Chapter 2

54 10 0
                                        

BAGIAN KEDUA | NGGAK SOPAN! |


Selamat Membaca🌻
..............................................


Pintu rumah itu terbuka menampakkan seorang gadis yang berbalut seragam SMA dengan tas berwarna biru muda yang berada dibahunya.

     "Assalamualaikum," salam gadis itu kepada para penghuni rumah.

     "Waalaikumsalam."

Gadis itu celingukan mencari sumber suara tersebut, melihat diruang tamu tidak ada seorang pun. Ia berjalan masuk menuju dapur minimalis, terlihat sosok wanita paruh baya dengan celemek yang ditubuhnya.

Dia adalah Wati, tidak lain adalah nenek sang gadis. Kelihatannya nenek itu tengah mempersiapkan banyak sekali jenis makanan, tentunya dibantu oleh seorang asisten rumah tangga.

     "Masak banyak amat, Nek. Ada acara apa emang?"

     Wati menoleh, "Teman nenek waktu kecil mau datang. Jadi ya sekalian kita makan malam bersama. Mending kamu mandi sana."

     "Yaudah aku ke kamar dulu."

Arsha menaiki tangga menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Sebuah pintu berwarna putih dengan sebuah gantungan bertuliskan namanya terpampang jelas dihadapannya.

Ia memutar kenop pintunya lalu masuk. Kamarnya sama dengan kamar cewek pada umumnya, hanya saja dikamarnya didominasi oleh warna biru muda dan ornamen-ornamen langit.

Arsha merebahkan tubuhnya diatas kasur, badannya terasa pegal semua. Ia butuh mandi!

Drtt drtt...

Nama 'Alvaro❣️' muncul diponselnya, segera ia menyelesaikan ritual ganti bajunya.

     "Hai..." sapa Arsha ketika panggilan itu terhubung.

     "Hai, lama banget angkatnya, lagi apa emang?"

     "Habis mandi aku tuh. Kenapa telfon, kangen ya?"

     "Ohh.. dih PD sekali anda siapa juga yang mau ngangenin lo."

     "Dih sok-sok an. Najis banget hahaha. Lo apa kabar hm?"

     "Baik kok, cuman lagi pusing aja dikit."

     "Kenapa?"

     "Selingkuhan gue yang lain pada kagak akur. Pusing gue ngadepinnya."

Alvaro terkikik geli melihat raut wajah sebal Arsha, ia sangat suka, terlihat menggemaskan dimatanya.

     "Sok ganteng amat lo," ucap Arsha ketus.

     "Dih emang gue ganteng. Kalau enggak mana mau lo sama gue, iya kan?"

     "Dengar ya tuan Alvaro yang terganteng. Gak semua cewek menilai cowok dari penampilannya aja, dengan perhatian dan kasih sayang juga cukup. Muka ganteng mah ibarat bonus gitu."

     "Dih sok bijak lo. Iya deh iya."

Tok tok tok

Arsha menoleh kearah pintu kamarnya yang diketuk dari luar.

     "Bentar ya, Var."

Gadis dengan pakaian rumahan itu berjalan mendekati pintu.

     "Ada apa, Nek?" tanya Arsha ketika bertemu dengan neneknya didepan pintu.

     "Kamu siap-siap gih, habis magrib teman nenek mau datang."

     "Oke, Nek."

Arsha kembali masuk kedalam kamarnya setelah sang nenek pergi. Ia melihat handphone nya, telfonnya belum ditutup.

     "Varo, udah dulu ya, aku mau siap-siap. Temannya nenek mau datang."

     "Yah padahal aku masih kangen sama kamu," ucap Varo dengan muka bete.

     "Makanya cepetan pulang. Dah ah mau siap-siap dulu. Bye sayang."

     "Tunggu bentar lagi ya? Janji deh bakalan cepat pulang. Bye juga sayang, love you."

     "Love you too."

•••

Setelah melaksanakan sholat magrib dan berganti pakaian, Arsha lekas turun kebawah untuk menemui neneknya. Ia terlihat manis dengan chiffon dress berwarna putih dengan motif bunga dan dedaunan. Rambutnya ia biarkan terurai dengan make up tipis yang menghias wajahnya.

     "Temannya belum datang, Nek?" tanyanya kepada Wati yang tengah menata makanan diatas meja.

     Wanita paruh baya itu melirik kearah jam dinding rumahnya, "Mungkin sebentar lagi. Kamu sekarang bikin minuman ya."

Arsha mulai meracik minuman sesuai dengan perintah sang nenek. Saat didapur ia mendengar bunyi klakson didepan rumahnya. Mungkin teman neneknya sudah datang, ia harus segera menyelesaikan tugasnya.

Setelah semua selesai, ia membawa nampan yang berisi minuman tersebut ke ruang tamu.

     "Suci kenalkan dia cucuku, Arsha."

Arsha tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk sapaan. Ia menyajikan minuman tersebut keatas meja dengan telaten.

     "Ternyata cucumu sudah besar ya sekarang, dulu perasaan masih kecil waktu terakhir kali aku berkunjung."

Memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Hal itu lah yang menyebabkan Wati terlihat antusias saat mendengar kabar bahwa sahabatnya akan berkunjung.

Arsha duduk disebelah kakeknya dan membiarkan neneknya melepas rindu dengan sang sahabat.

Rasanya pertemuan ini sangatlah singkat. Baru jam 8 malam tapi Suci sudah berpamitan, ia baru saja mendengar kabar bahwa menantunya yang paling muda akan segera melahirkan.

Ia menolak saat nenek menyuruh supir mengantarkannya dan berkata bahwa sebentar lagi cucunya akan datang menjemput.

Suara klakson kembali terdengar, Nenek menyuruh Arsha mengantar Suci sampai kedepan pintu.

     "Ayo nek kita pulang," ucap seseorang dengan helm yang masih dikenakan. Sepertinya dia adalah cucu Nek Suci, pikir Arsha.

     "Cool sih, tapi nggak sopan. Helm aja lupa dilepas apalagi utang pasti lupa dibayar," batin Arsha.

     "Nggak ada sopan-sopannya! Helm kamu kenapa nggak dilepas? Yaudah Arsha, nenek pulang dulu ya," tutur Nek Suci lembut seraya mengusap kepala Arsha.

     Arsha tersenyum dan mengangguk, "Hati-hati dijalan ya, Nek."

Nenek Suci bersama cucunya telah memasuki sebuah mobil. Arsha melambaikan tangannya saat melihat mobil itu mulai meninggalkan rumahnya.

     "Arka... ingat satu hal, gadis itu tipe nenek. Kalau besok nenek ingin kamu menikah, kamu harus nikah sama dia ya."







TBC.

ARSHAKA [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang