Disini Haechan sekarang. Di depan lobi rumah sakit. Mengantar kepergian Mark dan Jeno yang harus kembali ke Korea hari ini. Ditemani sang ayah ia sibuk menghibur bayi besar yang terus merengek tak ingin pulang. Wibawa Mark sebagai siswa tercerdas menguap seketika hilang digantikan sikap manjanya yang terus menggelayuti lengan kurus Haechan. Dari Johnny, Haechan, Jeno hingga lalu lalang staf rumah sakit juga pengunjung tertawa melihat tingkah Mark. Kesal juga lama-lama, pemuda manis itu mendorong kepala Mark menjauh dari bahunya. Ditepis, dijengkangkan namun nihil karena Mark itu keras kepala aslinya. Sampai Jeno harus turun tangan menarik kerah hodie bagian belakang milik Mark. Mana yang kakak mana yang adik. Ohh ingatkan mereka hanya terpaut 7 bulan dan berada di umur yang sama.
"Ahh... Jeno!!" Rengek pemuda tampan setengah Kanada itu.
"Jaga sikapmu. Kau terlihat menggelikan." Ucap Jeno mengejek.
"Diam kau. Kau tidak tahu rasanya berpisah dengan kekasih!"
Jeno memutar bola matanya malas. "Ingat siapa yang merebut kekasihku dulu? Memangnya Haechan kekasihmu? Aku jadi ragu kalau paman Johnny mau menerima orang menjijikkan sepertimu menjadi menantu."
Johnny dan Haechan kompak tergelak. Mark hampir saja melayangkan tinjuannya pada Jeno jika saja pemuda manis berkulit kecoklatan itu tidak menghentikannya.
"Mark!!" Haechan menarik lengan Mark. "Malu!! Banyak orang memperhatikanmu."
Dan ajaibnya seketika wajah garang Mark berubah menjadi wajah puppy anak anjing yang minta dibelai majikannya. Membuat Lee Jeno lagi-lagi mendengus kesal melihat tingkah kakak tirinya.
"Salahkan Jeno yang mengejekku terus!!! Aku kan hanya ingin menemanimu saat operasi nanti. Apa benar aku tidak boleh tinggal satu sampai dua hari lagi?" Pinta Mark.
"Kita cuti hanya sampai hari ini Mark 'Bodoh' Lee!!" Ucap Jeno memperingatkan yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari si empunya nama.
"Tidak Mark." Haechan menarik tangan Mark meletakkannya diatas pangkuan. Ia masih harus berada di kursi roda kalau kalian ingin tahu. Dokter membatasi seluruh aktivitas pemuda manis itu.
"Kau sebentar lagi ujian. Aku tidak ingin nilaimu turun karena kau membolos. Dan kau membolos karena aku, jadi kalau nilaimu turun itu penyebabnya adalah aku. Jika nilaimu turun dan masa depanmu suram, aku tidak akan pulang ke Korea." Lanjut Haechan mengancam.
Alis camar Mark mengerut. Bibirnya mengerucut hendak memprotes ancaman Haechan. "Mana bisa seperti itu?!"
"Tentu saja bisa. Aku ini Lee Haechan, ayahku selalu mencukupi semua kebutuhanku. Lalu kalau masa depanmu saja suram, bagaimana kau mau menghidupiku Mark? Ayahku tidak menerima sembarang menantu kau tahu?." Haechan berbisik diakhir kalimatnya. Mark melirik Johnny yang justru tersenyum padanya.
"Ahh.. Baiklah." Mark bangkit dengan canggung. Setelah ini beban Mark Lee menjadi lebih berat untuknya. Menjadi kaya adalah tujuan berikutnya. "Aku akan pulang dengan Jeno. Aku akan lulus ujian dengan nilai tertinggi. Aku akan masuk perguruan tinggi paling bagus terserah nanti kau ingin aku masuk universitas yang mana. Aku harus menjadi kaya setelah itu aku akan membantu paman Johnny untuk menghidupimu. Hahaha." Tawa Mark terdengar garing. Bahkan Jeno yang bahunya ditepuk-tepuk keras pun hanya diam tak menanggapi kewarasan Mark yang masuk batas limit.
"Sampaikan salamku pada Renjun. Bilang kalau aku merindukannya. Juga Jaemin."
Mendengar nama terakhir disebut air muka Mark dan Jeno berubah. Mark melirik adik tirinya. Mata sipit itu seketika sayu. Alis tegasnya mengendur mendengar nama Jaemin meluncur bebas dari bibir Haechan seolah tak tahu apapun. Walau nyatanya Haechan memang tak tahu apapun.

KAMU SEDANG MEMBACA
Be Love💕 (markhyuck x markchan)
FanfictionDisaat rasa dipaksa menguap oleh realita dan Realita yang memaksanya untuk memendam rasa... "Kurasa sia-sia, karena nyatanya hadirkupun tak dapat menggeser sedikit kuasanya dihatimu" Haechan "Kau berani pergi begitu saja? Setelah mengacaukan hatiku...