Pagi ini, akhirnya aku bisa membuka perbanku. Dengan berjingkat-jingkat, aku melewati pintu kamar tanpa membuat keributan. Karena koran harus sudah dicetak sebelum seisi asrama terbangun. Berita harus sudah siap diedarkan sebelum bel masuk berbunyi. Aku menuruni tangga sembari membetulkan letak dasi. Pintu ruang jurnalistik sudah terbuka. Kukira, ada orang selain Ryan, tetapi nyatanya Ryan hanya sendirian disitu.
Pagi itu, Ryan memainkan salah satu lagu Echo & The Bunnymen; Show of Strength. Entah tengah menyindir sesuai dengan rubrik utama koran minggu ini atau karena Heaven Up Here memang album yang menyenangkan untuk didengarkan pagi-pagi begini.
Mesin cetak itu terus mencetak tulisan dan gambar yang sama, tapi aku terus mengamati dua baris tulisan di kiri atas cetakan tersebut. Mataku mencoba memastikan bahwa nama penulis yang kupalsukan itu tetap sama, dan tidak ada satu pun yang mencetak nama Aris Pratama sebagai penulisnya.
"Sudah selesai semuanya? Ayo kita edarkan. Kelihatannya, seisi asrama sudah bangun." Ryan mengangkat tumpukan koran dan menyampirkan blazer ke bahunya. Aku mengikuti, kewalahan membawa tumpukan koran bagianku. Lorong sekolah sudah dipenuhi dengan siswa-siswa yang berlalu-lalang, berlari-larian, bahkan duduk-duduk di depan kelas dan menyulitkan kami berjalan.
Ryan dengan santai membagi-bagikan koran ke tangan siapa saja yang menadah, sementara Show of Strength masih bermain di iPod nya dan membuatnya terlihat seperti radio berjalan.
"Show of strength, is all you want
You can never set it down
Guts and passion
Those things that you can't even set down
Don't ever set down, won't ever set down"
Aku, sebaliknya, dengan canggung mengedarkan koran kepada siapa saja sambil berharap tidak tersandung anak-anak yang duduk di koridor dan menjatuhkan kertas-kertas ini. Setelah memberikan koran, aku membuang muka dengan segera, menghindari percakapan tentang rubrik utama di halaman depan dengan pembaca-pembaca kami.
"HAHAHAHA! Boleh juga isunya!" Seru seorang siswa kelas 3 yang bersandar di pintu masuk kelas. Langkahku terhenti. Ryan juga. Dia menengok sejenak dan menganggukan kepala tanda terimakasih pada siswa kelas 3 yang barusan memuji headline koran kami itu.
"Wah apaan ini!? Maskulinitas!?" Dan siswa-siswa lain dengan riuh berkumpul dengan satu sama lain dan melemparkan komentar yang bermacam-macam tentang artikel utama koran. "Siapa ini penulisnya? Sejak kapan di sekolah kita ada anak cewek?"
Protes seorang siswa kelas 2 itu membuat koridor mendadak hening. Para siswa kembali mengecek nama penulis artikelnya; Arisa Putri. Suara siul-siul terdengar di seisi lorong. Mereka menebak-nebak siapa Arisa Putri yang menulis tajuk opini tentang maskulinitas dan ajang pamer kekuatan di sekolah seolah ia benar-benar mengamatinya sendiri.
Aku berjalan menjauh sambil bersiul-siul. Ryan baru saja menyerahkan cetakan terakhirnya pada Pak Karno yang keluar dari ruangannya sambil membawa secangkir kopi. "Kerja bagus." Pujinya. Tapi kemudian, beliau menyemburkan kopinya begitu membaca headline berita.
Kami melangkah makin jauh. Aku tahu ini topik yang akan membuat penulisnya jadi bulan-bulanan, apabila ia anak sekolah ini. Tapi, begitu publik tahu kalau penulisnya seorang cewek misterius bernama Putri, mereka cuma berpikir ia kontributor dari sekolah lain atau apalah. Tidak ada yang terlalu menganggap serius. Identitas penulisnya hanya dua baris kalimat di kanan atas halaman yang tidak terlalu sering diperhatikan.
Tapi, ada kejadian aneh siangnya. Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendapati kerumunan di depan majalah dinding sebelum jam istirahat pertama. Ivan dan Sal juga ada disitu, keduanya melongo sambil berdiri agak jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Here Comes the News
Ficțiune adolescențiMenjadi yang paling sempurna di lingkungan yang tidak sempurna adalah suatu ketidaksempurnaan. Rasanya, aku ingin lari dari kenyataan Bantu aku untuk DO dari sekolah neraka ini.
