7

1.8K 138 10
                                        

Tw!! Suicide, selfharm!







Haechan berlari menghampiri Jaemin dan Herin.

"Loh kak Herin? Ini kenapa? Kok kalian bisa. -"

"Plis sekarang bantu aku bawa Jaemin dulu, nanti aku ceritain semuanya. " Sahut Herin dengan cepat.

Tanpa pikir panjang, Haechan segera menggendong tubuh Jaemin dan masuk kedalam mobilnya. Mereka segera membawa Jaemin kerumah sakit.















***

Kini Jaemin berada di UGD, Haechan dan Herin tengah menunggu Jaemin dengan perasaan yang cemas.

"Gimana ceritanya Jaemin bisa sama lo kak? " Tanya Haechan.

"Kamu udah tau soal temen semasa kecil Jaemin? "

"Cewe itu? Itu beneran lo kak? " Herin mengangguk. "Gue ga ngerti lagi si kenapa bisa Jaemin ga nyadar kalo itu lo. " Lanjut Haechan.

"Karena aku selalu menghindar dari Jaemin. "

"Kenapa kak? "

"Aku takut Chan, aku ngerasa bersalah karena udah ninggalin Jaemin waktu itu. "

"Ya gimana ya, gue gatau juga si gimana, terus itu tadi kok bisa lo disana sama Jaemin. "

"Aku ketemu Jaemin di pinggir danau, dan dia nangis. "

"Nangis? "

"Iya, dan aku nemu ini di saku Jaemin waktu aku cari hp Jaemin tadi. " Ucap Herin sembari meberikan botol kapsul tersebut pada Haechan.

"Bentar, ini gue keep dulu, nanti biar gue tanya ke ayah gue ini obat apa. "

Tak lama pintu UGD terbuka menampilkan Johnny yang notabene nya sebagai dokter dan juga ayah Haechan.

"Jaemin gimana yah? " Tanya Haechan.

"Dia temen kamu? " Haechan mengangguk.

"Dia gapapa kok, cuma kecapean aja. " Jawab Johnny.

"Yah, ini obat apa? Ini punya Jaemin. " Haechan memberikan obat tersebut pada ayahnya.

Johnny membelalak setelah mengetahui obat yang Haechan berikan padanya. "Jaemin yang minum obat ini? "

"Tadi aku yang nemu disaku Jaemin dok. " Sahut Herin.

"Nanti ayah periksa Jaemin lebih lanjut ya, ini orang tua Jaemin ga ada yang dateng? "

Herin dan Haechan saling menatap, ia tak tahu mengapa orang tua Jaemin tak kunjung datang, padahal tadi Herin sudah menghubungi orang tua Jaemin.

"Yasudah, kalian masuk aja, Jaemin masih belum sadar, tapi kondisinya sudah membaik. Ayah pergi dulu ya Chan. " Ucap Johnny sebelum beranjak dari tempatnya.













***

Haechan dan Herin mengambil tempat disebelah ranjang Jaemin, keduanya menatap Jaemin lirih. Ada apa dengan Jaemin? Pikir Haechan, karena selama ini yang ia tau adalah Jaemin yang ceria, dan nakal, bukan Jaemin yang seperti ini.

Jaemin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia melihat Haechan dan Herin yang duduk disebelah ranjangnya.

"Kenapa gue bisa disini? " Tanya Jaemin.

"Harusnya gue ga si yang tanya kaya gitu, lo kenapa Jaem?" Tanya Haechan.

"Gapapa gue. "

"Jaem." Panggil Herin pada Jaemin.

"Iya kenapa Rin? "

"Tadi aku nemu obat di saku kamu, itu obat apa? "

"Ha obat? Sekarang dimana? "

"Lo gausah sok kaget gitu, ga bagus akting lo, jawab aja itu obat apa? " Sahut Haechan.

"Bukan apa-apa. "

"Yang tadi nanganin lo tuh ayah gue, dan sekarang obat lo juga di ayah gue, jadi mau lo kasih tau atau ga, kita juga bakal tau itu obat apa. "

"Jawab Jaem. " Ucap Herin.

"Antidepresan."

"Fuck Jaemin, lo minum itu buat apa? " Kesal Haechan.

"Buat nenangin diri gue Chan. "

"Lo selama ini ga pernah cerita ke gue ataupun Jeno tentang masalah lo, dan sekarang tiba-tiba gue tau kalo lo minum obat kaya gitu. "

"Gue minum sesuai takeran kok, gue cuma minum kalo pikiran gue lagi kacau, dan itu juga gue dapetin dari dokter kok. "

"Gue ga peduli lo dapetin obat itu darimana, tapi obat itu ga baik buat lo Jaem."

"Kamu selalu minum obat itu waktu kamu lagi kacau? " Tanya Herin, dan Jaemin mengangguk.

Herin menarik tangan Jaemin dengan lembut, mengusap telapak tangannya perlahan. "Kamu harus kurangin minum obat itu ya, sekarang disini ada aku, Haechan dan juga Jeno yang siap dengerin dan bantu kamu. "

Pandangan Haechan tertuju pada lengan Jaemin. Dengan cepat ia menarik tangan Jaemin dari genggaman Herin. "Jaem, jangan bilang ini lo suicide? " Tanya Haechan dan Jaemin hanya terdiam.

"Karena lo diem, gue anggep jawaban lo iya. Ini udah ga bener, ada yang salah sama lo, biar gue panggil ayah gue. "

"Ga usah Chan, gue gapapa, ini udah luka dulu kok. "

"Lo diem aja. "

Haechan segera berlari keluar dari ruangan Jaemin, dan tak lama kembali dengan ayah nya.

"Kalian keluar dulu, biar ayah periksa Jaemin dulu. "

















***

Setelah menunggu cukup lama, Johnny kembali keluar dari ruangan Jaemin.

"Gimana yah? " Tanya Haechan.

"Jaemin mengidap OCD. Pikiran berlebihan atau obsesi yang menyebabkan perilaku repetitif kompulsi. Gangguan obsesif-kompulsif ditandai dengan pikiran tak masuk akal dan ketakutan atau bsesi yang menyebabkan perilaku kompulsif. "

"Hah? Ga mungkin yah, Jaemin disekolah juga baik-baik aja. "

"Ga ada yang tau masalah seseorang, Haechan. Beberapa orang memang pintar dalam menyembunyikan lukanya, mungkin Jaemin salah satunya. Tolong bujuk dia supaya sembuh dari OCD nya ya. "

"Pasti yah. "















***

Herin dan Haechan kembali masuk keruangan Jaemin. Disana terlihat Jaemin yang duduk bersandar di kepala ranjang.

Herin mendekat kearah Jaemin. "Jaemin." Jaemin menoleh saat namanya dipanggil.

"Everything will be ok. Tenang aja ya. " Lanjut Herin.

"Jangan ngerasa sendirian, gue ada disini Jaemin. " Ucap Haechan.

"Gue ga pernah kepikiran kalo gue bakal kena OCD, ternyata gue salah. "

"Jaem, gapapa kok, kamu bisa sembuh asal kamu mau. " Sahut Herin.

"Herin."

"Iya Jaem? "

"Bantu gue buat sembuh. "



























Tbc.

Maaf lama ga update, masih ada yang nunggu ga ya? Atau udah lupa sama ceritanya, jujur banget aku ngerasa kaya makin ga nyambung 😭😭😭

Maaf ya kalo kurang menarik, makasih juga buat vote dan komennya. ☺💚





Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 17, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Broken-JaeminTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang