Tangan kecil itu nampak sibuk. Dengan terampil menyalin kata per kata di atas buku miliknya. Semburat oranye menembus jendela, meneranginya. Suasana di ruangan itu sudah sepi beberapa menit yang lalu. Hanya tersisa dua sosok manis yang duduk saling berhadapan. Haechan masih fokus menyalin catatan milik Renjun, ditemani oleh si empunya buku. Ada beberapa materi yang sempat tertinggal karena ia sakit beberapa waktu lalu. Renjun bersikeras menunggunya, walau Haechan sudah mengatakan jika ia tak apa ditinggal sendiri.
30 menit berlalu, dan dua anak remaja itu belum berniat meninggalkan tempatnya, padahal sebentar lagi petang menjemput. Jam dinding di atas papan tulis sudah menunjukkan pukul 5 sore. Renjun mengetukkan pensil pada dagunya. Pekerjaan rumah yang sengaja ia kerjakan sambil menunggu sudah selesai. Jadi dia merasa sedikit bosan disana.
"Belum selesai?" Tanya Renjun. Ia melirik hasil salinan Haechan.
"Setengah halaman lagi. Sebentar ya." Jawab Haechan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku."Eum.. tak apa lanjutkan aku akan menunggu."
Hening untuk beberapa saat. Hingga Renjun kembali memulai pertanyaannya.
"Kekasihmu tumben tidak menjemput?"
Haechan mendongak sebentar ke arah Renjun, lalu melanjutkan acara menulisnya. "Kekasih?"
"Jeno."
Haechan menutup bukunya. Selesai. Secara otomatis kedua remaja itu mulai merapikan peralatan sekolah mereka ke dalam tas.
"Tidak."
"Tumben?"
"Aku melarangnya."
Renjun menghentikan aktivitasnya. Menatap sosok di hadapannya dengan alis tertaut. "Kenapa?"
"Tidak ingin."
"Haechan-ah. Sebenarnya aku merasa aneh." Remaja manis bermarga Huang itu menopang dagunya. "Bagaimana bisa kau dan Jeno menjadi kekasih? Setahuku kalian tak pernah dekat."
"Kau merasa aneh? Aku juga."
Mereka mulai beranjak. Masih tetap dengan obrolan itu.
"Kau menyukainya tidak?" Renjun mencecar Haechan.
"Tidak juga."
"Kau ini-...." Ucapan Renjun terhenti bersamaan dengan langkahnya. Diikuti Haechan.
Sosok tinggi dengan wajah dingin berdiri di ambang pintu. Menghalangi akses keluar dua remaja itu. Matanya mendelik, menatap tajam ke arah Haechan.
"... Na Jaemin." Renjun menyapa, tak melanjutkan ucapannya tadi.
"Kau senang?" Pertanyaan singkat yang sarat akan nada dingin terdengar meluncur dari belah bibir pemuda tinggi itu. Dua remaja lain dihadapannya kompak menautkan alis. Tak mengerti dengan maksud dari pertanyaan yang tiba-tiba diterimanya.
"Senang kenapa?" Renjun bertanya balik, mewakili Haechan yang masih setia terdiam. Dua belah bibirnya terkatup rapat.
"Lelah menggoda kakaknya? Sekarang kau menggoda adiknya?" Tatapan itu lama kelamaan terlihat semakin remeh.
"Menggoda apanya? Siapa yang menggoda?""Bisa kau diam sebentar Renjun-ssi. Aku berbicara dengan temanmu ini, bukan kau!" Sarkas Jaemin.
Haechan menghela nafas. Sebelah tangannya menyentuh pundak Renjun. "Pergilah dulu, aku akan menyusul." Tidak bodoh juga, Renjun pun juga mengerti jika dua orang teman sekelasnya ini ingin berbicara empat mata. Tanpa dirinya tentu saja. Sesegera mungkin Renjun melangkah keluar kelas, meninggalkan mereka berdua. Namun, langkahnya terhenti diujung tangga, tak ingin meninggalkan Haechan lebih jauh. Toh jika terjadi sesuatu dia bisa segera kembali kesana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Be Love💕 (markhyuck x markchan)
FanfictionDisaat rasa dipaksa menguap oleh realita dan Realita yang memaksanya untuk memendam rasa... "Kurasa sia-sia, karena nyatanya hadirkupun tak dapat menggeser sedikit kuasanya dihatimu" Haechan "Kau berani pergi begitu saja? Setelah mengacaukan hatiku...