Semarang, 20 Februari 1963
Aku menginjakkan kakiku pertama kali di kota Semarang. Kota yang sangat estetik dan indah. Aku melihat ke sekelilingku banyak becak dan kendaraan umum jadul. Haha aku baru tahu keadaan Semarang tahun 1963. Mas Pierre mengenakan celana hitam dan kaos putih dengan kacamata hitam. Ia menggandeng tanganku sambil berjalan.
"Dari sini kita naik kendaraan umum. Kamu mau?" Tanyanya.
"Tentu aku mau" jawabku antusias.
Mas Pierre menyetop kendaraan yang akupun tidak tahu namanya. Semacam mobil namun kami naik dari belakang.
Kami duduk di mobil itu, Mas Pierre memberi tahu tujuan kami ke sopir itu. Sebetulnya, kami di fasilitasi mobil untuk pergi ke semarang.Namun Mas Pierre menolaknya dikarenakan ia jarang sekali naik kendaraan umum hehe. Apalagi ia ingin sekali aku mengenali kotanya.
"Disini ya mas" kata sopir mobil itu. Mas Pierre memberikan sejumlah uang kami pun turun.
"Rumahku masuk ke dalam gang. Sedikit lagi kita sampai" katanya sambil tetap meraih tanganku untuk dituntun.
Kami berjalan memasuki gang besar. Beberapa orang di gang itu menyapa Mas Pierre dan aku dengan hangat. Tinggi kami sangat kontras. Bagaimana tidak, tinggi badanku hanya sebahu Mas Pierre. Lucu sekali.
Kami berhenti di sebuah rumah ber cat putih dan berpagar putih. Rumahnya tampak sederhana dan bersih. Di depan rumah tersebut ada plang bertuliskan
"DOKTER A L TENDEAN". Apa ayah atau ibu Mas Pierre adalah seorang dokter ?"Mas, aku malu" kataku.
Pierre mengusap pipiku.
"Orangtuaku,kakak dan adikku sangat hangat. Yuk" katanya sambil meraih tanganku dan menarikku untuk ikut dengannya ke depan pintu.
Tok..tok..tok
Mas Pierre mengetuk pintu rumahnya.
Seseorang membuka pintu. Terlihat seorang ibu paruh baya berwajah bule keluar dan memeluk Mas Pierre.
"Pierre.. Puji Tuhan Nak. Kau pulang" kata ibu itu.
"Mama apa kabar?" Tanya Mas Pierre pada ibu itu.
Ternyata itu adalah ibu dari Mas Pierre, Bu Maria.
"Baik sayang. Dengan siapa kamu pulang?" Tanya Bu Maria merujuk padaku.
"Kenalkan ma, dia teman dekatku. Namanya Rachel" Jelas Mas Pierre.
"Salam kenal ibu" kataku ramah sambil menyalaminya.
Bu maria tersenyum ramah dan memelukku.
Aku terdiam..
"Anak yang manis" ucapnya.
Mas Pierre tersenyum senang.
"Mari masuk pasti kalian butuh istirahat" kata Bu Maria dengan hangat.
Kami masuk ke rumah Mas Pierre. Rumahnya sederhana namun sangat bersih dan rapi.
"Ma, papah,kakak dan adik kemana?" Tanya Mas Pierre sambil melihat ke sekeliling mencari ayah kakak dan adiknya.
"Papamu ada tugas ke Yogyakarta. Kakakmu belum pulang sekolah. Begitu juga dengan adikmu." Jawab Bu maria sambil menyiapkan teh.
Pierre duduk di sampingku sambil melepas sepatunya.
"Maaf rumahku seperti ini" katanya.
"Aku nyaman" jawabku.
Bu maria datang menghampiri kami dengan nampan berisi kue dan 2 gelas teh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lelaki itu..Pierre
Historical FictionSeorang gadis yang gemar melukis bernama Rachel. Belakangan ini, Ia sering melukis seorang lelaki yang diketahui bernama Pierre Andries Tendean. Siapa Pierre? Entah. Wajahnya selalu terbayang dalam pikirannya selalu datang dalam mimpinya. Berminggu...