dan tentunya banyak mahasiswa berbondong-bondong keluar menuju arah parkiran berada, atau ingin beristirahat sejenak di kantin, sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Selain berjalan dengan terburu-buru, Jeffrey juga memperhatikan sekitar, siapa tau seseorang yang ia cari tengah berjalan keluar dari gedung fakultasnya bersama mahasiswa yang lain. Tentunya, setelah ia memastikan di tempat parkiran kalau orang yang ia cari itu masih belum pulang, karena motornya masih terparkir rapi di sana.
Jeffrey tampak tak memperdulikan orang-orang yang menyapanya dengan ramah. Karena kini fokusnya hanya untuk satu orang. Yaitu Lalisa. Kekasihnya.
Kekasih? Ya, kalian tidak salah membaca. Karena Jeffrey masih tidak menerima keputusan sepihak dari Lisa. Ia masih menganggap, bahwa mereka masih menjadi sepasang kekasih, yang saling memiliki.
Mereka berpacaran karena keinginan bersama. Dan kalau pun mereka ingin berpisah, seharusnya itu juga keputusan yang sudah mereka sepakati bersama juga.
Bayangkan saja, siapa orang yang terima kalau dia diputuskan oleh kekasihnya, begitu saja, dengan alasan yang sama sekali tidak bisa diterima.
Tentu saja, siapa yang akan terima?
Begitu pula yang tengah dirasakan oleh Jeffrey. Sedih, marah, kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu. Apalagi, semenjak kejadian satu minggu yang lalu, saat Lisa memutuskan hubungan mereka secara sepihak, Lisa seolah bak ditelan bumi.
Tentu saja, hal tersebut membuat seorang Jeffrey menjadi uring-uringan sendiri. Bayangkan saja, yang dahulunya mereka sering bertukar kabar, selalu bertemu, saling menyayangi, saling mengasihi. Dan kini, tiba-tiba mereka seolah berjarak dengan dihalangi oleh tembok pembatas, yang sulit untuk Jeffrey tembus.
Jeffrey hanya rindu dengan Lisa nya, Jeffrey hanya rindu dengan tingkah manja kekasihnya, dan Jeffrey sangat ingin melihat dan memastikan kabar Lisa secara langsung, bahwa ia baik-baik saja, setelah kejadian minggu lalu.